
OKI, cimutnews.co.id — Semangat pendidikan Islam kembali digaungkan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Ribuan warga memadati Pondok Pesantren Subulul Falah di Desa Tulung Harapan, Kecamatan Lempuing, saat Haflah Akhirussanah dan wisuda santri digelar, Minggu (31/5/2026).
Namun di tengah suasana haru pelepasan santri, muncul satu pesan yang justru menyita perhatian: persoalan infrastruktur jalan di wilayah OKI yang hingga kini masih menjadi keluhan masyarakat.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan para santri, melainkan awal menghadapi tantangan kehidupan yang lebih besar.
Menurutnya, lulusan pondok pesantren memiliki peran penting karena tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga kemampuan untuk terjun langsung ke masyarakat.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kata dia, berkomitmen mendukung perkembangan pondok pesantren sebagai bagian dari pembangunan karakter generasi muda.
“Para santri diharapkan mampu menjadi generasi penerus yang terus mengembangkan ilmu dan menghadapi tantangan zaman,” ujar Cik Ujang dalam sambutannya.
Momentum wisuda tersebut juga dimanfaatkan Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, untuk menyampaikan aspirasi yang selama ini dirasakan masyarakat di wilayahnya.
Di hadapan Wakil Gubernur Sumsel, Muchendi secara terbuka menyinggung kebutuhan pembangunan dan perbaikan jalan di Kabupaten OKI yang memiliki wilayah cukup luas.
Ia berharap dukungan Pemerintah Provinsi Sumsel dapat membantu percepatan konektivitas antarwilayah yang selama ini dinilai masih menjadi tantangan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan infrastruktur di sejumlah wilayah OKI memang masih menjadi pembahasan warga, terutama akses jalan penghubung desa yang diduga belum sepenuhnya memadai.
Sejumlah warga di kawasan Lempuing mengaku, akses jalan yang rusak masih kerap menghambat aktivitas ekonomi maupun pendidikan, terutama saat musim hujan.
“Kalau hujan deras, beberapa titik sulit dilalui. Kadang kendaraan harus pelan sekali,” ungkap salah seorang warga yang ditemui usai acara.
Di sisi lain, kegiatan wisuda santri yang berlangsung meriah justru memperlihatkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pendidikan berbasis pesantren di OKI.
Pondok pesantren kini tidak hanya dipandang sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi harapan pembentukan karakter generasi muda di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana pembangunan sumber daya manusia mampu berjalan beriringan dengan pemerataan pembangunan infrastruktur dasar di daerah?
Berdasarkan temuan di lapangan, mobilitas masyarakat di wilayah OKI yang luas memang masih sangat bergantung pada kondisi jalan penghubung antarkecamatan dan desa. Jika persoalan konektivitas belum dibenahi secara maksimal, dampaknya dikhawatirkan tidak hanya pada ekonomi warga, tetapi juga akses pendidikan dan pelayanan publik.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua DPRD OKI, Bambang Irawan, Wakil Ketua DPRD PALI, Firdaus Hasbullah, pengurus Ponpes Subulul Falah, serta sejumlah kepala OPD Provinsi Sumsel.
Hingga kini, belum semua persoalan konektivitas di wilayah OKI mendapat penjelasan rinci terkait target percepatan perbaikannya. Di tengah semangat mencetak generasi unggul dari lingkungan pesantren, masyarakat pun masih menunggu apakah pembangunan infrastruktur dasar benar-benar akan menjadi prioritas nyata atau kembali berhenti pada janji seremonial.
Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan hasil penelusuran lapangan. (Asep)

















