
BANYUASIN, cimutnews.co.id — Program Jumat Curhat kembali digelar jajaran Polres Banyuasin. Kali ini, kegiatan dipusatkan di Masjid Darul Falah, Dusun 06, Desa Sungai Pinang, Kecamatan Rambutan, Jumat (08/05/2026).
Kapolres Banyuasin AKBP Risnan Aldino turun langsung menyapa warga melalui agenda bertajuk “Jumat Curhat Menyala” yang dirangkaikan dengan kegiatan sosial Jumat Berkah.
Program ini disebut menjadi ruang dialog terbuka antara aparat dan masyarakat. Namun di balik suasana hangat tersebut, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan warga: apakah seluruh keluhan masyarakat benar-benar akan ditindaklanjuti setelah forum selesai?
Polisi Turun Langsung ke Tengah Warga
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Tripika Kecamatan Rambutan, tokoh agama, tokoh adat, pengurus BPD, FKPM, hingga jamaah Masjid Darul Falah.
Kapolres Banyuasin hadir bersama jajaran Pejabat Utama Polres Banyuasin dan Kapolsek Rambutan untuk mendengarkan langsung persoalan yang dirasakan masyarakat.
Dalam forum tersebut, warga diberi kesempatan menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari keamanan lingkungan, pelayanan publik, hingga kondisi infrastruktur desa.
Berdasarkan temuan di lapangan, suasana dialog berlangsung cukup cair. Sejumlah warga terlihat antusias menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pimpinan kepolisian daerah.
Polisi Ingin Lebih Dekat dengan Masyarakat
Kapolres Banyuasin AKBP Risnan Aldino menegaskan bahwa kehadiran Polri di tengah masyarakat bukan sekadar agenda seremonial.
Menurutnya, pendekatan humanis diperlukan untuk membangun rasa aman sekaligus memperkuat komunikasi dengan masyarakat desa.
“Kami hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung apa yang menjadi keluhan dan harapan warga. Kedekatan emosional ini penting untuk menciptakan kamtibmas yang kondusif dan humanis,” ujar AKBP Risnan Aldino.
Selain berdialog, Polres Banyuasin juga menyalurkan bantuan sosial berupa mushaf Al-Quran, perlengkapan sajadah, paket sembako, hingga nasi kotak kepada warga sekitar.
Program tersebut disebut sebagai bagian dari implementasi pelayanan sosial kepolisian kepada masyarakat.
Meski forum dialog terus digelar di berbagai wilayah, fakta di lapangan menunjukkan masih ada sejumlah persoalan masyarakat desa yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Sejumlah warga mengaku persoalan infrastruktur, keamanan lingkungan, hingga pelayanan publik masih menjadi keluhan yang rutin muncul dalam berbagai forum masyarakat.
Di sisi lain, warga juga berharap kegiatan seperti Jumat Curhat tidak berhenti sebatas mendengar aspirasi, tetapi diikuti langkah nyata di lapangan.
Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian masyarakat menilai program dialog langsung memang membuat warga lebih berani menyampaikan persoalan yang sebelumnya jarang tersampaikan secara terbuka.
Namun hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana aspirasi warga yang disampaikan benar-benar diproses hingga menghasilkan perubahan konkret?
“Kami Berharap Ada Tindak Lanjut”
Beberapa warga Desa Sungai Pinang mengaku senang karena bisa menyampaikan persoalan secara langsung kepada aparat kepolisian.
Menurut mereka, kehadiran pimpinan Polres di desa membuat masyarakat merasa lebih diperhatikan.
“Kalau bisa jangan hanya datang mendengar, tapi juga ada tindak lanjut supaya masalah di desa benar-benar selesai,” ujar salah satu warga usai kegiatan.
Pendapat serupa juga disampaikan sejumlah tokoh masyarakat yang berharap komunikasi antara aparat dan warga tetap berjalan rutin, bukan hanya saat agenda tertentu.
Program Jumat Curhat belakangan menjadi salah satu pendekatan Polri untuk memperkuat hubungan dengan masyarakat.
Di satu sisi, pola komunikasi langsung dinilai mampu meredam jarak antara aparat dan warga.
Namun di sisi lain, efektivitas program tersebut diduga akan sangat bergantung pada tindak lanjut nyata terhadap berbagai keluhan yang muncul di lapangan.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait mekanisme pengawasan dan evaluasi atas setiap aspirasi masyarakat yang telah disampaikan dalam forum-forum serupa.
Kegiatan Jumat Curhat di Desa Sungai Pinang berlangsung penuh keakraban dan mendapat sambutan positif masyarakat.
Namun publik tampaknya tidak hanya menunggu forum dialog, melainkan juga hasil nyata dari berbagai persoalan yang disampaikan warga.
Apakah program seperti ini mampu benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa, atau justru hanya menjadi rutinitas seremonial yang terus berulang? (Noto)

















