Beranda Banyuasin Terungkap, Kabupaten Penghasil Beras Tertinggi Jadi Sorotan Nasional, Namun Sejumlah Pertanyaan Belum...

Terungkap, Kabupaten Penghasil Beras Tertinggi Jadi Sorotan Nasional, Namun Sejumlah Pertanyaan Belum Terjawab

6
0
Sekretaris Daerah Banyuasin Erwin Ibrahim menyambut peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional PKN Tingkat II Angkatan XI Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Kantor Camat Tanjung Lago, Selasa (28/7/2026). (Foto: Nota/cimutnews.co.id)

TANJUNG LAGO, cimutnews.co.id — Kabupaten Banyuasin kembali menjadi perhatian dalam sektor pangan nasional. Daerah yang pada 2025 tercatat sebagai kabupaten dengan produksi beras tertinggi di Indonesia ini dipilih sebagai lokasi Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) bagi peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XI Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Kunjungan yang berlangsung di Kantor Camat Tanjung Lago, Selasa (28/7/2026), menjadi ajang berbagi pengalaman mengenai pengembangan sektor pertanian, ketahanan pangan hingga potensi hilirisasi komoditas unggulan.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Apakah keberhasilan produksi pangan yang selama ini dibanggakan telah sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi masyarakat di wilayah sentra pertanian?

Sekretaris Daerah Banyuasin, Ir. Erwin Ibrahim, ST., MM., MBA., IPU., ASEAN.Eng, yang mewakili Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyambut langsung rombongan peserta bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah dan Camat Tanjung Lago.

Dalam sambutannya, Erwin menjelaskan bahwa dipilihnya Banyuasin sebagai lokasi visitasi bukan tanpa alasan. Menurutnya, terdapat banyak kesamaan karakter daerah antara Banyuasin dan Jawa Timur yang sama-sama dikenal sebagai lumbung pangan nasional.

“Jawa Timur merupakan provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia, sedangkan Banyuasin menjadi kabupaten dengan produksi beras tertinggi nasional pada tahun 2025. Momentum ini tentu memperkuat kesinambungan pembelajaran antardaerah,” ujarnya.

Selain sektor padi, Banyuasin juga disebut memiliki kekuatan pada komoditas kelapa. Pemerintah daerah mencatat luas perkebunan kelapa mencapai sekitar 56 ribu hektare, menempatkan Banyuasin sebagai penghasil kelapa terbesar di Sumatera Selatan dan masuk enam besar nasional.

Sentra produksi tersebar di Kecamatan Banyuasin II, khususnya kawasan Sungsang dan Tanjung Api-Api, serta Kecamatan Muara Sugihan yang selama ini dikenal aktif mengembangkan perkebunan kelapa rakyat.

Baca juga  Sengketa Lahan 125 Hektar di Banyuasin Masuk Ranah Perdata, Mediasi di PN Pangkalan Balai Deadlock

Tak hanya itu, pemerintah juga mengungkapkan tengah berlangsung pembangunan pabrik Bio Avtur berbahan baku kelapa di Kecamatan Banyuasin II. Proyek tersebut diklaim menjadi salah satu pengembangan energi terbarukan yang memiliki nilai strategis karena memanfaatkan komoditas lokal.

Di sektor jagung, Banyuasin juga menempati posisi sebagai salah satu penghasil terbesar di Sumatera Selatan. Produksi tersebar di Kecamatan Air Saleh, Talang Kelapa, Banyuasin III hingga Muara Sugihan melalui berbagai kawasan pertanian rakyat maupun kemitraan.

Produktivitas Tinggi, Hilirisasi Jadi Tantangan

Meski berbagai data produksi menunjukkan tren positif, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa tantangan sektor pertanian tidak hanya berhenti pada besarnya hasil panen.

Berdasarkan berbagai kondisi yang selama ini menjadi perhatian di sejumlah daerah sentra pertanian, nilai tambah komoditas masih sangat dipengaruhi oleh keberadaan industri pengolahan, rantai distribusi, akses pasar hingga stabilitas harga hasil panen.

Karena itu, pembangunan industri hilir seperti Bio Avtur berbahan kelapa dinilai menjadi langkah penting apabila benar-benar mampu menyerap hasil produksi petani secara berkelanjutan.

Meski demikian, belum ada penjelasan rinci mengenai kapasitas produksi pabrik tersebut, mekanisme penyerapan hasil kelapa rakyat, maupun dampak ekonomi langsung yang akan dirasakan masyarakat setelah fasilitas itu beroperasi penuh.

Harapan Besar dari Kunjungan Nasional

Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Dr. Ramli Yanto, S.P., M.P., mengatakan Banyuasin dipilih karena memiliki banyak praktik baik yang dapat menjadi bahan pembelajaran peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional.

Menurutnya, selain dikenal sebagai daerah penghasil beras terbesar, Banyuasin juga memiliki potensi pangan lain seperti jagung dan kelapa yang terus berkembang.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Banyuasin atas penerimaan yang sangat baik. Semoga kegiatan ini memberi manfaat bagi Jawa Timur maupun Banyuasin,” katanya.

Baca juga  Banyuasin Tawarkan Lumbung Pangan Nasional, Mampukah Pasar dan Petani Sama-Sama Diuntungkan?

Belajar Tak Cukup dari Angka Produksi

Visitasi kepemimpinan semacam ini tidak hanya menjadi forum melihat keberhasilan melalui angka statistik. Lebih jauh, kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai bagaimana daerah mampu membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan petani, hingga memperkuat hilirisasi industri.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan di banyak wilayah pertanian di Indonesia, di mana produktivitas tinggi belum selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani. Faktor harga, biaya produksi hingga akses pemasaran masih menjadi tantangan yang sering dihadapi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah keberhasilan Banyuasin dalam meningkatkan produksi pangan juga akan diikuti oleh penguatan sektor hilir dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata?

Hingga kini, pembangunan sektor pangan memang terus menunjukkan optimisme. Namun, keberhasilan sesungguhnya akan diukur ketika hasil produksi yang melimpah mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat di tingkat akar rumput. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here