
LAHAT, cimutnews.co.id — Car Free Day (CFD) perdana akhirnya resmi digelar di Kabupaten Lahat.
Ribuan warga memadati ruas jalan sejak pagi untuk menikmati ruang publik bebas kendaraan.
Namun di tengah antusiasme itu, muncul pertanyaan baru: apakah pelaksanaan CFD sudah benar-benar siap dari sisi penataan dan dampak lalu lintas di sekitar lokasi?
Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Lahat Bursah Zarnubi bersama Wakil Bupati Widia Ningsih dan Kapolda Sumsel Sandi Nugroho itu berlangsung di jalur Simpang Kodim Baru hingga Wisma 17 Lahat, Minggu (17/5/2026).
Sejak pagi, kawasan tersebut dipenuhi warga yang datang untuk berolahraga, bersantai, hingga menikmati berbagai aktivitas komunitas.
Pemerintah Kabupaten Lahat menyebut kegiatan ini sebagai ruang publik baru yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Selain itu, CFD juga diklaim menjadi langkah awal membangun budaya hidup sehat di Kabupaten Lahat.
“Car free day ini menjadi momentum kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat,” demikian disampaikan dalam rangkaian kegiatan pembukaan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, pelaksanaan perdana CFD juga memunculkan sejumlah catatan dari masyarakat.
Berdasarkan temuan di lapangan, kepadatan kendaraan terlihat terjadi di beberapa jalur alternatif yang berada di sekitar area penutupan jalan.
Sejumlah warga mengaku sempat kebingungan mencari akses jalan lain karena arus kendaraan dialihkan selama kegiatan berlangsung.
“Ramai memang, tapi tadi sempat macet di jalan sekitar karena banyak yang mutar,” ujar seorang pengendara yang melintas di kawasan sekitar CFD.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan warga yang justru menikmati suasana baru di pusat kota Lahat yang lebih terbuka dan bebas polusi kendaraan.
Banyak warga menyebut CFD menjadi hiburan murah sekaligus ruang berkumpul yang selama ini jarang tersedia secara rutin.
Meski begitu, beberapa pedagang kecil berharap kegiatan ini tidak hanya ramai saat perdana, tetapi juga mampu memberi dampak ekonomi yang konsisten ke depan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah Car Free Day Lahat akan berkembang menjadi ruang publik yang tertata dan berkelanjutan, atau hanya ramai pada momentum awal peluncuran?
Pengamat tata kota menilai keberhasilan CFD tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari pengaturan lalu lintas, kebersihan, keamanan, hingga konsistensi pelaksanaan.
Jika tidak dikelola maksimal, kegiatan seperti ini diduga berpotensi menimbulkan persoalan baru seperti kemacetan hingga penumpukan sampah di area publik.
Namun bila ditata serius, CFD dapat menjadi identitas baru kota sekaligus mendorong ekonomi masyarakat kecil melalui aktivitas UMKM dan komunitas lokal.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait evaluasi teknis pelaksanaan CFD perdana maupun rencana pengaturan lalu lintas untuk agenda berikutnya.
Apakah Car Free Day Lahat akan benar-benar menjadi ruang publik favorit masyarakat, atau justru menghadapi tantangan baru saat mulai rutin digelar? (Antoni)

















