Beranda OKI Mandira Panen Raya Digelar di OKI, Target 5 Juta Ton Menggema, Mampukah Petani...

Panen Raya Digelar di OKI, Target 5 Juta Ton Menggema, Mampukah Petani Menembus Tantangan El Nino?

12
0
Hamparan sawah di Desa Jukdadak menjadi lokasi panen raya serentak yang terhubung secara virtual dengan Presiden RI Prabowo Subianto sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional.(Foto: Asep/cimutnews.co.id)

OKI, cimutnews.co.id — Panen raya kembali digelar di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Di tengah optimisme pemerintah terhadap peningkatan produksi pangan nasional, ancaman musim kering akibat El Nino mulai menjadi perhatian.

Di atas hamparan sawah Desa Jukdadak, Kecamatan Tanjung Lubuk, Jumat (17/7/2026), Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru hadir bersama Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Ujang Darwis dan Kapolda Sumsel Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho untuk mengikuti Panen Raya TNI Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional.

Gubernur Sumsel Herman Deru bersama Pangdam II/Sriwijaya dan Kapolda Sumsel mengikuti Panen Raya TNI Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional di Desa Jukdadak, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten OKI, Jumat (17/7/2026).(Foto:Asep/cimutnews.co.id)

Kegiatan tersebut berlangsung serentak di 43 titik di Indonesia dan terhubung secara virtual dengan Presiden RI Prabowo Subianto yang memimpin panen raya nasional dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Komoditas yang dipanen meliputi padi, tebu, dan kedelai sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Momentum itu menjadi simbol optimisme pemerintah. Namun, di balik panen yang berhasil dilakukan, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah peningkatan produksi dapat terus dipertahankan ketika tantangan iklim mulai berubah?

Pemerintah Optimistis Kejar Produksi

Dalam sambutannya, Gubernur Herman Deru mengatakan panen kali ini berlangsung saat gejala El Nino mulai muncul sehingga pemerintah harus bergerak lebih cepat menjaga produktivitas lahan pertanian.

Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari revitalisasi jaringan irigasi hingga pemanfaatan sumber air tanah agar petani tetap memiliki pasokan air selama musim kemarau.

“Kita panen di tengah mulai munculnya gejolak El Nino. Ini untuk menyemangati para petani bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam mencarikan solusi terhadap kebutuhan air, baik melalui revitalisasi jaringan irigasi maupun pemanfaatan air tanah,” ujarnya.

Ia menyebut kawasan pertanian Desa Jukdadak menjadi salah satu contoh binaan TNI Angkatan Darat yang mampu menjaga produktivitas melalui pendampingan berkelanjutan.

Baca juga  Semarak! Pj Bupati OKI Apresiasi Festival Ramadan Karang Taruna Kayuagung

Herman Deru juga menegaskan Sumatera Selatan menargetkan produksi gabah mencapai 5 juta ton pada 2029. Target tersebut dinilai dapat dicapai apabila kolaborasi antara pemerintah, TNI, Polri dan petani terus diperkuat.

Presiden Soroti Pentingnya Gotong Royong

Dalam sambungan virtual, Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi keterlibatan seluruh unsur bangsa dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Presiden menilai sektor pertanian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah maupun kementerian terkait, tetapi juga membutuhkan sinergi lintas sektor.

Ia juga memberikan apresiasi kepada TNI dan Polri yang dinilai aktif mendampingi masyarakat dalam pengembangan pertanian, selain menjalankan tugas utama menjaga pertahanan dan keamanan negara.

Meski panen raya berlangsung meriah, namun fakta di lapangan menunjukkan tantangan sektor pertanian belum sepenuhnya selesai.

Ancaman perubahan iklim masih menjadi salah satu persoalan yang kerap dikhawatirkan petani di berbagai wilayah Sumatera Selatan, terutama ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya.

Di sisi lain, kebutuhan terhadap sistem irigasi yang andal masih menjadi perhatian di sejumlah sentra pertanian. Ketergantungan terhadap curah hujan membuat produktivitas lahan di beberapa daerah dapat berubah setiap musim.

Hingga kini, belum semua kawasan pertanian memiliki kondisi jaringan irigasi yang sama, sehingga efektivitas distribusi air masih menjadi pekerjaan yang perlu terus diperkuat sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

Sejumlah petani yang hadir dalam kegiatan panen mengaku pendampingan dari berbagai pihak memberikan semangat tersendiri bagi mereka untuk terus menanam.

Namun mereka juga berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada saat panen berlangsung.

Menurut sejumlah warga yang ditemui di sekitar lokasi, keberlanjutan bantuan sarana produksi, kepastian pasokan air, serta stabilitas harga gabah akan menjadi faktor penting agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat.

Baca juga  Sinergi Forkompimda OKI Wujudkan Pemilu Damai 2024

Pendapat tersebut merupakan pandangan warga di lapangan dan dapat berbeda dengan kondisi di wilayah lain.

Tantangan Menuju Target Besar

Target produksi 5 juta ton yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjadi gambaran besarnya ambisi menjadikan daerah ini sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Namun pencapaian target tersebut diperkirakan tidak hanya bergantung pada luas lahan tanam.

Ketersediaan air, adaptasi terhadap perubahan iklim, kualitas benih, produktivitas petani, hingga keberlanjutan pendampingan menjadi faktor yang ikut menentukan keberhasilan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana berbagai program pendampingan mampu menjaga produktivitas ketika kondisi cuaca tidak lagi dapat diprediksi seperti sebelumnya.

Hingga kini, pemerintah terus mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Sementara itu, masyarakat tentu berharap keberhasilan panen yang terlihat hari ini dapat berlanjut menjadi peningkatan kesejahteraan petani secara nyata di masa mendatang.

Apakah target besar produksi pangan Sumatera Selatan akan tercapai sesuai rencana, atau masih menyisakan tantangan yang harus diselesaikan bersama? Waktu yang akan menjawab. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here