
OKI, cimutnews.co.id — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki bermalam di posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Sabtu (11/10/2026) malam. Kunjungan tersebut dilakukan ketika petugas masih berjibaku memadamkan kebakaran di tengah kemarau panjang, keterbatasan jarak pandang, dan asap yang dilaporkan bergerak menuju Kota Palembang.
Data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan mencatat 47 titik panas (hotspot) dan sembilan titik api (firespot) di wilayah Jungkal. Situasi ini memperlihatkan tantangan penanganan karhutla yang tidak hanya berkaitan dengan pemadaman, tetapi juga pencegahan kebakaran baru dan pengurangan dampak asap terhadap masyarakat.
Gubernur dan Bupati Bermalam di Posko Karhutla Jungkal
Kehadiran Herman Deru dan Muchendi Mahzareki di posko menjadi kesempatan untuk mendengarkan langsung laporan personel satuan tugas (satgas) mengenai perkembangan kebakaran, kendala operasional, serta kebutuhan petugas di lapangan.
Deru mengatakan, keputusannya bermalam di posko merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap personel yang bekerja dalam kondisi sulit. Pemerintah juga menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan lain untuk mendukung petugas selama menjalankan operasi pemadaman.
“Dengan begitu, mereka tahu kami juga memperhatikan dengan cara malam ini menginap di sini,” kata Deru.
Setelah berdialog dengan petugas, gubernur dan bupati makan malam bersama personel di depan tenda posko. Pertemuan itu juga menjadi ruang untuk menyerap aspirasi mengenai tantangan yang dihadapi selama penanganan kebakaran.
Dukungan moril dan logistik penting bagi petugas yang bekerja dalam situasi darurat. Namun, keberhasilan operasi tetap bergantung pada kecukupan sumber air, akses menuju lokasi kebakaran, kemampuan menjangkau titik api, serta koordinasi antarpihak.
Kemarau Panjang Memperbesar Risiko Kebakaran
Menurut keterangan Deru saat kunjungan, Desa Jungkal telah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir disebut terjadi pada 27 Juni 2026, sehingga kondisi lingkungan semakin kering dan menyulitkan upaya pemadaman.
Dampaknya tidak terbatas pada lahan yang terbakar. Sawah dan sumur dilaporkan mengering, sedangkan debit air sungai menyusut. Ketika vegetasi dan material organik kehilangan kelembapan, api berpotensi lebih mudah menyebar dan lebih sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan di kawasan yang memiliki lahan gambut. Api di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi kebakaran karena bara dapat bertahan di lapisan organik yang sulit dijangkau, bergantung pada karakteristik lahan dan kedalaman pembakaran.
Deru meminta masyarakat menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan untuk mengurangi risiko munculnya titik api baru.
“Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ranting, daun kering, dan material lain yang dapat menjadi bahan bakar ketika tersulut api. Pencegahan dinilai penting agar sumber daya petugas tidak terus tersita untuk menangani kebakaran baru.
Sebanyak 47 Titik Panas dan Sembilan Titik Api Dilaporkan
Angka 47 titik panas dan sembilan titik api yang disampaikan dalam kunjungan menjadi gambaran tingkat kewaspadaan di Jungkal. Meski demikian, kedua istilah tersebut tidak dapat dipertukarkan begitu saja.
Titik panas merupakan indikasi anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan, termasuk penginderaan jauh. Sementara itu, titik api dalam laporan lapangan merujuk pada lokasi yang diidentifikasi mengalami kebakaran. Jumlah keduanya tidak otomatis menunjukkan luas lahan yang terbakar ataupun besarnya kerugian.
Deru menyebut Kabupaten OKI sebagai salah satu wilayah dengan jumlah titik panas dan titik api yang tinggi pada saat itu. Kerawanan tersebut berkaitan dengan karakteristik wilayah, termasuk keberadaan lahan gambut yang memerlukan penanganan khusus ketika terbakar.
Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan Desa Jungkal masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, terutama di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.
Muchendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak asap dan menyatakan pemerintah kabupaten akan berupaya maksimal mengatasi kondisi tersebut.
“Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini,” ujar Muchendi.
Jarak Pandang Hambat Water Bombing, Asap Bergerak ke Palembang
Salah satu kendala operasional yang disampaikan dalam kunjungan adalah belum dapat mengudaranya helikopter untuk melakukan pengeboman air (water bombing) akibat jarak pandang yang rendah.
Padahal, pemadaman dari udara dapat membantu menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat. Ketika penerbangan belum memungkinkan, petugas perlu mengandalkan strategi pemadaman lain sesuai kondisi lapangan, ketersediaan peralatan, sumber air, dan tingkat keselamatan personel.
Pada saat bersamaan, angin yang berembus ke arah utara dilaporkan membawa asap dari wilayah OKI menuju Palembang. Pergerakan asap membuat dampak kebakaran berpotensi dirasakan masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi sumber api.
Dampak asap perlu diperhatikan karena paparan partikel dari kebakaran dapat mengganggu kualitas udara dan memicu keluhan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung. Masyarakat sebaiknya mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi dari instansi kesehatan setempat.
Mengapa Penanganan Karhutla Tidak Cukup dengan Memadamkan Api?
Pengalaman penanganan kebakaran lahan menunjukkan bahwa operasi darurat harus berjalan beriringan dengan pencegahan. Selama kondisi lingkungan masih kering, keberhasilan memadamkan satu titik tidak serta-merta menghilangkan risiko munculnya kebakaran lain.
Dalam jangka pendek, prioritasnya ialah mengendalikan api, melindungi warga dan petugas, memastikan akses air, serta mengurangi paparan asap. Koordinasi antara pemerintah daerah, Manggala Agni, masyarakat peduli api (MPA), TNI, Polri, dan instansi terkait diperlukan agar upaya di lapangan berjalan terpadu.
Untuk jangka panjang, penanganan perlu mencakup pengelolaan lahan yang tidak bergantung pada pembakaran, pengawasan kawasan rawan, kesiapsiagaan menghadapi musim kering, dan pemulihan ekosistem yang terdampak. Efektivitas langkah tersebut perlu dinilai melalui data kebakaran, luas area terdampak, durasi pemadaman, serta perkembangan kualitas udara.
Ada satu hal penting dari kondisi Jungkal: jumlah titik panas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penanganan karhutla. Kecepatan mencegah titik baru, kemampuan memastikan api benar-benar padam, dan perlindungan masyarakat dari asap sama pentingnya. Tanpa pencegahan, petugas berisiko terus menghadapi kebakaran berulang ketika kondisi cuaca belum mendukung pemulihan lingkungan.
Pemerintah dan Masyarakat Perlu Bergerak Bersamaan
Bermalamnya gubernur dan bupati di posko menunjukkan perhatian pemerintah terhadap petugas yang menghadapi kondisi sulit. Tantangan berikutnya ialah memastikan dukungan tersebut diterjemahkan menjadi kebutuhan operasional yang terpenuhi, koordinasi yang efektif, serta perlindungan nyata bagi warga terdampak.
Masyarakat di wilayah rawan diminta tidak membakar lahan atau sampah secara terbuka, menghindari sumber api di sekitar vegetasi kering, dan segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas setempat. Warga yang terdampak asap juga perlu mengikuti imbauan kesehatan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika berada di luar ruangan.
Penanganan karhutla di OKI membutuhkan kerja bersama selama risiko kebakaran masih tinggi. Pemadaman harus berjalan seiring dengan pencegahan, sementara perkembangan titik api dan dampak asap perlu terus dipantau agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas. (Asep)

















