Beranda Nasional Kompetensi Vokasi Tak Cukup, Menaker Yassierli Dorong Mahasiswa Kuasai Human Skills

Kompetensi Vokasi Tak Cukup, Menaker Yassierli Dorong Mahasiswa Kuasai Human Skills

14
0
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan kuliah umum kepada mahasiswa Politeknik Mitra Industri di Bekasi, Rabu (16/9/2026).(Foto: Kemnaker/CN)

BEKASI, cimutnews.co.id — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan mahasiswa pendidikan kejuruan perlu memiliki bekal lebih dari sekadar kemampuan teknis. Saat memberikan kuliah umum di Politeknik Mitra Industri, Bekasi, Rabu (16/9/2026), ia mendorong mahasiswa mengasah human skills seperti komunikasi, kerja sama tim, negosiasi, kemampuan beradaptasi, hingga kepedulian sosial.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah tuntutan dunia kerja yang tidak hanya membutuhkan tenaga dengan keterampilan teknis, tetapi juga mampu bekerja lintas fungsi, menyampaikan gagasan, berkolaborasi, serta menghadapi perubahan di lingkungan industri.

Menaker: Kemampuan Teknis Harus Berjalan Bersama Human Skills

Yassierli mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada penguasaan satu bidang teknis secara eksklusif. Ia memberi contoh kemampuan coding yang tinggi belum cukup apabila seseorang tidak mampu berkomunikasi dan bekerja bersama anggota tim.

“Yang kita inginkan bukan orang yang misalnya hanya menguasai coding saja. Pagi, siang, sore, malam, coding. Tetapi dia tidak bisa bergaul dalam tim kerjanya, tidak berinteraksi dengan lainnya,” kata Yassierli.

Menurut dia, human skills harus dibentuk sejak bangku kuliah melalui pengalaman belajar yang membuat mahasiswa terbiasa berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan melakukan presentasi, berkomunikasi, bekerja dalam kelompok, bernegosiasi, dan beradaptasi tidak cukup dipelajari secara teoritis. Keterampilan tersebut membutuhkan latihan berulang melalui proyek, organisasi, maupun pengalaman langsung di lingkungan industri.

Soft Skills Sudah Menjadi Bagian dari Pengembangan Kompetensi

Penekanan terhadap kemampuan nonteknis tersebut juga sejalan dengan materi pelatihan yang dikembangkan Kementerian Ketenagakerjaan. Platform e-Training Kemnaker, misalnya, menyediakan materi soft skills yang mencakup kerja sama tim, integritas, berpikir kritis, kemampuan dasar komunikasi, hingga persiapan menghadapi proses lamaran dan wawancara kerja.

Artinya, kebutuhan terhadap human skills bukan sekadar tambahan di luar kompetensi vokasi. Kemampuan tersebut semakin ditempatkan sebagai bagian dari kesiapan seseorang menghadapi lingkungan kerja.

Baca juga  Pemkot Blitar Gelar Operasi Pasar dan Pemantauan Harga Jelang Idulfitri 1446 H

Pengalaman Industri Menjadi Ruang Menguji Kompetensi

Dalam kuliah umum tersebut, Yassierli juga mengapresiasi pendekatan pembelajaran di Politeknik Mitra Industri yang memberi mahasiswa kesempatan memperoleh pengalaman melalui proyek dan jejaring dengan industri.

Bagi mahasiswa vokasi, pengalaman semacam ini memiliki fungsi ganda. Selain menguji kemampuan teknis yang diperoleh selama perkuliahan, mahasiswa dapat belajar menghadapi situasi kerja yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, pembagian tugas, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.

Yassierli meminta mahasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

“Manfaatkan kesempatan itu, fokus dan jangan disia-siakan. Saya yakin di sini Anda belajar dan sebelum lulus sudah punya berbagai kompetensi dan pengalaman,” ujarnya.

Pesan itu juga sejalan dengan arah penyelenggaraan pelatihan vokasi pemerintah. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2025 mengatur pelatihan vokasi yang berorientasi pada penguasaan kompetensi, peningkatan produktivitas, serta pengembangan wirausaha. Regulasi tersebut mencakup metode off the job training, on the job training, hingga asesmen kompetensi.

Mahasiswa Diminta Tidak Lepas dari Persoalan Masyarakat

Selain kesiapan memasuki industri, Yassierli mengingatkan mahasiswa mengenai tanggung jawab sosial sebagai bagian dari kelompok terdidik.

Ia mendorong mahasiswa berani menyampaikan gagasan dan aspirasi mengenai persoalan masyarakat. Namun, keberanian menyampaikan pandangan, menurut dia, perlu dibarengi sikap yang baik, sopan, dan bertanggung jawab.

“Mahasiswa harus menjadi garda moral bangsa. Silakan speak up. Indonesia membutuhkan mahasiswa yang peduli,” katanya.

