
BANYUASIN, cimutnews.co.id — Kawasan pertanian modern di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mulai memasuki tahap persiapan lebih konkret setelah pemerintah pusat dan daerah menyatukan sejumlah elemen pendukung produksi pertanian dalam satu ekosistem.
Pembahasan itu dilakukan Kepala BBPKH Cinagara Kementerian Pertanian RI, Inneke Kusumawaty, bersama Bupati Banyuasin Askolani di kediaman pribadi Bupati di Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Kamis (17/9/2026). Salah satu fokusnya adalah pengembangan kawasan pertanian modern di Muara Telang yang diproyeksikan mengintegrasikan sarana produksi, alat mesin pertanian, peternakan, hingga kelembagaan koperasi.
Muara Telang Disiapkan Menjadi Ekosistem Pertanian Modern
Konsep yang dibicarakan bukan sekadar membangun fasilitas pertanian secara terpisah. Pemerintah mengarahkannya menjadi sebuah kawasan yang menghubungkan kebutuhan petani dari tahap produksi hingga dukungan usaha.
Dalam desain yang dipaparkan, kawasan tersebut akan dilengkapi SPBU Pertanian, bengkel alat dan mesin pertanian (alsintan), serta usaha ayam petelur sebanyak 1.200 ekor yang tersebar pada tiga kelompok wanita tani di dua desa.
Seluruh komponen tersebut dirancang terhubung melalui koperasi sebagai salah satu penggerak kelembagaan ekonomi kawasan. Dengan pola itu, petani diharapkan tidak harus mencari sendiri berbagai kebutuhan produksi dari tempat yang berbeda.
Konsep tersebut sejalan dengan pembahasan Kementerian Pertanian beberapa hari sebelumnya. Kementan menyebut Muara Telang tengah didorong menjadi kawasan pertanian modern berbasis Indonesian Millennial for Modern Agriculture Corporation (IMMACo) dengan pendekatan teknologi, kelembagaan ekonomi petani dan pengelolaan usaha tani terintegrasi.
Bukan Sekadar Modernisasi Mesin
Modernisasi pertanian sering kali dipahami sebatas penggunaan mesin. Namun, rancangan di Muara Telang memperlihatkan pendekatan yang lebih luas: teknologi perlu ditopang ketersediaan bahan bakar, layanan perbaikan, kelembagaan, pembiayaan, pasar dan sumber daya manusia.
Sebelumnya, Kementan juga menyampaikan bahwa sekitar 1.000 hektare lahan di Muara Telang disiapkan untuk pengembangan kawasan pertanian modern dengan pendekatan Pertanian Modern–Advanced Agriculture System atau PM-AAS. Pengembangannya diarahkan dari hulu sampai hilir, termasuk penguatan koperasi dan investasi.
Di sisi lain, Pemkab Banyuasin pada 12 September 2026 menyebut kawasan percontohan IMMACo di Muara Telang memiliki cakupan sekitar 22 ribu hektare. Angka tersebut merupakan cakupan kawasan yang lebih luas, sehingga perlu dibedakan dari target pengembangan awal 1.000 hektare. (
Ada Kendala Lahan untuk SPBU Pertanian
Di tengah persiapan tersebut, pemerintah masih menghadapi persoalan tata ruang dan status lahan.
Kepala SMK PPN Sembawa, Budi Santoso, menyampaikan bahwa lahan yang direncanakan untuk SPBU Pertanian berada pada area Lahan Baku Sawah (LBS) dan jalur hijau. Karena itu, diperlukan proses administratif lebih lanjut dengan instansi pertanahan.
Permintaan yang disampaikan adalah dukungan pemerintah daerah untuk mengajukan surat permohonan terkait pelepasan LBS kepada ATR/BPN. Persoalan ini menjadi penting karena pembangunan fasilitas penunjang pertanian tetap harus berjalan sesuai ketentuan tata ruang dan status lahan.
Bupati Banyuasin kemudian menginstruksikan Dinas Pertanian, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan dan instansi terkait untuk segera melakukan rapat bersama tim Kementerian Pertanian guna menyelesaikan hambatan tersebut.
Menteri Pertanian Dijadwalkan Hadir, Presiden Direncanakan Meresmikan
Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan agenda kunjungan Menteri Pertanian ke lokasi Kawasan Pertanian Modern Merah Putih sebelum kawasan tersebut direncanakan diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada November mendatang.
Karena agenda tersebut masih merupakan rencana yang disampaikan dalam pertemuan, pelaksanaan akhirnya tetap bergantung pada jadwal dan keputusan resmi pemerintah.
Setelah pembahasan di Talang Kelapa, jajaran Pemerintah Kabupaten Banyuasin bersama tim Kementerian Pertanian kemudian melakukan survei langsung ke lokasi kawasan pertanian modern di Muara Telang.
