Beranda Palembang Herman Deru Ingin Masjid Jadi Epicentrum Aktivitas Warga, Namun Realitasnya Masih Menjadi...

Herman Deru Ingin Masjid Jadi Epicentrum Aktivitas Warga, Namun Realitasnya Masih Menjadi Pertanyaan

4
0
Gubernur Sumsel Herman Deru bersalaman dengan jamaah usai melaksanakan salat Jumat di Masjid Fajrul Falah, Palembang. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru kembali turun langsung ke tengah masyarakat dengan melaksanakan salat Jumat berjamaah di Masjid Fajrul Falah, Jalan Lubuk Bakung, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang, Jumat (12/6).

Kehadiran orang nomor satu di Sumsel itu bukan sekadar untuk beribadah. Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru menyampaikan harapannya agar masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual semata.

Ia ingin masjid mampu menjadi pusat berbagai kegiatan sosial, keagamaan, hingga aktivitas kemasyarakatan yang memberikan manfaat langsung bagi warga sekitar.

Dalam sambutannya, Herman Deru juga mengajak jamaah untuk membiasakan diri bersedekah. Menurutnya, sedekah merupakan salah satu jalan untuk membuka pintu rezeki yang lebih luas dan membawa keberkahan dalam kehidupan.

“Saya ke sini untuk melihat dan bertemu semuanya secara langsung. Hendaknya masjid ini menjadi epicentrum dalam kegiatan lain juga,” ujarnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan rumah ibadah yang selama ini kerap digaungkan pemerintah, yakni menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat sekaligus ruang penguatan sosial masyarakat.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat bukan perkara mudah.

Di berbagai wilayah, termasuk kawasan perkotaan, masih terdapat masjid yang aktivitasnya lebih dominan pada pelaksanaan ibadah wajib dan kegiatan keagamaan tertentu. Sementara program pemberdayaan ekonomi, pendidikan masyarakat, hingga kegiatan sosial berkelanjutan belum semuanya berjalan optimal.

Sejumlah warga mengaku keberadaan masjid memang memiliki potensi besar sebagai pusat aktivitas lingkungan. Namun mereka menilai hal tersebut memerlukan dukungan program yang konsisten, sumber daya pengelola yang memadai, serta partisipasi aktif masyarakat.

Di sisi lain, perkembangan kawasan perkotaan yang semakin dinamis juga menghadirkan tantangan tersendiri. Kesibukan warga, keterbatasan waktu, hingga beragam aktivitas ekonomi sering kali membuat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan masjid tidak semudah yang dibayangkan.

Baca juga  Terungkap, Tantangan Besar Menanti Dirut Baru Bank Sumsel Babel

Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah masjid yang berhasil menjadi pusat kegiatan sosial umumnya memiliki program rutin yang menyentuh kebutuhan warga, mulai dari pendidikan anak, santunan sosial, pembinaan remaja, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana konsep masjid sebagai epicentrum kegiatan masyarakat dapat diterapkan secara merata di berbagai daerah?

Belum ada penjelasan rinci mengenai program lanjutan atau dukungan khusus yang akan dilakukan untuk mendorong transformasi fungsi masjid tersebut. Padahal, harapan agar masjid menjadi pusat aktivitas sosial membutuhkan langkah konkret yang berkelanjutan.

Hingga kini, belum semua rumah ibadah mampu menjalankan peran sosial secara maksimal di luar fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.

Karena itu, gagasan yang disampaikan Herman Deru dinilai menjadi pengingat bahwa masjid memiliki potensi besar sebagai ruang membangun solidaritas sosial masyarakat. Namun keberhasilannya tentu tidak hanya bergantung pada bangunan fisik, melainkan juga keterlibatan jamaah, pengurus, dan dukungan berbagai pihak.

Apakah harapan menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan sosial benar-benar akan terwujud secara luas di tengah masyarakat, atau masih menyisakan tantangan yang belum terjawab? Waktu yang akan membuktikannya. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here