
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Keramasan Palembang terus dikebut dengan progres pembangunan mencapai 81 persen hingga April 2026. Wali Kota Ratu Dewa bersama Fadli Rahman meninjau langsung lokasi proyek di kawasan Keramasan, Kertapati, Senin (20/4/2026).
Peninjauan PSEL Keramasan Palembang ini menjadi krusial karena proyek tersebut masuk dalam kategori strategis nasional dan ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2026 sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus sumber energi terbarukan.
PSEL Keramasan sebagai Solusi Ganda: Sampah dan Energi
Transformasi Pengelolaan Sampah Modern
PSEL Keramasan dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi yang mampu mengubah limbah menjadi energi listrik. Proyek ini mengacu pada regulasi terbaru melalui PP 109/2025 yang merupakan penyempurnaan dari Perpres 35/2018.
Menurut pihak pengembang, skema baru tersebut memberikan kepastian investasi sekaligus mempercepat realisasi proyek di daerah. Palembang menjadi salah satu kota yang dipilih untuk mengadopsi sistem ini karena volume sampah harian yang terus meningkat.
Fadli Rahman menyebutkan, proyek ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pengelolaan sampah sebagai prioritas nasional.
Kronologi Proyek dan Perkembangan Terkini
Dari Perencanaan hingga Tahap Konstruksi
Proyek PSEL Keramasan telah melalui beberapa tahapan sejak awal perencanaan hingga kini memasuki fase akhir konstruksi.
Berikut perkembangan utama proyek:
- Tahap perencanaan dan studi kelayakan dimulai sejak penguatan regulasi nasional
- Implementasi konstruksi berjalan bertahap sejak 2024
- Progres fisik mencapai sekitar 81 persen pada April 2026
- Target operasional: Oktober 2026
Peninjauan lapangan dilakukan untuk memastikan proyek berjalan sesuai target waktu dan standar teknis yang ditetapkan pemerintah pusat.
Dampak Langsung bagi Kota Palembang
Lingkungan Lebih Bersih dan Energi Alternatif
PSEL Keramasan tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga diharapkan mampu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Palembang.
Beberapa dampak yang diharapkan:
- Pengurangan volume sampah harian secara signifikan
- Produksi energi listrik dari limbah kota
- Penurunan potensi pencemaran lingkungan
- Efisiensi sistem pengelolaan sampah perkotaan
Ratu Dewa menegaskan bahwa proyek ini memiliki nilai strategis bagi masyarakat karena manfaatnya dirasakan secara langsung, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Keterlibatan Masyarakat dan UMKM
Peluang Ekonomi dan Edukasi Publik
Selain aspek teknis, Pemerintah Kota Palembang juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proyek ini. Tenaga kerja lokal diupayakan menjadi bagian dari pembangunan hingga operasional PSEL.
Tak hanya itu, proyek ini juga diarahkan untuk:
- Memberdayakan pelaku usaha kecil di sekitar kawasan
- Menjadi pusat edukasi lingkungan bagi pelajar
- Menyediakan ruang pembelajaran pengelolaan sampah modern
Ratu Dewa menyebut PSEL Keramasan berpotensi menjadi laboratorium edukasi terbuka, mulai dari tingkat TK hingga SMA.
Konteks Nasional dan Perbandingan
Secara nasional, pengelolaan sampah masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, produksi sampah nasional mencapai puluhan juta ton per tahun, dengan sebagian besar masih berakhir di TPA.
Program PSEL telah diterapkan di beberapa kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Namun, implementasinya menghadapi tantangan, mulai dari pembiayaan hingga resistensi masyarakat.
Dibandingkan daerah lain, proyek PSEL Keramasan memiliki keunggulan pada dukungan regulasi terbaru serta integrasi dengan program edukasi masyarakat.
Peluang dan Tantangan Proyek PSEL
Dalam jangka pendek, keberadaan PSEL Keramasan akan memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan sampah dan peningkatan kualitas lingkungan kota. Produksi energi dari limbah juga menjadi langkah konkret menuju transisi energi terbarukan.
Namun, dalam jangka panjang, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada konsistensi operasional dan penerimaan masyarakat. Pengelolaan teknologi yang kompleks membutuhkan sumber daya manusia yang terampil serta sistem pemeliharaan yang berkelanjutan.
Selain itu, transparansi dalam pengelolaan dan dampak lingkungan harus dijaga agar tidak menimbulkan kekhawatiran publik, terutama terkait emisi dan limbah residu.
Pergeseran Paradigma dari “Buang” ke “Kelola”
PSEL Keramasan mencerminkan perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah di Indonesia—dari sekadar “membuang” menjadi “mengelola dan memanfaatkan”.
Jika berhasil, model ini dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam membangun sistem ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan sumber daya yang bernilai.
Proyek PSEL Keramasan Palembang menandai langkah penting dalam transformasi pengelolaan sampah berbasis teknologi di Indonesia. Dengan progres yang telah mencapai 81 persen, proyek ini diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026 dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ke depan, keberhasilan PSEL tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh pengelolaan yang profesional, keterlibatan masyarakat, serta komitmen menjaga lingkungan secara berkelanjutan. (Poerba)

















