Beranda Nusantara Milangkala Tatar Sunda Dibuka di Sumedang, Dedi Mulyadi Soroti Fakta Sejarah Mahkota...

Milangkala Tatar Sunda Dibuka di Sumedang, Dedi Mulyadi Soroti Fakta Sejarah Mahkota Binokasih

19
0
1. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan alasan pemilihan Sumedang sebagai lokasi pembuka Milangkala Tatar Sunda 2026. (foto: Siti/cimutnews.co.id)

SUMEDANG, cimutnews.co.id – Dedi Mulyadi mengungkap alasan Kabupaten Sumedang dipilih sebagai lokasi pembuka perhelatan Milangkala Tatar Sunda 2026. Menurutnya, keputusan tersebut didasarkan pada keberadaan Mahkota Binokasih yang hingga kini masih tersimpan dan terjaga di Sumedang sebagai bukti fisik sejarah perjalanan Kerajaan Sunda.

Pernyataan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat melakukan kunjungan ke Sumedang pada Sabtu (2/4/2026). Ia menilai pendekatan sejarah berbasis fakta fisik lebih penting dibanding sekadar narasi atau cerita turun-temurun yang belum memiliki landasan historis kuat.

Mahkota Binokasih Jadi Alasan Utama Pemilihan Sumedang

Menurut Dedi, keberadaan Mahkota Binokasih menjadi penanda penting bahwa Sumedang memiliki posisi strategis dalam lintasan sejarah Tatar Sunda.

Bukti Sejarah Dinilai Lebih Kuat dari Narasi Lisan

“Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menegaskan bahwa pembangunan kesadaran sejarah masyarakat seharusnya bertumpu pada fakta dan peninggalan nyata agar generasi muda memiliki pemahaman yang lebih objektif tentang identitas budaya Sunda.

“Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi,” tegasnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan arah pendekatan budaya yang mulai dikedepankan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yakni penguatan identitas berbasis data sejarah dan artefak budaya.

Sumedang Dinilai Memiliki Posisi Sentral dalam Sejarah Sunda

Kabupaten Sumedang selama ini dikenal memiliki hubungan erat dengan sejarah Kerajaan Sumedang Larang yang dipercaya menjadi salah satu penerus penting peradaban Sunda setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran.

Mahkota Binokasih Simbol Kekuasaan Sunda

Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan salah satu pusaka yang diyakini memiliki nilai historis tinggi dalam perjalanan kerajaan Sunda.

Baca juga  Walikota Blitar Menyerahkan 204 SK CPNS dan PPPK, Tingkatkan Pelayanan Pada Masyarakat

Dalam berbagai catatan sejarah Sunda, Mahkota Binokasih disebut sebagai simbol legitimasi kekuasaan yang diwariskan dari Kerajaan Pajajaran kepada Sumedang Larang pada masa peralihan kekuasaan di tanah Sunda.

Keberadaan pusaka tersebut selama ini menjadi salah satu identitas budaya penting masyarakat Sumedang.

Tidak hanya bernilai simbolis, Mahkota Binokasih juga sering menjadi pusat perhatian dalam kegiatan budaya dan sejarah Sunda karena dianggap mewakili kesinambungan peradaban Sunda di Jawa Barat.

Milangkala Tatar Sunda Bukan Sekadar Festival Budaya

Perhelatan Milangkala Tatar Sunda sendiri tidak hanya diposisikan sebagai agenda seremonial budaya, tetapi juga upaya memperkuat identitas sejarah masyarakat Sunda di tengah perubahan sosial modern.

Upaya Bangun Kesadaran Budaya Generasi Muda

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai daerah di Jawa Barat mulai aktif menghidupkan kembali ruang-ruang budaya lokal melalui festival sejarah, revitalisasi situs budaya, hingga pendidikan berbasis kearifan lokal.

Menurut sejumlah pengamat budaya, langkah tersebut penting karena generasi muda saat ini semakin jauh dari literasi sejarah daerahnya sendiri.

Kegiatan seperti Milangkala Tatar Sunda dinilai dapat menjadi ruang edukasi publik agar sejarah tidak hanya dipahami sebagai cerita masa lalu, tetapi bagian dari identitas sosial dan kebudayaan masyarakat modern.

Dedi Mulyadi Dorong Pendekatan Sejarah Berbasis Fakta

Pernyataan Dedi Mulyadi mengenai pentingnya fakta sejarah menjadi sorotan karena selama ini diskursus sejarah Sunda kerap dipenuhi perdebatan antara catatan akademik, mitologi, dan cerita rakyat.

Pergeseran Narasi Budaya di Jawa Barat

Salah satu hal menarik dari pernyataan Dedi adalah munculnya pendekatan baru dalam membangun narasi budaya daerah.

Jika sebelumnya penguatan budaya lokal lebih banyak bertumpu pada romantisme sejarah dan folklor, kini mulai muncul dorongan untuk mengedepankan bukti fisik, arsip, dan artefak sejarah sebagai dasar identitas budaya.

Baca juga  Bupati Lahat Tinjau Agrowisata Kebun Buah Cuko Simpou, Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Desa

Pendekatan ini penting karena dapat memperkuat legitimasi sejarah daerah sekaligus membuka peluang pengembangan wisata budaya berbasis edukasi.

Potensi Dampak terhadap Pariwisata dan Pendidikan

Dalam jangka pendek, penetapan Sumedang sebagai pembuka Milangkala Tatar Sunda diperkirakan akan meningkatkan perhatian publik terhadap sejarah lokal dan warisan budaya Sunda.

Sementara dalam jangka panjang, penguatan identitas sejarah berbasis fakta dapat berdampak pada sektor pendidikan, pelestarian budaya, hingga pengembangan wisata sejarah di Jawa Barat.

Daerah yang memiliki peninggalan sejarah otentik berpotensi menjadi pusat wisata edukasi baru jika dikelola secara konsisten dan profesional.

Sumedang Berpeluang Jadi Pusat Edukasi Sejarah Sunda

Keberadaan Mahkota Binokasih membuat Sumedang tidak hanya dikenal sebagai daerah budaya, tetapi juga berpotensi menjadi pusat pengembangan literasi sejarah Sunda di Jawa Barat.

Pemerintah daerah dan berbagai komunitas budaya diperkirakan akan semakin aktif menghidupkan diskusi sejarah, pelestarian pusaka, hingga pengembangan wisata budaya berbasis edukasi masyarakat.

Di tengah derasnya modernisasi, penguatan identitas sejarah seperti ini dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan budaya lokal agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Baca juga perkembangan kebijakan budaya dan revitalisasi sejarah lokal lainnya di Jawa Barat yang kini mulai diarahkan pada penguatan identitas berbasis fakta sejarah. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here