
PAGAR ALAM, CimutNews.co.id — Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, membuka Majelis Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori, Airlaga, Kecamatan Pagar Alam Utara, Kamis malam (13/8/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum memperkuat hubungan antara pemerintah daerah, pesantren, ulama, santri dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Hj. Bertha mengapresiasi konsistensi Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori dalam menjalankan fungsi pendidikan dan syiar keagamaan. Menurut dia, pesantren memiliki posisi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga akhlak dan integritas.
“Melalui majelis ini, mari kita bersama-sama memohon keberkahan dan kedamaian untuk Kota Pagar Alam,” ujar Hj. Bertha.
Maulid Nabi Dinilai Relevan dengan Penguatan Karakter
Hj. Bertha menegaskan, peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai utama yang perlu dibawa pulang oleh jamaah dan para santri adalah keteladanan Rasulullah SAW dalam membangun kehidupan yang berlandaskan akhlak, kejujuran, kepedulian dan persaudaraan.
Pesan tersebut memiliki relevansi dengan agenda pembangunan manusia yang saat ini menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional. Kementerian PPN/Bappenas pada 2026 bahkan tengah menyusun Peta Jalan Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa sebagai kerangka kebijakan untuk memperkuat nilai, etika dan mentalitas masyarakat.
Bappenas menyebut penguatan karakter dan jati diri bangsa merupakan salah satu game changer dalam RPJPN 2025–2045 dan menjadi bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045. Pendekatan yang dikembangkan juga tidak hanya bertumpu pada sekolah, tetapi melibatkan keluarga, lembaga pendidikan, institusi keagamaan dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki ruang strategis karena pendidikan keagamaan berlangsung dalam lingkungan yang relatif dekat dengan kehidupan sosial masyarakat.
Pesantren Bukan Hanya Pusat Pendidikan
Peran pesantren dalam pembangunan masyarakat juga telah memperoleh landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.
Kementerian Agama menjelaskan bahwa UU tersebut mengakui tiga fungsi utama pesantren, yakni pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Artinya, keberadaan pesantren tidak semata-mata ditempatkan sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pembangunan masyarakat.
Kerangka tersebut memperluas makna kegiatan keagamaan seperti Majelis Maulid Nabi. Selain menjadi sarana penguatan spiritual, kegiatan semacam ini dapat menjadi ruang membangun komunikasi sosial dan memperkuat nilai kebersamaan di tingkat lokal.
Karena itu, pernyataan Wakil Wali Kota Pagar Alam mengenai pentingnya pembangunan spiritual berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi memiliki konteks yang lebih luas. Pembangunan manusia tidak hanya diukur melalui aspek material, tetapi juga melalui kualitas karakter dan kemampuan masyarakat menjaga kehidupan sosial yang harmonis.
Pembangunan Pagar Alam Membutuhkan Kolaborasi
BPS Kota Pagar Alam melalui publikasi Kota Pagar Alam Dalam Angka 2026 menyediakan indikator pembangunan daerah hingga 2025 yang bersumber dari statistik dasar BPS maupun data sektoral organisasi perangkat daerah. Data tersebut menjadi salah satu rujukan penting dalam membaca perkembangan pembangunan Kota Pagar Alam secara lebih menyeluruh
Dalam pembangunan daerah, data sosial dan ekonomi memang diperlukan untuk menentukan kebijakan. Namun, keberhasilan pembangunan juga bergantung pada kapasitas masyarakat dalam menjaga kohesi sosial, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan membangun lingkungan yang mendukung perkembangan generasi muda.
Di sinilah pesantren dapat menjadi salah satu mitra strategis pemerintah daerah. Pesantren mempunyai akses langsung kepada santri, keluarga dan masyarakat sekitar sehingga pembinaan nilai dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Kolaborasi pemerintah dengan lembaga keagamaan juga sejalan dengan arah RPJMN 2025–2029 yang merupakan penjabaran Asta Cita dan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pembangunan yang berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045
Majelis Maulid dan Tantangan Generasi Muda
Bagi generasi muda, tantangan pembentukan karakter kini tidak hanya datang dari lingkungan fisik dan sosial di sekitar mereka. Perkembangan teknologi informasi dan arus komunikasi digital membuat nilai, perilaku dan informasi dapat diterima dengan cepat dari berbagai sumber.
Dalam kondisi tersebut, lembaga pendidikan dan keagamaan memiliki tantangan untuk memastikan nilai yang diajarkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari.
Majelis Maulid dapat mengambil peran pada titik tersebut. Keteladanan Rasulullah SAW dapat diterjemahkan ke dalam nilai yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada orang lain, kepedulian sosial dan kemampuan hidup berdampingan.
Dengan demikian, keberadaan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas spiritual, tetapi juga berpotensi memperkuat modal sosial yang dibutuhkan dalam pembangunan daerah. (Hafis)

















