Beranda Nusantara Fenomena Boom Spending Terungkap, Kemudahan Belanja Digital Picu Kekhawatiran Baru

Fenomena Boom Spending Terungkap, Kemudahan Belanja Digital Picu Kekhawatiran Baru

7
0
Seminar literasi keuangan digital di Universitas Islam Bandung membahas fenomena boom spending dan risiko pinjaman online bagi generasi muda. (Foto:Siti/cimutnews.co.id)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Fenomena belanja impulsif di kalangan generasi muda kembali menjadi sorotan. Di tengah kemudahan transaksi digital dan maraknya layanan pinjaman online (pinjol), muncul tren yang dikenal sebagai boom spending, yakni kebiasaan berbelanja untuk meredakan stres, kecemasan, atau ketidakpastian terhadap masa depan.

Fenomena ini menjadi perhatian dalam sebuah seminar yang digelar di Universitas Islam Bandung (Unisba), Kota Bandung, Jumat (12/6/2026). Sejumlah akademisi, regulator, dan pemerintah daerah hadir untuk membahas dampak perilaku konsumtif yang semakin mudah dilakukan melalui teknologi digital.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin relevan: apakah generasi muda saat ini semakin mudah terjebak dalam pola konsumsi yang berisiko terhadap kondisi keuangan mereka di masa depan?

Fakta di Balik Fenomena Boom Spending

Boom spending bukan sekadar kebiasaan belanja biasa. Fenomena ini muncul ketika seseorang memilih menikmati uang saat ini dibandingkan menyimpannya untuk kebutuhan jangka panjang.

Kemudahan akses pembayaran digital, layanan buy now pay later hingga pinjaman online membuat transaksi dapat dilakukan kapan saja tanpa harus memiliki uang tunai secara langsung.

Sekretaris Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Bayu Rakhmana, mengatakan perkembangan teknologi pembayaran digital membawa manfaat besar, namun juga menyimpan risiko jika tidak digunakan secara bijak.

“Digital payment dapat menjadi masalah kalau tidak diatur dengan bijak. Sekarang kapan pun bisa belanja online, bahkan malam sekalipun. Tidak ada uang tinggal pinjol,” ujarnya dalam seminar tersebut.

Menurutnya, literasi keuangan menjadi benteng utama agar masyarakat, khususnya mahasiswa, mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Pemerintah dan Kampus Ingatkan Bahaya Utang Digital

Dalam kesempatan yang sama, Bayu juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur pinjaman online maupun praktik judi online yang semakin agresif menyasar kelompok usia muda.

Baca juga  POLRES BLITAR GELAR COACHING CLINIC DI PONPES MAMBAUL HISAN: EDUKASI ROAD SAFETY

Seminar tersebut digelar sebagai upaya meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap risiko penggunaan layanan keuangan digital yang tidak terkontrol.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. A. Harits Nu’man, menilai digitalisasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara drastis.

Menurutnya, proses transaksi yang sangat mudah membuat seseorang dapat berbelanja hanya dalam hitungan detik tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

“Tinggal pencet beli online, 24 jam bisa dilakukan. Karena itu perlu literasi keuangan digital agar tidak terjebak utang pinjaman online,” katanya.

Meski berbagai program literasi keuangan terus digencarkan, fenomena pinjaman online dan perilaku konsumtif masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, Darwisman, mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 pihaknya telah melaksanakan sekitar 2.000 kegiatan literasi keuangan yang menjangkau hampir satu juta orang.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa kelompok usia 18 hingga 34 tahun masih menjadi target utama berbagai layanan pinjaman online, judi online, hingga penipuan digital.

Data yang disampaikan OJK mencatat nilai pinjaman online telah mencapai sekitar Rp82 triliun dan sebagian besar menyasar kelompok usia muda yang aktif menggunakan layanan digital.

Di sisi lain, kemudahan akses dana instan diduga membuat sebagian masyarakat lebih berani mengambil keputusan finansial tanpa perencanaan matang.

Suara Lapangan dan Realita yang Dirasakan

Sejumlah mahasiswa yang mengikuti seminar mengaku fenomena belanja impulsif kini semakin mudah ditemui di lingkungan pergaulan mereka.

Berbagai promosi diskon, kemudahan cicilan, hingga tren media sosial sering kali mendorong keputusan pembelian yang tidak direncanakan.

Beberapa pihak menilai tekanan gaya hidup dan fenomena fear of missing out (FOMO) juga ikut berperan dalam meningkatnya perilaku konsumtif di kalangan anak muda.

Baca juga  Cegah Konflik Horizontal FABEM Maluku Apresiasi Kinerja Kapolda dan Pangdam XV Pattimura

Hingga kini, belum semua kalangan muda memiliki pemahaman yang cukup mengenai risiko utang digital maupun konsekuensi penggunaan pinjaman online secara berlebihan.

Tantangan Besar di Era Serba Digital

Pengamat keuangan menilai perkembangan teknologi sebenarnya dapat menjadi alat yang membantu masyarakat mengelola keuangan dengan lebih baik.

Namun tanpa edukasi yang memadai, kemudahan tersebut justru berpotensi memicu masalah baru berupa utang konsumtif, ketergantungan pinjaman, hingga kerentanan terhadap penipuan digital.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas berbagai program literasi yang selama ini dilakukan. Apakah edukasi yang diberikan sudah benar-benar menjangkau kelompok yang paling rentan?

Selain itu, belum ada penjelasan rinci mengenai seberapa besar angka masyarakat muda yang berhasil keluar dari jeratan pinjaman online setelah mengikuti program literasi keuangan tersebut.

Transformasi digital memang membuka banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun bersamaan dengan itu, risiko finansial juga berkembang dengan cara yang semakin kompleks.

Hingga kini, fenomena boom spending, pinjaman online, dan perilaku konsumtif di kalangan generasi muda masih menjadi perhatian berbagai pihak.

Apakah literasi keuangan yang terus digencarkan mampu mengubah perilaku masyarakat secara nyata, atau justru kemudahan akses digital akan terus mendorong munculnya generasi yang semakin rentan terhadap jebakan utang konsumtif? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here