Beranda Palembang Kafilah MTQ Sumsel Berangkat ke Semarang, Target Lima Besar Jadi Ujian Konsistensi

Kafilah MTQ Sumsel Berangkat ke Semarang, Target Lima Besar Jadi Ujian Konsistensi

8
0
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru saat melepas kafilah MTQ Sumsel menuju MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah, dari Griya Agung Palembang. (foto: Poerba/ccimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru melepas kafilah MTQ Sumsel yang akan berlaga pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pelepasan berlangsung di Griya Agung, Palembang, Kamis (10/9/2026). Sebanyak 95 orang diberangkatkan, terdiri atas 56 peserta, 12 pelatih, dan 27 pendamping. Mereka membawa target mempertahankan posisi Sumsel di jajaran lima besar nasional.

Bukan Sekadar Keberangkatan, Ada Target yang Harus Dipertahankan

Bagi Sumsel, keberangkatan ke Semarang bukan sekadar agenda rutin mengikuti kompetisi keagamaan nasional. Ada capaian yang menjadi tolok ukur sekaligus tekanan tersendiri: mempertahankan prestasi lima besar yang diraih pada MTQ Nasional XXX di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 2024.

Data Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumsel mencatat, pada MTQ Nasional 2024 Sumsel berada di posisi kelima dengan 125 poin. Raihan itu berasal dari tiga medali emas, tiga perak, dan satu perunggu, ditambah dua juara harapan pertama serta empat juara harapan ketiga

Capaian tersebut bukan hasil yang berdiri sendiri. Dokumen perencanaan Pemprov Sumsel mencatat posisi Sumsel dalam ajang MTQ/STQH nasional berada di peringkat kesembilan pada 2021, kedelapan pada 2022, ketiga pada 2023, kemudian kelima pada 2024.

Artinya, tantangan kafilah tahun ini bukan hanya mengejar kemenangan, tetapi menjaga konsistensi setelah beberapa tahun terakhir Sumsel mampu berada di kelompok atas nasional.

Herman Deru Tekankan Mental, Stamina dan Kekompakan

Dalam pelepasan di Griya Agung, Herman Deru meminta seluruh anggota kafilah tampil maksimal dan menjaga nama baik Sumsel selama mengikuti MTQ Nasional XXXI.

Ia menekankan bahwa persiapan menghadapi kompetisi tingkat nasional tidak hanya menyangkut kemampuan teknis peserta. Kekompakan, stamina dan mental juga menjadi faktor penting ketika para qari, qariah, hafiz dan hafizah berhadapan dengan peserta terbaik dari seluruh Indonesia.

Menurut Herman Deru, kehidupan keagamaan merupakan salah satu kekuatan sosial Sumsel. Karena itu, prestasi dalam bidang keagamaan dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga identitas Sumsel sebagai daerah yang religius.

Baca juga  📰 Wali Kota Palembang Ratu Dewa Bagikan Takjil Ramadan di Tangga Takat, Ratusan Warga Antusias

Pemerintah daerah sebelumnya juga telah menempatkan MTQ sebagai bagian dari pembinaan keagamaan. Saat membuka MTQ XXXI tingkat Provinsi Sumsel di Kabupaten Lahat pada Juni 2026, Herman Deru menyebut ajang tersebut sebagai sarana menjaring peserta terbaik untuk dibawa ke tingkat nasional.

Dari Seleksi Daerah ke Panggung Nasional

Proses menuju Semarang dimulai dari kompetisi tingkat provinsi. MTQ XXXI Sumsel digelar di Kabupaten Lahat dengan melibatkan kafilah dari 17 kabupaten dan kota.

Herman Deru saat itu meminta dewan hakim menjalankan penilaian secara adil karena hasil MTQ tingkat provinsi menjadi salah satu penentu siapa yang akan menjadi wakil Sumsel pada MTQ nasional. Ia juga menekankan pentingnya kekuatan mental dan kepercayaan diri peserta.

Dengan demikian, 56 peserta yang kini dibawa ke Semarang merupakan hasil dari proses seleksi di tingkat daerah. Jumlah tersebut menjadi inti kekuatan kompetitif Sumsel, sementara 12 pelatih dan 27 pendamping memiliki fungsi penting dalam menjaga kesiapan peserta selama kompetisi.

Rekam Jejak 2024 Menjadi Patokan

Pada MTQ Nasional XXX tahun 2024 di Samarinda, Sumsel mengumpulkan 125 poin dan menempati peringkat kelima. Kafilah Sumsel saat itu mengirim 54 peserta dan berhasil membawa pulang tiga emas, tiga perak serta satu perunggu.

Beberapa cabang yang menyumbangkan medali antara lain Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an putra, Murottal Dewasa Putra dan Musabaqah Fahmil Qur’an putri untuk medali emas. Medali perak berasal dari Murottal Putri, Canet Putri dan Fahmil Qur’an Putra, sedangkan perunggu diraih pada cabang Hifzil Qur’an 30 Juz Putri.