Pernyataan tersebut memperluas makna kesiapan lulusan. Dunia kerja memang membutuhkan kompetensi profesional, tetapi perguruan tinggi juga berperan membentuk individu yang mampu memahami persoalan di sekitarnya dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Tantangan Vokasi Bukan Lagi Sekadar Bisa Bekerja

Kompetensi Harus Relevan dengan Kebutuhan Industri

Pengembangan pendidikan vokasi pada dasarnya berkaitan erat dengan kebutuhan pasar kerja. Pemerintah melalui kebijakan revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi mendorong keterhubungan yang lebih kuat antara lembaga pendidikan, pelatihan, industri, dan kebutuhan tenaga kerja. Kemnaker juga menempatkan pelatihan berbasis kompetensi sebagai salah satu bagian penting dalam pengembangan SDM

Baca juga  Layanan Kesehatan Gratis Kemnaker Digelar, Seberapa Jauh Manfaatnya Menjangkau Warga?

Dalam konteks itu, kemampuan teknis tetap menjadi fondasi. Namun, fondasi tersebut perlu dilengkapi kemampuan berkomunikasi dan bekerja dengan manusia lain.

Seorang lulusan yang mampu mengoperasikan teknologi tetapi kesulitan menjelaskan persoalan kepada tim, menerima masukan, bernegosiasi atau beradaptasi dengan perubahan akan menghadapi tantangan berbeda dibandingkan pekerja yang memiliki kombinasi kemampuan teknis dan interpersonal.

Dari Siap Kerja Menjadi Mampu Mengembangkan Industri

Yassierli berharap mahasiswa tidak berhenti pada target memperoleh pekerjaan setelah lulus.

Ia ingin lulusan pendidikan vokasi memiliki kapasitas untuk ikut mengembangkan industri tempat mereka bekerja. Dengan pengalaman proyek dan interaksi langsung dengan industri selama masa pendidikan, mahasiswa diharapkan memahami persoalan nyata sekaligus mampu menawarkan solusi.

“Semoga tiga atau empat tahun lagi, saat Anda hadir ke industri, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengembangkan industri. Dan semoga dari sini juga lahir pemimpin-pemimpin masa depan,” ujar Yassierli.

Analisis: Human Skills Menentukan Cara Kompetensi Digunakan

Perubahan teknologi membuat keterampilan teknis dapat berkembang dengan cepat. Karena itu, kemampuan untuk belajar, beradaptasi, berkomunikasi, dan bekerja bersama orang lain menjadi penting agar kompetensi teknis tidak berhenti sebagai kemampuan individual.

Dalam jangka pendek, penguasaan human skills dapat membantu mahasiswa beradaptasi dengan pola kerja industri yang menuntut kolaborasi. Mahasiswa yang terbiasa mengerjakan proyek bersama juga memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami pembagian peran, tenggat waktu, komunikasi pekerjaan, dan penyelesaian konflik.

Dalam jangka panjang, kemampuan tersebut berkaitan dengan kapasitas lulusan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Kompetensi teknis dapat menjadi pintu masuk ke dunia kerja, sedangkan kemampuan memimpin, berkomunikasi, bernegosiasi dan mengambil keputusan membantu seseorang berkembang di dalam organisasi.

Baca juga  Terungkap, Pedoman Kerja Inklusif ASEAN Masih Butuh Ukuran Nyata

Micro-Insight: Lulusan Vokasi Dinilai dari Cara Menyelesaikan Masalah

Ada satu pesan penting dari kuliah umum Yassierli: ukuran keberhasilan pendidikan vokasi tidak semata-mata apakah mahasiswa bisa melakukan sebuah pekerjaan, tetapi juga bagaimana ia bekerja bersama orang lain ketika menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Di lingkungan industri, persoalan jarang berdiri sendiri. Masalah teknis dapat berkaitan dengan produksi, keselamatan kerja, target bisnis, pelanggan, hingga koordinasi antarbagian. Karena itu, kemampuan menghubungkan kompetensi teknis dengan kemampuan manusia menjadi bagian penting dari kesiapan kerja.

Mahasiswa Diminta Memaksimalkan Masa Kuliah

Yassierli mendorong mahasiswa memanfaatkan tiga atau empat tahun masa pendidikan untuk membangun bekal secara menyeluruh. Kompetensi teknis, pengalaman industri, organisasi, komunikasi, dan kepedulian sosial dinilai perlu dikembangkan secara bersamaan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan tertentu. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan itu dapat digunakan secara efektif dalam lingkungan kerja dan memberi kontribusi terhadap perkembangan industri.

Pada akhirnya, pesan Menaker Yassierli di Bekasi menempatkan mahasiswa sebagai calon tenaga profesional sekaligus calon pemimpin. Mereka dituntut tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga mampu berkolaborasi, beradaptasi, menyampaikan gagasan, dan memahami persoalan masyarakat.

Bagi mahasiswa pendidikan kejuruan, masa kuliah karena itu bukan sekadar tahap menuju ijazah. Ia menjadi ruang untuk membangun kombinasi kompetensi teknis dan human skills yang akan menentukan bagaimana mereka berkontribusi ketika benar-benar memasuki dunia kerja. (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here