Beranda OKI Mandira Kasus ISPA di Tulung Selapan OKI Capai 158 pada Agustus, Bupati Minta...

Kasus ISPA di Tulung Selapan OKI Capai 158 pada Agustus, Bupati Minta Layanan Gratis dan Masker

10
0
Bupati OKI Muchendi Mahzareki meninjau Puskesmas Tulung Selapan untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi warga terdampak kabut asap karhutla berjalan maksimal.(Foto:Asep/cimutnews)

OKI, cimutnews.co.id — Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), Muchendi Mahzareki, meminta fasilitas kesehatan memperkuat penanganan gangguan pernapasan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat meninjau Puskesmas Tulung Selapan, Selasa (6/10), ia menegaskan masyarakat terdampak harus memperoleh pelayanan kesehatan secara maksimal dan gratis sesuai arahan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

Perhatian tersebut mengemuka di tengah catatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Tulung Selapan yang mencapai 158 kasus pada Agustus. Pemerintah daerah juga meminta pembagian masker diperluas hingga ke sekolah untuk mengurangi risiko paparan asap terhadap anak-anak.

Kasus ISPA Berfluktuasi, Agustus Tertinggi dalam Data yang Disampaikan

Data Puskesmas Tulung Selapan menunjukkan jumlah kasus ISPA mengalami perubahan selama lima periode pencatatan terakhir. Pada Juni tercatat 130 kasus, meningkat menjadi 135 kasus pada Juli, kemudian mencapai 158 kasus pada Agustus.

Jumlah kasus turun menjadi 118 pada September. Sementara itu, hingga minggu pertama Oktober, puskesmas mencatat 28 kasus.

Rinciannya sebagai berikut:

  • Juni: 130 kasus.
  • Juli: 135 kasus.
  • Agustus: 158 kasus.
  • September: 118 kasus.
  • Minggu pertama Oktober: 28 kasus.

Data tersebut memperlihatkan bahwa Agustus menjadi periode dengan jumlah kasus tertinggi dalam rentang pencatatan yang disampaikan. Dibandingkan Juli, jumlah kasus pada Agustus bertambah 23 kasus atau sekitar 17 persen.

Meski demikian, angka tersebut belum cukup untuk memastikan seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap. Penetapan hubungan langsung membutuhkan data tambahan, termasuk riwayat paparan pasien, diagnosis medis, kondisi kualitas udara, serta faktor risiko lainnya.

Jumlah kasus pada Oktober juga belum dapat dibandingkan langsung dengan bulan penuh karena pencatatannya baru mencakup minggu pertama. Karena itu, perkembangan berikutnya perlu dipantau untuk mengetahui apakah penurunan pada September berlanjut.

Baca juga  Terungkap, Ribuan Personel Siaga Karhutla OKI, Namun Ancaman Api Belum Usai

Muchendi Minta Puskesmas Jemput Bola

Dalam kunjungannya, Muchendi meminta tenaga kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas diminta aktif memberikan edukasi mengenai bahaya paparan asap, gejala gangguan pernapasan, serta langkah perlindungan ketika kualitas udara memburuk.

“Yang paling penting masyarakat harus mendapat pelayanan kesehatan secara maksimal. Kalau ada keluhan akibat asap, segera ditangani. Pelayanannya gratis, sesuai dengan edaran dan arahan Gubernur Sumatera Selatan,” kata Muchendi.

Ia menilai dampak karhutla perlu ditangani lebih luas daripada sekadar pemadaman api. Ketika asap menyebar ke permukiman, persoalan lingkungan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang membutuhkan respons cepat dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Muchendi juga meminta edukasi menjangkau lingkungan sekolah. Langkah tersebut penting agar siswa, guru, dan orang tua mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika udara dipenuhi asap atau mulai muncul keluhan kesehatan.

Pemerintah daerah, menurut arahan yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, juga perlu memastikan masyarakat di wilayah terdampak memperoleh akses terhadap masker tanpa biaya.

“Masker harus dibagikan gratis kepada masyarakat sekitar. Sekolah-sekolah juga harus mendapat pembagian masker. Anak-anak harus kita lindungi,” ujarnya.

