
PALEMBANG, cimutnews.co.id – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru didampingi Wakil Gubernur Sumsel Cik Ujang menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4 Masjid Hj. Sopiah di Kecamatan Gandus, Palembang, Minggu (27/9/2026).
Peringatan tersebut berlangsung dengan rangkaian Salat Magrib berjamaah dan tausiah yang disampaikan Ustaz H. Abdul Somad (UAS). Kegiatan dihadiri ribuan masyarakat serta sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat.
HUT ke-4 Masjid Hj. Sopiah Jadi Ruang Silaturahmi Warga
Kehadiran ribuan jamaah membuat peringatan HUT ke-4 Masjid Hj. Sopiah tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat Gandus bersama para pemimpin daerah dan tokoh keagamaan.
Selain Herman Deru dan Cik Ujang, hadir Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Wakil Wali Kota Palembang Prima Salam, Anggota DPR RI Kartika Sandra Desi, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Kepadatan jamaah menunjukkan bahwa masjid memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat di kawasan Gandus.
Rangkaian Acara Diawali Salat Magrib
Rangkaian kegiatan dimulai dengan Salat Magrib berjamaah. Setelah itu, jamaah mengikuti tausiah yang disampaikan Ustaz H. Abdul Somad.
Kehadiran UAS menjadi salah satu bagian utama dalam peringatan tersebut. Tausiah memberikan ruang bagi jamaah untuk memperoleh penguatan nilai keagamaan dalam momentum ulang tahun masjid.
Herman Deru Bersyukur Masjid Terus Berkembang
Dalam sambutannya, Herman Deru menyampaikan rasa syukur atas perjalanan Masjid Hj. Sopiah yang telah memasuki usia empat tahun.
Menurut Herman Deru, masjid tersebut terus berkembang dan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Gandus.
Pernyataan itu menempatkan keberadaan masjid dalam konteks yang lebih luas. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga dapat menjadi ruang interaksi sosial dan pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.
Empat Tahun dan Tantangan Memperkuat Peran Masjid
Memasuki usia empat tahun menjadi momentum untuk melihat kembali perkembangan sebuah masjid sekaligus peran yang dapat diperkuat pada masa mendatang.
Bagi masyarakat, keberadaan masjid yang aktif dapat menjadi salah satu ruang untuk mempererat silaturahmi. Kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat secara luas juga dapat memperkuat hubungan antara tokoh agama, pemerintah dan warga.
Dalam konteks Gandus, aktivitas Masjid Hj. Sopiah menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat di salah satu kawasan Kota Palembang.
Masjid Bukan Sekadar Bangunan
Peringatan HUT Masjid Hj. Sopiah memperlihatkan satu hal penting: ukuran keberadaan masjid tidak hanya dapat dilihat dari bangunan fisiknya, tetapi juga dari aktivitas dan keterlibatan masyarakat di dalamnya.
Ketika masjid mampu menjadi tempat ibadah sekaligus ruang silaturahmi dan kegiatan keagamaan, manfaatnya dapat meluas ke kehidupan sosial warga. Karena itu, keberlanjutan kegiatan menjadi bagian penting setelah momentum peringatan ulang tahun selesai.
Dalam jangka panjang, tantangannya bukan sekadar mempertahankan kemeriahan kegiatan tahunan, melainkan memastikan masjid tetap hidup melalui program yang memberi manfaat nyata bagi jamaah dan lingkungan sekitarnya.
Momentum HUT Menjadi Titik Evaluasi
Satu hal yang menarik dari peringatan empat tahun Masjid Hj. Sopiah adalah momentum ulang tahun dapat dimanfaatkan sebagai titik evaluasi perjalanan masjid.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa ramai sebuah peringatan digelar, tetapi sejauh mana masjid mampu mempertahankan keterlibatan jamaah dan menghadirkan kegiatan yang relevan bagi masyarakat dari waktu ke waktu.
Dengan demikian, peringatan HUT dapat menjadi momentum untuk memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat dan silaturahmi masyarakat.
Pemerintah dan Tokoh Agama Hadir Bersama Masyarakat
Kehadiran Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel bersama jajaran pemerintah Kota Palembang serta tokoh masyarakat memperlihatkan adanya ruang pertemuan antara pemerintah, tokoh agama dan masyarakat dalam kegiatan keagamaan.
Bagi masyarakat, kehadiran para pemimpin daerah juga menjadi bagian dari komunikasi sosial yang berlangsung secara langsung di tengah jamaah.
Ke depan, penguatan kegiatan keagamaan di tingkat masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya membangun kehidupan sosial yang harmonis dan saling mendukung.

















