
KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Bandung kembali menggelar pesta belanja berskala besar. Bandung Great Sale (BGS) 2026 berlangsung di Laswi Heritage pada 21–23 Agustus 2026 dengan menawarkan potongan harga hingga 80 persen.
Namun, di balik angka diskon yang menggiurkan dan ratusan pelaku usaha yang terlibat, ada pertanyaan yang lebih penting: sejauh mana pesta belanja ini benar-benar mampu menggerakkan ekonomi pelaku usaha dan memberi dampak nyata bagi masyarakat?
BGS 2026 melibatkan sedikitnya 741 pelaku usaha. Sebanyak 167 di antaranya hadir langsung di Laswi Heritage, sementara 574 pelaku usaha lainnya tersebar di sejumlah pusat perbelanjaan serta sektor hotel, restoran, dan kafe.
Diskon Besar dan Konsep yang Lebih Beragam
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung Ronny Ahmad Nurudin mengatakan penyelenggaraan BGS tahun ini dibuat lebih beragam.
Menurutnya, kegiatan tidak hanya berpusat di pusat perbelanjaan, tetapi juga melibatkan pelaku usaha, komunitas, hingga sektor hotel, restoran, dan kafe.
Laswi Heritage dipilih sebagai lokasi utama dengan pertimbangan karakter kawasan yang dinilai merepresentasikan identitas heritage Kota Bandung.
“Kita ingin memperlihatkan bahwa Bandung ini adalah kota heritage,” ujar Ronny.
Lokasi tersebut menjadi ruang bertemunya berbagai sektor, mulai dari fesyen, kuliner hingga komunitas kreatif.
Selain transaksi belanja, pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas komunitas, otomotif, hobi, kuliner, dan kegiatan kreatif lainnya.
Pemkot Bandung berharap konsep tersebut mampu menjadikan BGS bukan sekadar agenda diskon, tetapi juga ruang rekreasi yang dapat dinikmati masyarakat bersama keluarga.
Ada Flash Sale 21 Menit 6 Detik
Salah satu program yang berpotensi menjadi magnet utama adalah flash sale atau crazy sale.
Program tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 19.00 WIB selama 21 menit 6 detik, dengan potongan harga maksimal mencapai 80 persen.
Secara konsep, program ini memang dirancang menciptakan momentum belanja dalam waktu terbatas.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa besarnya potongan harga belum otomatis menjawab pertanyaan mengenai seberapa besar transaksi yang benar-benar terjadi dan siapa yang paling merasakan manfaat ekonominya.
Data mengenai nilai transaksi selama pelaksanaan BGS menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah program tersebut hanya menghasilkan keramaian atau mampu memberikan perputaran ekonomi yang signifikan.
Bukan Hanya Soal Belanja
BGS 2026 juga mencoba menghubungkan kegiatan perdagangan dengan sektor lain.
Akses menuju Laswi Heritage dipermudah melalui layanan Bandung Tour on Bus (Bandros). Sebanyak 12 unit Bandros dijadwalkan melewati dan berhenti di sekitar lokasi selama kegiatan berlangsung, dengan potongan tarif sebesar 50 persen.
PT Kereta Api Indonesia juga memberikan potongan harga 10 persen untuk perjalanan menuju Kota Bandung.
Di sisi lain, Pemkot Bandung menghadirkan berbagai layanan publik di lokasi kegiatan, mulai dari perizinan, administrasi kependudukan, ketenagakerjaan, pajak, Samsat hingga layanan kesehatan.
Artinya, BGS tidak sepenuhnya ditempatkan sebagai agenda komersial. Pemerintah mencoba menggabungkan aktivitas ekonomi, pariwisata, komunitas dan pelayanan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan.
741 Pelaku Usaha, Seberapa Besar Efeknya?
Jumlah 741 pelaku usaha yang terlibat menjadi salah satu angka penting dalam BGS 2026.
Tetapi angka partisipasi tersebut belum dengan sendirinya menggambarkan keberhasilan program.
Yang lebih menentukan adalah apakah keterlibatan tersebut menghasilkan peningkatan omzet, pelanggan baru, perluasan pasar, serta peluang usaha yang berlanjut setelah acara berakhir.
Beberapa indikator tersebut juga penting terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang membutuhkan lebih dari sekadar lonjakan penjualan selama acara berlangsung.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah efek BGS hanya terasa selama tiga hari, atau mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih panjang bagi pelaku usaha Bandung?
Rangkaian Bulan Belanja Bandung
BGS 2026 merupakan bagian dari rangkaian Bulan Belanja Bandung yang telah berlangsung sejak Pasar Kreatif Bandung pada 8 Juni hingga 9 Agustus 2026.
Agenda tersebut kemudian dilanjutkan dengan Indonesia Shopping Festival, Hari Belanja Diskon Indonesia, Festival Sentra Industri, serta Festival All About Tahu dan jajanan Kota Bandung.
Menurut Ronny, seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha, menggerakkan perekonomian, serta meningkatkan kunjungan wisatawan dan aktivitas belanja di Kota Bandung.
“Ini adalah dalam rangka meningkatkan daya saing para pelaku usaha Kota Bandung, meningkatkan perekonomian Kota Bandung, meningkatkan kunjungan wisata dan berbelanja di Kota Bandung,” katanya.
Tantangan Setelah Pesta Belanja Berakhir
Di sinilah tantangan BGS sebenarnya berada.
Pesta belanja memiliki daya tarik yang kuat ketika diskon besar, kegiatan komunitas dan hiburan berlangsung bersamaan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak hanya dapat diukur dari jumlah pengunjung atau ramainya lokasi acara.
Yang perlu dilihat adalah apa yang terjadi setelah panggung dibongkar dan program diskon berakhir.
Apakah konsumen kembali membeli produk lokal? Apakah pelaku UMKM memperoleh pelanggan baru? Apakah wisatawan tinggal lebih lama di Bandung? Dan yang tidak kalah penting, apakah perputaran ekonomi tersebut benar-benar tersebar hingga pelaku usaha yang berada di luar pusat kegiatan?
Hingga kini, belum semua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang dapat diukur dari pelaksanaan BGS 2026.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
BGS 2026 membawa janji besar melalui diskon hingga 80 persen, keterlibatan 741 pelaku usaha, dukungan transportasi, komunitas, pariwisata hingga layanan publik.
Namun, keberhasilan sebuah pesta belanja pada akhirnya bukan hanya soal seberapa ramai acara berlangsung.
Ukuran yang lebih penting adalah berapa besar transaksi yang tercipta, berapa banyak pelaku usaha yang mengalami peningkatan pendapatan, dan apakah efek ekonominya bertahan setelah kegiatan selesai.
Terungkapnya angka-angka tersebut nantinya akan menjadi gambaran yang lebih utuh mengenai efektivitas Bulan Belanja Bandung.
Sebab, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah Bandung Great Sale mampu menarik perhatian masyarakat.
Melainkan, apakah pesta diskon tiga hari itu benar-benar mampu meninggalkan dampak ekonomi yang bertahan lebih lama bagi warga dan pelaku usaha Kota Bandung? (Siti)

















