Beranda OKI Mandira Pola Asuh Jadi Sorotan, Lomba Balita OKI Ingatkan Tantangan Cegah Stunting

Pola Asuh Jadi Sorotan, Lomba Balita OKI Ingatkan Tantangan Cegah Stunting

12
0
Sekretaris Daerah Kabupaten OKI Asmar Wijaya mewakili Bupati membuka Lomba Balita Indonesia tingkat Kabupaten OKI di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Rabu (15/7). (Foto: Asep/CimutNews)

KAYUAGUNG, cimutnews.co.id  — Lomba Balita Indonesia tingkat Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang memilih balita dengan kondisi kesehatan terbaik. Di balik kegiatan tersebut, terselip pesan yang jauh lebih besar: kualitas generasi masa depan ternyata sangat ditentukan oleh pola asuh keluarga sejak anak memasuki usia emas.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati OKI, Rabu (15/7), ketika pemerintah daerah kembali mengingatkan pentingnya sinergi antara pemenuhan gizi, layanan kesehatan, dan pengasuhan yang berkualitas.

Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan. Apakah edukasi mengenai pola asuh sudah benar-benar menjangkau seluruh keluarga, terutama yang berada di wilayah pedesaan dan daerah yang akses layanan kesehatannya masih terbatas?

Pemerintah Kabupaten OKI menilai persoalan stunting tidak cukup diselesaikan melalui bantuan makanan tambahan ataupun pemeriksaan kesehatan rutin. Peran keluarga disebut menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak.

Mewakili Bupati OKI, Sekretaris Daerah Kabupaten OKI, Asmar Wijaya, mengatakan masa depan daerah bergantung pada bagaimana anak-anak memperoleh hak mereka sejak dini.

“Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Masa depan daerah dan bangsa ditentukan oleh bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi, kesehatan, dan tumbuh kembang mereka sejak usia dini,” ujar Asmar.

Ia menjelaskan, dampak stunting tidak hanya terlihat dari tinggi badan anak yang kurang optimal, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar hingga produktivitas ketika dewasa nanti.

Karena itu, menurutnya, upaya pencegahan harus melibatkan seluruh elemen, mulai dari keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah hingga masyarakat.

Pemerintah Kabupaten OKI, lanjut Asmar, terus memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui optimalisasi puskesmas, posyandu, perluasan cakupan imunisasi, edukasi gizi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan serta kolaborasi lintas sektor.

Baca juga  Pemkab OKI Apresiasi Double Steak 77 Atas Kepatuhan Membayar Pajak

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten OKI, Ike Meilina Muchendi, juga menegaskan bahwa rumah merupakan sekolah pertama bagi seorang anak.

Menurutnya, usia nol hingga lima tahun merupakan fase yang sangat menentukan pembentukan karakter maupun perkembangan kecerdasan.

“Rumah harus menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak. Keberanian mereka menghadapi dunia luar tumbuh dari kedekatan dan kasih sayang orang tua,” katanya.

Ia juga mengajak keluarga membiasakan konsumsi makanan bergizi berbahan alami (real food) dan mengurangi ketergantungan pada makanan instan yang minim nilai gizi.

Di sisi lain, berbagai program edukasi mengenai pola asuh masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Berdasarkan temuan di lapangan, masih terdapat keluarga yang menghadapi keterbatasan akses informasi mengenai pola pengasuhan anak, terutama di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan kesehatan. Selain faktor ekonomi, kesibukan orang tua bekerja juga diduga memengaruhi kualitas interaksi dengan anak pada masa tumbuh kembang.

Sejumlah kader kesehatan mengakui bahwa perubahan perilaku masyarakat membutuhkan proses panjang. Edukasi yang diberikan melalui posyandu sering kali harus dilakukan berulang agar benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejumlah warga mengaku, informasi mengenai pola asuh modern, pemberian makanan bergizi seimbang, hingga stimulasi perkembangan anak masih lebih banyak diperoleh saat mengikuti kegiatan posyandu atau penyuluhan kesehatan. Di luar kegiatan tersebut, akses terhadap informasi yang benar masih belum merata.

Hingga kini, belum semua keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendampingan intensif mengenai pengasuhan anak, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari fasilitas layanan kesehatan.

36 Balita Lolos Seleksi Kecamatan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten OKI, Alamsyah, menjelaskan bahwa Lomba Balita Indonesia tahun ini diikuti oleh 36 peserta terbaik hasil seleksi dari seluruh kecamatan.

Baca juga  HUT ke-80 Kabupaten OKI: Bupati Muchendi Tanam 300 Pohon Tabebuya, Wujudkan Kota Kayuagung yang Indah dan Hijau

Mereka terbagi dalam kategori usia 6–24 bulan dan 24–59 bulan.

Penilaian dilakukan secara menyeluruh oleh tim multidisiplin yang terdiri atas dokter spesialis anak, dokter umum, psikolog, ahli gizi, serta Tim Penggerak PKK.

Aspek yang dinilai tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga pertumbuhan, perkembangan psikologis, hingga pola pengasuhan dalam keluarga.

Para juara nantinya akan mewakili Kabupaten OKI pada Lomba Balita Indonesia tingkat Provinsi Sumatera Selatan.

Investasi Terbesar Dimulai dari Rumah

Ajang ini memperlihatkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak dimulai ketika anak memasuki bangku sekolah, melainkan sejak mereka lahir bahkan sejak masa kehamilan.

Pemerintah berharap edukasi yang disampaikan melalui perlombaan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan keluarga.

Meski demikian, tantangan membangun pola asuh yang berkualitas masih memerlukan kerja sama lintas sektor, pemerataan edukasi, serta komitmen seluruh pihak.

Apakah berbagai upaya tersebut nantinya mampu menekan angka stunting sekaligus melahirkan generasi OKI yang lebih sehat dan cerdas secara merata? Hingga kini, pertanyaan itu masih menjadi pekerjaan bersama yang jawabannya akan terlihat dari kualitas generasi mendatang. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here