
PALEMBANG, cimutnews.co.id — PS Palembang U-15 berhasil mengangkat trofi Piala Gubernur Sumsel Regional Palembang 2026.
Namun di balik euforia kemenangan itu, muncul pertanyaan mengenai sejauh mana pembinaan sepak bola usia muda di Sumatera Selatan benar-benar berjalan merata.
Laga final yang berlangsung di Stadion Kamboja Palembang, Minggu (24/5/2026), berlangsung ketat dan penuh tensi.
PS Palembang akhirnya keluar sebagai juara usai menundukkan Diklat Sepak Bola Palembang (DSP) U-15 melalui drama adu penalti dengan skor 4-2 setelah bermain imbang tanpa gol selama waktu normal.
Pertandingan berjalan agresif sejak menit awal.
Kedua tim saling menekan demi membuka peluang kemenangan.
PS Palembang tampil lebih dominan dalam penguasaan bola dan beberapa kali membangun serangan cepat dari lini tengah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kokohnya pertahanan DSP membuat sejumlah peluang emas gagal dikonversi menjadi gol.
Di sisi lain, DSP juga beberapa kali mengancam melalui skema serangan balik cepat.
Situasi tersebut membuat pertandingan berlangsung terbuka hingga peluit panjang dibunyikan.
Babak adu penalti menjadi penentu.
Mental pemain PS Palembang terlihat lebih siap pada momen krusial.
Abqory Sheva Alfiano sukses membuka keunggulan melalui eksekusi pertama.
Disusul Rizky Wall dan Kenzie Gyasi Athaya yang juga menjalankan tugas dengan baik.
Kapten tim Rakha kemudian memastikan kemenangan setelah mencetak gol keempat yang mengunci gelar juara bagi Laskar Segentar Alam Muda.
Sementara itu, dua algojo DSP gagal menuntaskan penalti sehingga skor akhir adu penalti menjadi 4-2 untuk kemenangan PS Palembang.
Keberhasilan tersebut membuat PS Palembang resmi menjadi wakil Kota Palembang pada ajang Piala Gubernur Sumsel U-15 tingkat provinsi atau Piala Soeratin U-15 Sumsel 2026.
Prestasi tim semakin lengkap setelah striker muda mereka, Abqory Sheva Alfiano, keluar sebagai top skor turnamen dengan torehan tujuh gol.
Pemain asal SSB Palembang Soccer Skills (PSS) itu dinilai menjadi salah satu talenta muda potensial yang mencuri perhatian sepanjang kompetisi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Palembang, Adrianus Amri, menyebut turnamen usia muda seperti ini menjadi langkah penting untuk pembinaan atlet sepak bola masa depan.
“Selamat kepada para juara dan seluruh peserta. Kami berharap dari kompetisi seperti ini akan lahir pemain-pemain masa depan yang dapat mengharumkan nama Palembang dan Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan Ketua Askot PSSI Palembang, Muhamad David SH.
Ia mengaku bersyukur seluruh rangkaian pertandingan berlangsung lancar dan kondusif.
Namun, sejumlah pengamat sepak bola lokal menilai keberhasilan turnamen saja belum cukup.
Pembinaan usia muda dinilai masih membutuhkan kompetisi yang konsisten, fasilitas latihan memadai, hingga perhatian serius terhadap regenerasi pemain.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian sekolah sepak bola lokal yang masih mengeluhkan minimnya sarana latihan dan terbatasnya agenda kompetisi rutin di luar turnamen besar.
Berdasarkan temuan di lapangan, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola usia muda sebenarnya cukup tinggi.
Hal itu terlihat dari ramainya dukungan penonton selama pertandingan berlangsung di Stadion Kamboja.
Namun hingga kini, belum semua talenta muda mendapatkan akses pembinaan yang merata.
Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah keberhasilan PS Palembang mampu menjadi titik awal kebangkitan pembinaan sepak bola muda Sumsel secara menyeluruh, atau hanya menjadi prestasi sesaat di tengah tantangan yang masih ada.
Sementara itu, Sriwijaya Asah Soccer (SAS) U-15 berhasil finis di posisi ketiga, sedangkan Bhayangkara Sriwijaya U-15 berada di peringkat keempat.
Hingga kini, harapan publik terhadap lahirnya pemain muda berbakat dari Palembang terus menguat.
Apakah kompetisi seperti ini mampu menjadi solusi nyata bagi regenerasi sepak bola Sumatera Selatan ke depan, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah besar? (Poerba)

















