Beranda Nusantara Gerakan Jumat Bersih Digelar di Garut, Namun Kebersihan Ruang Publik Masih Jadi...

Gerakan Jumat Bersih Digelar di Garut, Namun Kebersihan Ruang Publik Masih Jadi Pertanyaan

4
0
Camat Tarogong Kaler bersama pegawai kecamatan dan anggota Pramuka mengikuti Gerakan Jumat Bersih di kawasan Alun-Alun Tarogong, Garut.(Foto: Holil/cimutnews.co.id)

GARUT, cimutnews.co.id — Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia kembali diisi dengan berbagai aksi bersih-bersih di sejumlah daerah. Di Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, pemerintah kecamatan menggelar Gerakan Jumat Bersih dengan melibatkan aparatur dan anggota Pramuka di kawasan Alun-Alun Tarogong, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung sejak pagi diawali dengan apel bersama sebelum peserta menyebar membersihkan area ruang publik yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat di wilayah tersebut.

Aksi ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Namun, di balik kegiatan yang berlangsung meriah tersebut, muncul pertanyaan yang kerap menjadi tantangan di berbagai daerah: apakah gerakan bersih-bersih mampu mengubah perilaku masyarakat dalam jangka panjang?

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peserta membersihkan sampah dan material lain yang berpotensi mengganggu kenyamanan pengunjung alun-alun. Kegiatan juga menjadi simbol komitmen pemerintah dalam menjaga fasilitas umum agar tetap bersih dan layak digunakan masyarakat.

Camat Tarogong Kaler, Rakhmat Alamsyah, yang memimpin langsung kegiatan tersebut mengatakan bahwa kebersihan lingkungan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Menurutnya, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia seharusnya menjadi momentum meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan turut menjaga kebersihan fasilitas umum yang digunakan bersama,” ujarnya.

Pemerintah kecamatan juga berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat budaya gotong royong sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas publik yang telah tersedia.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa persoalan kebersihan ruang publik bukan hanya soal kegiatan bersih-bersih sesaat.

Di berbagai kawasan publik, termasuk taman dan alun-alun di sejumlah daerah, sampah masih kerap ditemukan setelah aktivitas masyarakat berlangsung, terutama pada akhir pekan atau saat kegiatan ramai pengunjung.

Baca juga  Kompetensi ASN Jabar Nyaris Sempurna, 37,11 Persen dari Maksimal 40 Persen

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan sekadar membersihkan lingkungan, melainkan membangun kesadaran agar masyarakat tidak kembali membuang sampah sembarangan setelah kegiatan selesai.

Hingga kini, belum semua ruang publik mampu mempertahankan kondisi bersih secara konsisten tanpa adanya pengawasan atau kegiatan khusus dari pemerintah.

Sejumlah warga mengaku menyambut baik kegiatan yang dilakukan pemerintah kecamatan tersebut.

Menurut warga yang ditemui di sekitar kawasan publik, aksi bersih-bersih seperti ini dinilai mampu memberikan contoh positif kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Di sisi lain, beberapa pihak menilai edukasi yang berkelanjutan masih diperlukan agar kebiasaan menjaga kebersihan tidak hanya muncul saat ada peringatan tertentu.

Partisipasi anggota Pramuka dalam kegiatan tersebut juga dinilai penting sebagai bagian dari pembentukan karakter peduli lingkungan sejak usia muda.

Pengamat lingkungan kerap menilai bahwa keberhasilan program kebersihan tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan gotong royong yang dilakukan, tetapi juga dari perubahan perilaku masyarakat setelah program selesai.

Karena itu, edukasi, penyediaan sarana pendukung, serta konsistensi pengawasan menjadi faktor yang sering menentukan keberhasilan upaya menjaga lingkungan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang menarik untuk dijawab bersama: apakah gerakan bersih-bersih yang rutin dilakukan mampu menciptakan budaya baru yang lebih peduli terhadap lingkungan, atau justru hanya menjadi agenda tahunan yang dampaknya belum sepenuhnya dirasakan?

Hingga kini, pertanyaan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah bagi banyak daerah, termasuk dalam upaya menjaga ruang publik agar tetap bersih, nyaman, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here