Beranda Nusantara Kirab Merah Putih ke-28 VAC di Bandung: Nasionalisme Vespa dan Tantangan Tertib...

Kirab Merah Putih ke-28 VAC di Bandung: Nasionalisme Vespa dan Tantangan Tertib di Jalan

4
0
Kirab Merah Putih ke-XXVIII Vespa Antique Club Indonesia berlangsung dari Area Parkir Pusdai Jabar menuju kawasan Braga, Kota Bandung, Senin (17/8/2026). (Foto: Siti/cimutnews)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Komunitas Vespa Antique Club (VAC) Indonesia kembali membawa semangat kemerdekaan ke jalanan Kota Bandung. Pada Senin, 17 Agustus 2026, ratusan? peserta [jangan tambahkan angka yang tidak tersedia] mengikuti Kirab Bendera Merah Putih dari Area Parkir Masjid Pusdai Jawa Barat menuju kawasan Braga.

Kirab tersebut bukan sekadar konvoi kendaraan antik. Bagi VAC, kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan untuk memperingati kemerdekaan sekaligus menunjukkan bahwa komunitas otomotif dapat mengambil bagian dalam ruang publik melalui kegiatan bernuansa nasionalisme.

Namun, di balik kemeriahan kirab yang sudah memasuki penyelenggaraan ke-28 itu, ada tantangan lain yang tidak kalah penting: bagaimana kegiatan komunitas berskala besar tetap berjalan tertib tanpa mengganggu mobilitas masyarakat pengguna jalan lainnya?

Kirab Merah Putih Sudah 28 Kali Digelar

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan melepas Kirab Merah Putih ke-XXVIII VAC Indonesia di Area Parkir Pusdai Jabar, Kota Bandung.

Erwan mengapresiasi konsistensi VAC yang terus mempertahankan tradisi tersebut setiap momentum Hari Ulang Tahun Republik Indonesia.

Menurut dia, penyelenggaraan kirab selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan kegiatan perayaan kemerdekaan di Jawa Barat.

“Saya atas nama Pemda Provinsi Jabar mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada VAC yang secara konsisten melaksanakan Kirab Merah Putih dalam memeriahkan HUT RI yang saat ini menginjak usia ke-81,” ujar Erwan.

Bagi komunitas kendaraan klasik seperti VAC, keberlangsungan kegiatan selama 28 kali penyelenggaraan menunjukkan bahwa komunitas otomotif tidak hanya berkutat pada hobi kendaraan.

Ada ruang sosial yang dibangun melalui kegiatan bersama, termasuk ketika para anggotanya membawa simbol negara ke ruang publik.

Bendera Merah Putih Dibawa dari Pusdai hingga Braga

Baca juga  Forkopimda Kota Blitar Pantau Stok dan Harga Bapokting Jelang Idul Fitri 2026

Ketua Umum VAC Indonesia Dedi Suryadi alias Ibonk mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Rangkaian kirab dimulai dari kawasan Pusdai Jabar dan berakhir di Braga.

“Alhamdulillah, kita melaksanakan kegiatan untuk HUT RI 17 Agustus. Kita konvoi mengibarkan bendera Merah Putih dan berakhir di Braga,” kata Dedi.

Kirab ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kawasan jalan raya dan ruang publik menjadi tempat bertemunya beragam kepentingan: komunitas, pengguna kendaraan, wisatawan, hingga masyarakat yang beraktivitas seperti biasa pada hari libur nasional.

Di sinilah persoalan tertib lalu lintas menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari kegiatan semacam ini.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan, Konvoi Bukan Sekadar Perayaan

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan secara khusus mengingatkan peserta agar menjaga ketertiban dan keselamatan selama perjalanan.

Peserta diminta menghormati pengguna jalan lain serta menaati aturan lalu lintas.

“Saya berharap kegiatan ini berjalan dengan tertib, aman, menghormati pengguna jalan lain, dan terpenting jaga keselamatan, tertib berlalu lintas. Ikuti kegiatan ini dengan riang gembira,” ujar Erwan.

Pesan tersebut menjadi relevan karena konvoi komunitas kendaraan selalu bersinggungan langsung dengan aktivitas masyarakat di jalan.

Di sisi lain, tidak semua pengguna jalan mengikuti agenda yang sama. Sebagian masyarakat tetap harus bekerja, bepergian, mengantar keluarga, atau menjalankan aktivitas lainnya meski bertepatan dengan perayaan kemerdekaan.

Karena itu, keberhasilan sebuah kirab bukan hanya dilihat dari meriahnya acara atau banyaknya peserta, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan mampu berjalan berdampingan dengan kepentingan publik.

Nasionalisme di Jalan, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Erwan berharap Kirab Merah Putih tidak berhenti sebagai kegiatan berkendara bersama.

Menurutnya, momentum tersebut seharusnya memberikan wawasan dan pengalaman kepada peserta.

Baca juga  Sekda Herman Suryatman Sambut Baik Mekanisme Baru Penyaluran Tunjangan Profesi Guru ASN Daerah

“Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan. Setiap tahun selalu ada sejarah baru setiap HUT RI,” katanya.

Pernyataan tersebut membuka perspektif yang lebih luas mengenai posisi komunitas otomotif dalam kehidupan masyarakat.

Komunitas dapat menjadi wadah membangun solidaritas dan persatuan. Namun, ruang publik juga memiliki aturan yang harus dihormati bersama.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah semangat nasionalisme dalam kegiatan komunitas sudah berjalan seiring dengan kesadaran menjaga ketertiban di ruang publik?

Ada Pesan yang Lebih Besar dari Sekadar Vespa Antik

Vespa selama ini identik dengan komunitas, gaya hidup, solidaritas, dan budaya berkendara.

Ketika kendaraan-kendaraan tersebut digunakan dalam kirab Merah Putih, identitas komunitas kemudian bertemu dengan simbol nasional.

Di satu sisi, pemandangan tersebut dapat menjadi ekspresi kebanggaan terhadap Indonesia.

Namun, di sisi lain, semakin besar sebuah kegiatan komunitas digelar di jalan umum, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan kegiatan tersebut tidak mengabaikan hak pengguna jalan lainnya.

Hingga kini, tidak ada penjelasan rinci dalam informasi yang tersedia mengenai persoalan lalu lintas atau gangguan perjalanan masyarakat selama pelaksanaan kirab.

Karena itu, penilaian mengenai dampak kegiatan terhadap pengguna jalan perlu didasarkan pada kondisi faktual di lapangan, bukan semata pada kemeriahan acara maupun klaim keberhasilan penyelenggaraan.

Konsistensi VAC dan Pekerjaan Rumah di Ruang Publik

Kirab Merah Putih ke-XXVIII menjadi bukti bahwa tradisi komunitas dapat bertahan dalam waktu panjang.

Konsistensi tersebut tentu menjadi modal sosial yang tidak kecil.

Tetapi keberlanjutan kegiatan juga membutuhkan evaluasi. Terutama terkait keselamatan, koordinasi lalu lintas, kenyamanan pengguna jalan, serta bagaimana kegiatan komunitas dapat memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah kirab tersebut mampu berlangsung meriah.

Baca juga  Festival Pasar Rakyat 2025 di Bukittinggi: Antara Romantisme Pasar Tradisional dan Suara Kritis Pedagang Kecil

Yang lebih penting, apakah tradisi yang telah berjalan 28 kali itu bisa terus berkembang menjadi kegiatan komunitas yang semakin tertib, aman, dan memberikan dampak positif bagi ruang publik Kota Bandung?

Jawabannya masih menjadi pekerjaan bersama. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here