Anak-anak dan Lansia Perlu Mendapat Perlindungan Lebih

Paparan asap kebakaran dapat menimbulkan iritasi mata, batuk, gangguan tenggorokan, hingga memperburuk penyakit pernapasan yang sudah diderita seseorang. Risiko tidak hanya bergantung pada ketebalan asap yang terlihat, tetapi juga konsentrasi partikel pencemar, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan individu.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung termasuk kelompok yang perlu mendapat perlindungan khusus ketika kabut asap memburuk. Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan. (Sumber: Kementerian Kesehatan RI, 26 Agustus 2026).

Baca juga  Karhutla OKI: 47 Titik Panas Terdeteksi di Jungkal, Asap Mengarah ke Palembang

Karena itu, pembagian masker sebaiknya disertai edukasi tentang cara pemakaian yang benar, pembatasan kegiatan luar ruang, serta pemantauan gejala. Masker bukan pengganti upaya mengurangi paparan, terutama ketika kondisi udara sudah tidak sehat.

Bagi sekolah, langkah pencegahan dapat mencakup pengurangan kegiatan fisik di luar ruangan saat asap menebal dan komunikasi dengan orang tua apabila siswa mengalami batuk, sesak napas, atau iritasi mata. Keputusan mengenai aktivitas belajar perlu mempertimbangkan kondisi udara dan arahan instansi terkait.

Penanganan Kesehatan Tidak Bisa Menunggu Asap Hilang

Secara jangka pendek, layanan gratis dapat membantu mengurangi hambatan masyarakat untuk memeriksakan diri ketika mengalami keluhan. Namun, efektivitas kebijakan tersebut juga bergantung pada ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, sarana pemeriksaan, dan informasi yang mudah dipahami warga.

Dalam jangka panjang, pencatatan kasus ISPA perlu dihubungkan dengan pemantauan kondisi lingkungan. Jika jumlah kunjungan meningkat bersamaan dengan memburuknya kualitas udara, pemerintah dan tenaga kesehatan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan wilayah prioritas, memperkuat pelayanan, dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat.

Data bulanan yang tersedia saat ini berguna sebagai sinyal awal, tetapi belum menjelaskan penyebab perubahan kasus. Belum tersedia pula data pembanding dari periode yang sama pada tahun sebelumnya atau angka ISPA seluruh Kabupaten OKI dalam bahan yang disampaikan. Perbandingan tersebut diperlukan agar kondisi Tulung Selapan dapat ditempatkan secara proporsional dalam gambaran kesehatan daerah.

Sebagai konteks nasional, Kementerian Kesehatan melaporkan 13.449 kasus ISPA secara kumulatif dari 63 kabupaten/kota di tujuh provinsi terdampak karhutla hingga 27 Agustus 2026. Angka nasional ini menunjukkan luasnya perhatian terhadap dampak kesehatan akibat karhutla, tetapi tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa tingkat risiko Tulung Selapan sama dengan daerah lain.

Baca juga  Terungkap: Daops Karhutla OKI Mulai Disiapkan, Apa Dampaknya?

Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan: keberhasilan penanganan kabut asap tidak cukup diukur dari jumlah masker yang dibagikan atau pasien yang dilayani, tetapi juga dari seberapa cepat masyarakat menerima informasi dan seberapa dini gangguan kesehatan terdeteksi. Dengan pendekatan tersebut, pelayanan kesehatan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga membantu mencegah keluhan berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Warga Diminta Segera Memeriksakan Diri

Muchendi mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap menebal. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker dan segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan setelah terpapar asap.

“Jangan menunggu kondisi menjadi berat. Kalau mulai batuk, sesak, mata terasa perih, atau ada gangguan pernapasan setelah terpapar asap, segera datang ke fasilitas kesehatan,” kata Muchendi.

Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi anak-anak, lansia, dan warga dengan riwayat penyakit pernapasan. Apabila muncul sesak napas berat atau kondisi memburuk dengan cepat, pertolongan medis perlu segera dicari.

Penanganan dampak karhutla di Tulung Selapan kini membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, puskesmas, sekolah, dan masyarakat. Pelayanan kesehatan gratis, distribusi masker, edukasi, serta pemantauan kasus menjadi langkah penting untuk melindungi warga selama ancaman kabut asap masih perlu diwaspadai. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here