
KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Bandung kembali menjadi magnet wisata budaya. Ribuan warga memadati kawasan Jalan Asia Afrika saat Festival Asia Afrika 2026 digelar Pemerintah Kota Bandung dengan menghadirkan karnaval budaya, pertunjukan seni, hingga bazar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Suasana meriah terlihat sejak pagi. Jalan bersejarah yang menjadi simbol Konferensi Asia Afrika itu dipenuhi masyarakat dari berbagai daerah. Namun, di balik tingginya antusiasme pengunjung, muncul pertanyaan yang masih relevan setiap kali festival serupa digelar: sejauh mana kegiatan ini benar-benar memberi dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi pelaku usaha lokal?
Festival memang menghadirkan hiburan sekaligus ruang promosi budaya. Akan tetapi, apakah manfaatnya hanya terasa selama acara berlangsung, atau mampu menciptakan efek ekonomi yang lebih panjang bagi masyarakat?
Berdasarkan pantauan di lokasi, ribuan pengunjung mulai berdatangan sejak pagi hari. Mereka memadati trotoar Jalan Asia Afrika untuk menyaksikan parade budaya yang menghadirkan peserta dari berbagai daerah serta delegasi mancanegara.
Selain menjadi hiburan akhir pekan, festival juga dipenuhi puluhan stan UMKM yang menawarkan beragam produk, mulai dari kuliner, fesyen, kerajinan hingga kosmetik lokal.
Salah seorang pengunjung, Isrowiah, warga Cimahi Selatan, mengaku sengaja datang bersama keluarganya setelah mengetahui informasi kegiatan melalui media sosial. Ia tiba sekitar pukul 08.30 WIB agar bisa menikmati seluruh rangkaian acara.
Menurutnya, Festival Asia Afrika menjadi alternatif hiburan keluarga tanpa harus bepergian jauh keluar kota.
“Alhamdulillah jadi ada hiburan di dalam kota. Nggak harus keluar kota, macet-macetan. Semoga acara seperti ini sering diselenggarakan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi hadirnya delegasi dari berbagai negara yang dinilai semakin memperkuat citra Kota Bandung di tingkat internasional.
“Alhamdulillah, jadi Indonesia khususnya Kota Bandung semakin mendunia,” katanya.
Pengunjung lain, Dea, juga mengaku sengaja memanfaatkan akhir pekan bersama keluarga untuk menikmati festival tersebut.
Menurutnya, suasana semakin ramai menjelang sore hari sehingga memberikan pengalaman berbeda dibanding hari biasa.
“Seru sih, rame. Kayaknya kalau sore lebih ramai lagi,” ucapnya.
Tak hanya menyaksikan parade budaya, Dea mengunjungi bazar UMKM yang menjadi salah satu pusat keramaian selama festival berlangsung.
Ia menilai keberadaan bazar tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat mengenal lebih dekat produk-produk lokal sekaligus memberi ruang promosi bagi para pelaku usaha.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tingginya jumlah pengunjung belum tentu secara otomatis berbanding lurus dengan peningkatan transaksi seluruh pelaku UMKM. Sejumlah pelaku usaha mengaku ramai didatangi masyarakat yang ingin melihat ataupun mencoba produk, meski hasil penjualan baru dapat diketahui setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Salah satunya disampaikan Rahil, penjaga stan kosmetik OMG. Sejak pagi, stan yang dijaganya dipenuhi pengunjung yang penasaran mencoba berbagai produk yang dipamerkan.
“Alhamdulillah dari pagi ramai banget. Banyak pengunjung penasaran dan mencoba tester produk OMG,” katanya.
Rahil berharap antusiasme tersebut dapat berubah menjadi peningkatan penjualan.
“Harapannya tentu omzet bisa meledak,” ujarnya.
Meski harus menjaga stan sehingga tidak sempat menyaksikan langsung parade budaya, Rahil tetap mengikuti jalannya karnaval melalui siaran langsung menggunakan telepon genggam.
Menurutnya, kualitas kostum dan tata rias peserta menunjukkan persiapan yang matang.
“Menurut aku sudah bagus banget. Makeup dan kostumnya benar-benar proper. Semoga ke depan acaranya lebih besar, lebih ramai dan penampilannya semakin menarik,” tuturnya.
Di sisi lain, sejumlah pengunjung yang ditemui mengaku festival seperti ini memang menjadi daya tarik wisata sekaligus hiburan murah bagi keluarga. Namun mereka juga berharap kegiatan serupa tidak hanya menjadi agenda tahunan yang meriah, melainkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil maupun sektor jasa di sekitar kawasan wisata.
Pengamat ekonomi kreatif selama ini juga menilai keberhasilan sebuah festival tidak semata diukur dari banyaknya pengunjung. Dampak terhadap lama tinggal wisatawan, tingkat transaksi UMKM, okupansi hotel, hingga perputaran ekonomi kawasan menjadi indikator yang tak kalah penting untuk dievaluasi.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai nilai transaksi ekonomi yang berhasil dibukukan selama Festival Asia Afrika 2026 berlangsung. Data tersebut diperkirakan akan menjadi salah satu ukuran apakah kemeriahan acara benar-benar berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi lokal atau masih didominasi oleh tingginya kunjungan masyarakat.
Festival Asia Afrika telah berhasil menghadirkan ruang pertemuan budaya, hiburan, dan aktivitas ekonomi dalam satu kawasan. Namun pertanyaan berikutnya masih terbuka: apakah geliat ekonomi yang tercipta mampu bertahan setelah panggung hiburan ditutup, atau hanya menjadi lonjakan sesaat yang kembali mereda usai festival berakhir? (Siti)

















