Beranda Ogan Komering Ilir Terungkap, Paket Sabu Eceran Diduga Menyasar Warga Desa di Jejawi

Terungkap, Paket Sabu Eceran Diduga Menyasar Warga Desa di Jejawi

6
0
Barang bukti puluhan paket sabu siap edar dengan label harga yang diamankan Polsek Jejawi.(Foto:Timred/CN)

OGAN KOMERING ILIR, cimutnews.co.id — Peredaran narkotika di wilayah pedesaan Kabupaten Ogan Komering Ilir kembali terungkap. Kali ini, pola penjualan yang ditemukan aparat justru memunculkan kekhawatiran baru.

Puluhan paket sabu diduga sudah disiapkan berdasarkan kategori harga. Mulai dari Rp40 ribu hingga Rp200 ribu.

Lalu, siapa sebenarnya target pasar dari sistem penjualan seperti ini?

Pengungkapan itu dilakukan jajaran Polsek Jejawi pada 8 Mei 2026 sekitar pukul 12.00 WIB di Desa Pedu, Kecamatan Jejawi, Kabupaten OKI.

Polisi mengamankan seorang pria berinisial RB (38), buruh asal Desa Pedu, setelah menerima laporan masyarakat terkait dugaan aktivitas transaksi narkotika di kawasan tersebut.

Berdasarkan informasi itu, petugas melakukan penyelidikan dan pengintaian sebelum akhirnya mengamankan tersangka.

Dalam operasi tersebut, polisi menemukan 33 paket sabu siap edar yang telah dipisahkan berdasarkan enam kategori harga.

Paket-paket itu diberi label nominal mulai dari Rp40 ribu, Rp50 ribu, Rp80 ribu, Rp100 ribu, Rp130 ribu hingga Rp200 ribu.

Selain sabu, petugas juga menemukan pecahan tablet warna hijau yang diduga narkotika jenis ekstasi dengan berat bruto sekitar 0,51 gram.

Dari hasil pemeriksaan awal, RB mengakui barang bukti tersebut merupakan miliknya dan diduga akan diedarkan kembali di wilayah Jejawi dan sekitarnya.

Hasil tes urine terhadap tersangka juga dinyatakan positif mengandung narkotika.

Kapolres OKI AKBP Eko Rubiyanto menyebut pola pengemasan berdasarkan kategori harga menunjukkan adanya sistem distribusi yang aktif dan terorganisir.

Menurutnya, penyidik masih melakukan pengembangan untuk menelusuri pemasok serta dugaan jaringan yang terlibat dalam peredaran tersebut.

“Pengemasan sabu berdasarkan kategori harga menunjukkan adanya sistem peredaran yang aktif dan terorganisir,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya mengatakan pengungkapan itu menjadi bukti bahwa pengawasan narkotika kini juga difokuskan hingga ke wilayah desa.

Baca juga  Serahkan DPA 2025, Pj. Bupati OKI Tekankan Efisiensi dan Prioritas Anggaran

Namun fakta di lapangan menunjukkan, pola penjualan narkotika kini diduga semakin menyesuaikan kemampuan ekonomi pembeli di tingkat bawah.

Kemasan dengan nominal kecil dinilai membuat barang haram tersebut lebih mudah dijangkau berbagai kalangan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan masyarakat desa yang mengaku khawatir peredaran narkotika mulai menyasar lingkungan sekitar mereka secara lebih terbuka.

Sejumlah warga menyebut, pola penjualan eceran dengan harga murah diduga membuat peredaran narkoba lebih sulit terdeteksi karena transaksi dilakukan dalam skala kecil namun masif.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah sistem distribusi seperti ini sudah berlangsung cukup lama tanpa banyak diketahui publik?

Seorang warga Desa Pedu yang enggan disebutkan namanya mengaku prihatin dengan temuan tersebut.

“Kalau sudah ada paket harga murah seperti itu, takutnya makin gampang masuk ke kalangan muda,” ujarnya.

Warga lainnya mengatakan, masyarakat sebenarnya kerap curiga terhadap aktivitas tertentu di lingkungan sekitar, namun tidak semua berani melapor.

“Kadang orang takut terlibat atau khawatir terjadi masalah,” katanya.

Temuan paket sabu berdasarkan kategori harga memperlihatkan adanya dugaan strategi distribusi yang menyasar pasar lebih luas.

Pola seperti ini dinilai berbeda dengan peredaran biasa karena barang telah dipersiapkan dalam berbagai nominal agar lebih mudah dijual cepat.

Berdasarkan temuan di lapangan, sistem eceran murah diduga menjadi salah satu pola yang mulai berkembang di wilayah pedesaan.

Selain mempermudah transaksi, metode ini juga berpotensi memperluas jumlah pengguna baru karena harga dianggap lebih terjangkau.

Hingga kini, belum semua jalur distribusi dan pemasok utama dalam kasus tersebut berhasil diungkap secara rinci.

Pengungkapan kasus di Jejawi memang menunjukkan aparat masih aktif melakukan penindakan terhadap peredaran narkotika.

Baca juga  Polres OKI Bagikan Takjil di Exit Tol Kayuagung, Wujud Kepedulian Ramadan dan HUT Bhayangkari ke-46

Namun munculnya paket sabu dengan sistem harga eceran memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Apalagi, pola seperti ini diduga dapat menyasar berbagai lapisan warga hingga ke lingkungan desa.

Hingga kini, kasus tersebut masih terus dikembangkan. Apakah jaringan di balik distribusi narkotika eceran ini benar-benar bisa diputus sampai ke akar? (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here