Beranda Nusantara Masjid At-Thohir Disiapkan Jadi Wisata Religi Unggulan, Namun Manfaat Nyatanya Masih Dinanti

Masjid At-Thohir Disiapkan Jadi Wisata Religi Unggulan, Namun Manfaat Nyatanya Masih Dinanti

8
0
Peluncuran program Pariwisata Ramah Muslim (Smiling West Java–Muslim Friendly Tourism) di Masjid At-Thohir, Kota Depok, sebagai langkah awal pengembangan destinasi wisata religi berbasis Zona KHAS. (Foto: Surya/CimutNews).

KOTA DEPOK, cimutnews.co.id — Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi meluncurkan program Pariwisata Ramah Muslim (Smiling West Java–Muslim Friendly Tourism) dengan menjadikan Masjid At-Thohir, Kota Depok, sebagai proyek percontohan destinasi wisata religi berbasis Zona KHAS (Kuliner, Halal, Aman, dan Sehat).

Peluncuran yang digelar pada 9 Juli 2026 itu membawa harapan baru bagi pengembangan sektor pariwisata berbasis nilai-nilai keislaman. Pemerintah menargetkan kawasan Masjid At-Thohir mampu menjadi magnet wisata religi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan yang masih menjadi perhatian. Apakah pengembangan destinasi ini nantinya benar-benar berdampak bagi pelaku UMKM, masyarakat sekitar, hingga pengalaman wisatawan, atau sebatas menjadi seremoni peluncuran program?

Pengembangan Masjid At-Thohir sebagai destinasi wisata religi dilakukan melalui kolaborasi antara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), serta Balai Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, mengatakan saat ini pemerintah tengah melakukan pendampingan agar Masjid At-Thohir menjadi destinasi wisata religi pertama di Jawa Barat yang mengusung konsep Zona KHAS.

Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya menghadirkan kawasan wisata yang nyaman bagi wisatawan Muslim, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekosistem ekonomi halal yang terintegrasi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Depok siap mendukung penuh program tersebut.

Ia menilai Masjid At-Thohir bukan sekadar tempat ibadah, tetapi telah berkembang menjadi ruang publik yang memiliki daya tarik religius sekaligus potensi besar untuk mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Pembangunan sektor pariwisata tidak lagi hanya mengejar jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kualitas destinasi, pelayanan berbasis data, serta kolaborasi berbagai pihak,” ujar Chandra.

Baca juga  Sekda Jabar Buka Forum Konsultasi Publik RPJMD 2025-2029

Keberhasilan sebuah destinasi wisata religi tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur ataupun status sebagai kawasan unggulan.

Pengalaman di berbagai daerah memperlihatkan keberhasilan wisata religi justru sangat bergantung pada kesiapan fasilitas pendukung, keterlibatan pelaku usaha lokal, kemudahan akses transportasi, sistem informasi yang baik, hingga keberlanjutan pengelolaan kawasan.

Di sisi lain, sejumlah pelaku UMKM di sekitar destinasi wisata religi di berbagai daerah sering mengaku masih membutuhkan kepastian mengenai peluang usaha yang benar-benar terbuka setelah sebuah kawasan ditetapkan sebagai destinasi prioritas.

Begitu pula wisatawan umumnya tidak hanya mempertimbangkan kemegahan bangunan, tetapi juga kenyamanan parkir, aksesibilitas, kebersihan lingkungan, kemudahan memperoleh produk halal bersertifikat, serta pengalaman berkunjung secara keseluruhan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana konsep Zona KHAS nantinya mampu memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar, bukan hanya meningkatkan citra destinasi.

Berdasarkan informasi yang disampaikan pemerintah, pengembangan kawasan ini juga akan didukung melalui penyediaan data kepariwisataan yang lebih terbuka.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperkenalkan capaian pembangunan sektor pariwisata melalui Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional Jawa Barat.

Selain itu, masyarakat kini dapat mengakses berbagai informasi destinasi, statistik, hingga perkembangan sektor pariwisata melalui platform digital Smiling West Java, yang diklaim menyajikan data secara akurat, mutakhir, dan terintegrasi.

Langkah digitalisasi tersebut dinilai penting karena pengambilan kebijakan pariwisata ke depan semakin membutuhkan data yang terbuka serta mudah diakses publik.

Meski demikian, hingga kini, belum semua indikator keberhasilan program Pariwisata Ramah Muslim dijelaskan secara rinci kepada masyarakat, termasuk target peningkatan kunjungan wisatawan, dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, maupun tahapan implementasi kawasan Zona KHAS setelah peluncuran.

Baca juga  Kecelakaan Beruntun Truk Fuso di Bener Meriah Diduga Rem Blong, 6 Kendaraan Rusak, Kerugian Capai Rp70 Juta

Bagi masyarakat, keberhasilan sebuah program pada akhirnya akan diukur bukan hanya dari banyaknya agenda peluncuran ataupun penghargaan yang diterima, melainkan dari perubahan nyata yang dapat dirasakan dalam aktivitas ekonomi, pelayanan publik, hingga kenyamanan wisatawan.

Masjid At-Thohir memang memiliki potensi besar sebagai ikon wisata religi baru di Jawa Barat. Namun, perjalanan menuju destinasi unggulan membutuhkan proses panjang, konsistensi pengelolaan, serta evaluasi berkelanjutan.

Apakah konsep wisata ramah Muslim yang kini mulai diperkenalkan akan benar-benar menghadirkan manfaat merata bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal, atau masih menyisakan pekerjaan rumah dalam implementasinya? Pertanyaan tersebut menjadi tantangan yang akan terjawab seiring berjalannya program di lapangan. (Surya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here