Beranda Utama Palembang Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Muktamar, Namun Restu Pusat Masih Dinanti

Palembang Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Muktamar, Namun Restu Pusat Masih Dinanti

18
0
Ketua PWPM Sumsel Fajar Febriansyah menyampaikan kesiapan Palembang menjadi tuan rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah saat forum Tanwir di Bali. (foto: timred/CN/)

BALI, cimutnews.co.id — Program dan kesiapan besar mulai digaungkan dari Bali.

Namun di tengah optimisme itu, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan di internal kader: apakah Palembang benar-benar akan dipilih menjadi tuan rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah berikutnya?

Hal ini mencuat setelah Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sumatera Selatan (PWPM Sumsel), Fajar Febriansyah, secara terbuka mengajukan Kota Palembang sebagai calon tuan rumah dalam forum Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Bali, Kamis malam (21/5/2026).

Dalam pidatonya, Fajar tampil percaya diri. Bahkan, ia membuka sambutan dengan pantun khas Melayu sebelum menyampaikan kesiapan Sumatera Selatan menjadi pusat agenda besar organisasi kepemudaan Muhammadiyah tersebut.

“Wilayah barat Indonesia sudah cukup lama tidak menjadi lokasi muktamar. Sumatera Selatan terakhir menjadi tuan rumah sekitar tahun 1989,” ujar Fajar di hadapan peserta Tanwir.

Fajar juga menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla. Ia menyebut roda organisasi di Sumsel terus bergerak aktif, termasuk telah menyelesaikan musyawarah daerah di 17 kabupaten dan kota.

Tak hanya itu, Fajar turut menyinggung kekuatan jaringan dan dukungan politik yang dimiliki PWPM Sumsel. Ia mengklaim pelantikan PWPM sebelumnya bahkan dihadiri lima menteri, satu menteri koordinator, serta dua wakil menteri.

Pernyataan tersebut seolah menjadi sinyal bahwa Sumatera Selatan ingin tampil lebih serius dalam perebutan status tuan rumah muktamar mendatang.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, penentuan tuan rumah muktamar bukan hanya soal kesiapan daerah atau pengalaman menggelar acara besar.

Sejumlah kader yang mengikuti dinamika organisasi mengaku keputusan tetap sangat bergantung pada pertimbangan strategis pimpinan pusat, termasuk faktor konsolidasi nasional, kekuatan wilayah, hingga kesiapan logistik jangka panjang.

Baca juga  Herman Deru Resmikan Masjid Roudhotul Jannah di Alang-Alang Lebar, Dorong Masjid Jadi Pusat Pembinaan Umat

“Palembang memang punya pengalaman event besar. Tapi biasanya ada banyak pertimbangan internal yang tidak terlihat di publik,” ungkap salah satu peserta Tanwir yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian kader muda di daerah. Mereka berharap muktamar tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga mampu membawa dampak nyata bagi penguatan kaderisasi dan ekonomi lokal.

“Kalau benar digelar di Palembang tentu bagus untuk daerah. Tapi harapannya jangan hanya ramai saat acara saja,” kata salah seorang kader Muhammadiyah asal Sumsel.

PWPM Sumsel sendiri tampak serius membangun citra kesiapan tersebut. Dalam forum resmi, Fajar menegaskan Palembang memiliki pengalaman panjang menjadi tuan rumah berbagai event nasional maupun internasional.

Kota pempek itu memang beberapa kali dipercaya menjadi lokasi agenda berskala besar, mulai dari event olahraga internasional hingga forum organisasi nasional.

Namun hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah terkait mekanisme maupun indikator utama penentuan tuan rumah muktamar berikutnya.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah peluang Sumatera Selatan benar-benar terbuka lebar, atau masih harus bersaing ketat dengan wilayah lain yang juga mulai melakukan konsolidasi?

Agenda Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Bali sendiri dibuka langsung oleh Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dzulfikar Ahmad Tawalla, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

Hingga kini, wacana Palembang menjadi tuan rumah Muktamar Pemuda Muhammadiyah masih terus menjadi perhatian di kalangan kader.

Apakah Sumatera Selatan akhirnya kembali dipercaya setelah puluhan tahun, atau justru harus kembali menunggu giliran? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here