Capaian tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sumsel. Pada Desember 2024, Pemprov Sumsel menyerahkan bonus dengan nilai simbolis Rp1,025 miliar kepada 13 kafilah pemenang

Baca juga  Polda Sumsel Pimpin Aksi Bersih-Bersih di Museum SMB II, Tindak Lanjuti Arahan Presiden pada Rakornas 2026

Data tersebut menunjukkan bahwa prestasi MTQ telah menjadi agenda pembinaan yang mendapatkan dukungan kelembagaan dan anggaran, bukan sekadar kompetisi tahunan.

MTQ Nasional XXXI Digelar di Semarang

MTQ Nasional XXXI 2026 akan berlangsung di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kementerian Agama mencatat penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI dijadwalkan berlangsung pada September 2026, sementara rangkaian utama di Semarang dipersiapkan pada 11–20 September

Persiapan penyelenggaraan telah dilakukan jauh sebelum peserta daerah diberangkatkan. Pemerintah dan Kementerian Agama Jawa Tengah sebelumnya mematangkan berbagai aspek penyelenggaraan, termasuk konsep kawasan kegiatan dan dukungan lintas lembaga.

Konteks tersebut penting karena MTQ nasional bukan hanya menjadi panggung kompetisi antarkafilah. Bagi daerah tuan rumah, kegiatan ini juga dikaitkan dengan syiar Al-Qur’an sekaligus peluang memberikan dampak terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif.

Tantangan Sumsel Bukan Hanya Mengejar Medali

Jika melihat tren empat tahun terakhir, posisi Sumsel menunjukkan performa yang relatif kuat. Setelah berada di peringkat sembilan pada 2021 dan kedelapan pada 2022, Sumsel sempat mencapai peringkat ketiga pada 2023 sebelum berada di posisi kelima pada 2024.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa Sumsel memiliki basis pembinaan yang mampu menghasilkan peserta kompetitif. Namun, mempertahankan posisi lima besar membutuhkan konsistensi lintas cabang, terutama karena selisih poin antardaerah sangat dipengaruhi hasil peserta di masing-masing kategori.

Tantangan lainnya adalah memastikan pembinaan tidak berhenti setelah kompetisi selesai. Regenerasi qari, qariah, hafiz dan hafizah perlu berlangsung berkelanjutan agar prestasi tidak bergantung pada sejumlah nama yang muncul dalam satu periode.

Dalam konteks itu, MTQ tingkat provinsi memiliki posisi strategis. Kompetisi daerah bukan hanya menentukan pemenang, tetapi menjadi mekanisme pencarian talenta yang nantinya membawa reputasi Sumsel di panggung nasional.

Micro Insight: Ukuran Keberhasilan Tidak Berhenti di Peringkat

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Sumsel menuju MTQ Nasional 2026. Target lima besar memang menjadi indikator yang mudah diukur, tetapi nilai strategis MTQ sebenarnya lebih panjang daripada daftar peringkat.

Baca juga  Investigasi CimutNews: Benarkah DA Club 41 Tak Miliki SLF? Ini Fakta Lengkap Berdasarkan Klarifikasi Resmi

Prestasi nasional dapat menjadi titik ukur apakah proses pembinaan di tingkat daerah benar-benar menghasilkan talenta baru. Karena itu, hasil di Semarang nantinya penting bukan hanya untuk menentukan posisi Sumsel, tetapi juga menjadi evaluasi terhadap sistem pembinaan yang dibangun pemerintah daerah, LPTQ dan Kementerian Agama.

Jika Sumsel kembali masuk lima besar, capaian tersebut akan memperkuat tren positif beberapa tahun terakhir. Sebaliknya, jika terjadi penurunan, hasil tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat cabang mana yang membutuhkan penguatan dan bagaimana pola pembinaan perlu diperbaiki.

95 Orang Membawa Nama Sumsel ke Semarang

Dengan 56 peserta, 12 pelatih dan 27 pendamping, total 95 orang kini menjadi bagian dari kontingen Sumsel menuju MTQ Nasional XXXI. Pemerintah daerah berharap seluruh unsur kafilah menjaga kekompakan dan memberikan kemampuan terbaik selama kompetisi.

Bagi Sumsel, Semarang menjadi lebih dari sekadar tempat perlombaan. Panggung MTQ Nasional XXXI akan menjadi ujian berikutnya untuk melihat apakah prestasi lima besar yang dicapai pada 2024 mampu dipertahankan sekaligus menjadi pijakan menuju capaian yang lebih tinggi.

Hasil akhirnya akan ditentukan di arena kompetisi. Namun satu hal sudah jelas: perjalanan menuju lima besar tidak dimulai di Semarang, melainkan dari proses pembinaan, seleksi dan konsistensi yang berlangsung di Sumatera Selatan. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here