Langkah survei ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan telah bergerak dari pembahasan konseptual menuju pengecekan kondisi lapangan dan identifikasi kebutuhan pembangunan.
YESS-SI 2027 Ikut Menguatkan Regenerasi Petani
Pengembangan kawasan pertanian modern Banyuasin juga dikaitkan dengan program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services Scaling-Up Intervention (YESS-SI) yang direncanakan berjalan pada 2027.
Dalam persiapan program tersebut, Pemkab Banyuasin diminta menyiapkan District Coordination Team (DCT) yang umumnya berada di Bappeda serta District Implementation Team (DIT) yang ditempatkan pada Dinas Pertanian.
Program YESS sendiri merupakan kolaborasi Kementerian Pertanian dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas, kewirausahaan dan kesempatan kerja generasi muda di sektor pertanian.
Untuk Sumatera Selatan, YESS-SI dan kawasan pertanian modern disebut akan dikembangkan di Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.
Dengan demikian, modernisasi pertanian di Banyuasin tidak hanya menyasar teknologi dan sarana produksi, tetapi juga persoalan regenerasi pelaku usaha tani.
Askolani: Petani Jangan Bergantung pada Banyak Penyedia
Bupati Banyuasin Askolani menyambut pengembangan kawasan tersebut. Menurut dia, model pertanian terintegrasi merupakan konsep yang selama ini diharapkannya karena petani menghadapi keterbatasan akses terhadap berbagai kebutuhan produksi.
“Saya benar-benar menginginkan seperti ini, grand design sebuah kawasan yang terintegrasi sehingga petani akan mudah mencari alsintan, pupuk tersedia, perlu BBM sudah tersedia.”
Menurut Askolani, keberadaan kelembagaan petani dan koperasi menjadi bagian penting agar kebutuhan petani tidak berdiri sendiri-sendiri.
Pernyataan tersebut memperlihatkan persoalan yang hendak dijawab melalui kawasan pertanian modern: bukan hanya bagaimana meningkatkan hasil panen, tetapi bagaimana memperkuat posisi petani dalam rantai usaha pertanian.
Tantangan Berikutnya Bukan Lagi Sekadar Produksi
Kawasan pertanian modern akan memiliki dampak lebih luas apabila integrasi yang dirancang benar-benar berjalan. Ketersediaan alsintan, bahan bakar dan bengkel dapat mengurangi hambatan operasional, sementara koperasi dapat menjadi simpul pengadaan dan pengelolaan usaha petani.
Namun, integrasi tersebut membutuhkan tata kelola yang konsisten. Persoalan LBS pada rencana lokasi SPBU menunjukkan bahwa pembangunan ekosistem pertanian tidak hanya menyangkut sektor pertanian, tetapi juga tata ruang, infrastruktur, transportasi, pertanahan dan kelembagaan ekonomi.
Dalam jangka panjang, keberhasilan kawasan juga akan sangat bergantung pada kemampuan koperasi dan kelompok tani mengelola fasilitas secara berkelanjutan. Jika fasilitas tersedia tetapi kelembagaan dan model bisnisnya lemah, modernisasi berisiko berhenti pada pembangunan infrastruktur.
Koperasi Menjadi Titik Kunci
Ada satu hal penting dari desain kawasan Muara Telang: koperasi ditempatkan sebagai penghubung berbagai fasilitas.
Artinya, ukuran keberhasilan kawasan nantinya tidak cukup dilihat dari berapa banyak mesin atau fasilitas yang dibangun. Indikator yang lebih penting adalah apakah petani benar-benar mendapatkan akses yang lebih mudah, biaya produksi lebih efisien, layanan lebih cepat dan posisi tawar yang lebih kuat ketika membeli sarana produksi maupun menjual hasil panen.
Pendekatan ini menjadi relevan karena pemerintah sebelumnya juga menekankan penguatan kelembagaan koperasi dalam pengembangan kawasan pertanian modern Banyuasin.
Pengembangan Muara Telang Berjalan Bersamaan dengan Optimalisasi Lahan
Pengembangan kawasan modern juga berlangsung bersamaan dengan upaya optimalisasi lahan dan percepatan tanam.
BRMP Sumatera Selatan pada September 2026 melaporkan pelaksanaan Gerakan Tanam di lokasi Optimalisasi Lahan di Desa Ulang Ceria, Kecamatan Muara Telang. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan penyuluh pertanian sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan luas tanam.
Pada 16 September 2026, BRMP Sumatera Selatan juga mengikuti rapat koordinasi pertanian modern terintegrasi di Desa Telang Kaya, Muara Telang. Pembahasannya mencakup teknologi pertanian, optimalisasi lahan, percepatan tanam, produktivitas serta sarana dan prasarana.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kawasan pertanian modern Banyuasin sedang diarahkan sebagai proses bertahap, bukan proyek tunggal. (Noto)

















