
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Jambore Cabang Gerakan Pramuka Kota Palembang Tahun 2026 resmi dibuka dengan penuh semangat dan atraksi kebersamaan.
Ratusan peserta dari 18 kecamatan hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) terlihat antusias mengikuti pembukaan di Lapangan Utama Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Palembang, Kamis (30/4/2026).
Namun di balik meriahnya kegiatan tersebut, muncul pertanyaan yang mulai menjadi perhatian banyak pihak: apakah kegiatan Pramuka masih efektif membentuk karakter generasi muda di tengah derasnya era digital?
Jambore Disebut Bukan Sekadar Ajang Seremoni
Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Palembang, Putri Azizah Prima Salam, menegaskan bahwa jambore bukan hanya kegiatan tahunan atau seremoni belaka.
Menurutnya, jambore merupakan ruang pendidikan nonformal untuk membentuk karakter, mempererat persaudaraan, dan melatih keterampilan generasi muda.
“Ini bukan ajang kompetisi untuk mencari siapa yang paling unggul, tetapi ruang pembelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta akan mengikuti berbagai agenda mulai dari lomba keterampilan kepramukaan, edukasi kebangsaan, kegiatan sosial, hingga pentas seni dan api unggun.
Kegiatan tersebut disebut dirancang untuk memperkuat kepemimpinan, kemandirian, dan kepedulian sosial peserta.
Meski semangat pembinaan karakter terus digaungkan, berdasarkan temuan di lapangan, tantangan generasi muda saat ini dinilai jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu.
Pengaruh media sosial, kecanduan gadget, hingga menurunnya interaksi sosial langsung diduga menjadi tantangan besar bagi organisasi kepemudaan seperti Pramuka.
Sejumlah warga mengaku kegiatan Pramuka memang masih penting, namun minat sebagian anak muda mulai berubah seiring perkembangan teknologi digital.
“Sekarang anak-anak lebih tertarik main media sosial atau game online dibanding ikut kegiatan luar ruangan,” ujar salah satu warga Palembang.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kegiatan Pramuka masih menjadi salah satu wadah yang mampu menjaga disiplin, kebersamaan, dan kepedulian sosial di kalangan pelajar.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah sekolah yang mengaku kegiatan kepramukaan mulai kesulitan menarik perhatian peserta secara konsisten.
Pembinaan Karakter Jadi Tantangan Besar
Putri Azizah menyebut pembinaan generasi muda tidak bisa dilakukan sendiri oleh Pramuka.
Menurutnya, dukungan pemerintah, sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial sangat dibutuhkan agar nilai-nilai kedisiplinan dan moral tetap terjaga.
“Pembinaan generasi muda adalah tanggung jawab bersama,” katanya.
Namun sejumlah pengamat pendidikan menilai keberhasilan kegiatan seperti jambore sangat bergantung pada implementasi setelah kegiatan selesai.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah nilai kedisiplinan dan kepemimpinan yang diajarkan selama jambore benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari peserta?
Antara Semangat dan Realita
Dalam sambutannya, Putri Azizah juga mengingatkan peserta agar menjaga sikap, mematuhi aturan, serta menjaga nama baik daerah dan gugus depan masing-masing.
Panitia juga diminta mengutamakan keselamatan dan kenyamanan peserta selama kegiatan berlangsung.
Hingga kini, belum semua tantangan pembinaan karakter generasi muda dapat dijawab melalui kegiatan seremonial semata.
Namun kegiatan jambore tetap dinilai penting sebagai ruang pendidikan sosial yang mulai jarang ditemukan di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis.
Apakah Jambore Cabang Pramuka Palembang 2026 benar-benar mampu membentuk generasi muda yang tangguh dan berkarakter, atau hanya menjadi agenda rutin tahunan tanpa dampak jangka panjang, masih menjadi perhatian masyarakat. (Poerba)

















