Beranda Palembang Semangat Menanam Menguat, Namun Nasib Hutan Sumsel Masih Jadi Pertanyaan

Semangat Menanam Menguat, Namun Nasib Hutan Sumsel Masih Jadi Pertanyaan

11
0
Gubernur Sumsel Herman Deru saat menghadiri Festival Kehutanan bertema "Kenal Hutan, Kenal Masa Depan" di UIN Raden Fatah Palembang. (Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Perayaan HUT Provinsi Sumatera Selatan ke-80 tidak hanya diisi seremoni dan panggung hiburan. Di tengah berbagai agenda peringatan, isu lingkungan justru mencuri perhatian lewat Festival Kehutanan bertema “Kenal Hutan, Kenal Masa Depan” yang digelar di UIN Raden Fatah Palembang, Rabu (21/5/2026).

Pesan yang muncul dalam kegiatan tersebut cukup sederhana, namun menyimpan makna besar: menanam pohon jauh lebih sulit dibanding menebangnya.

Di hadapan peserta festival, Gubernur Sumsel Herman Deru mengingatkan bahwa sebuah pohon besar yang tumbuh selama puluhan tahun bisa tumbang hanya dalam hitungan menit.

“Menebang pohon hanya butuh sekitar tiga menit, tetapi untuk tumbuh hingga sebesar itu bisa memerlukan waktu 25 tahun,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa kelestarian hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan menyangkut masa depan generasi berikutnya.

Kesadaran Hutan Mulai Didorong

Festival Kehutanan digelar dengan tujuan meningkatkan literasi masyarakat, khususnya kalangan muda, terhadap pentingnya keberadaan hutan.

Dalam kegiatan itu dilakukan penanaman 200 pohon yang melibatkan mahasiswa, kelompok tani, akademisi, serta pemerintah daerah.

Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Koimudin menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya rehabilitasi kawasan hijau dan keberlanjutan lingkungan.

Selain penanaman pohon, festival juga menghadirkan pameran hasil hutan dan berbagai program edukasi yang ditujukan untuk mengenalkan fungsi hutan kepada masyarakat.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…

Meski gerakan menanam pohon terus digaungkan, persoalan lingkungan di Sumatera Selatan masih menyisakan pekerjaan rumah yang tidak kecil.

Berdasarkan temuan di lapangan dan berbagai laporan lingkungan dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kawasan masih menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan, degradasi hutan, hingga ancaman kebakaran saat musim kemarau.

Baca juga  Refleksi Akhir Tahun 2025: PGK Sumsel Mantapkan Konsolidasi dan Peran Kebangsaan

Penanaman pohon memang menjadi langkah positif. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan pelestarian hutan tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam, melainkan juga pengawasan, perawatan, dan keberlanjutan program setelah acara selesai.

Sejumlah pemerhati lingkungan menilai bahwa tantangan terbesar justru muncul setelah kegiatan seremonial berakhir. Banyak program penghijauan yang sukses saat peluncuran, namun belum seluruhnya memiliki mekanisme pemantauan jangka panjang yang jelas.

Di Sisi Lain, Masyarakat Mulai Merasakan Dampaknya

Di berbagai wilayah, perubahan lingkungan perlahan mulai dirasakan masyarakat.

Musim kemarau yang semakin ekstrem, berkurangnya tutupan hijau di beberapa kawasan, hingga kekhawatiran terhadap kualitas udara menjadi isu yang kerap muncul dalam diskusi publik.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh kelompok tani yang bergantung pada keberadaan hutan dan sumber air alami. Mereka berharap upaya rehabilitasi lingkungan tidak berhenti pada momentum tertentu, tetapi benar-benar menjadi gerakan berkelanjutan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah semangat menanam pohon yang terus digaungkan mampu menjawab tantangan lingkungan yang jauh lebih kompleks?

Menjaga Hutan Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Pengamat lingkungan menilai keberhasilan menjaga hutan sangat bergantung pada kolaborasi berbagai pihak.

Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan program, tetapi keberhasilan di lapangan tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia pendidikan, kelompok tani, hingga sektor swasta.

Tanpa pengawasan yang konsisten, pohon yang ditanam hari ini berpotensi tidak memberikan dampak maksimal di masa mendatang.

Karena itu, literasi lingkungan yang menjadi tema utama festival dinilai penting untuk membangun kesadaran sejak usia muda.

Masa Depan Hutan Sumsel Masih Menjadi Ujian

Festival Kehutanan tahun ini membawa pesan optimisme bahwa pelestarian alam masih menjadi perhatian bersama.

Namun di tengah berbagai ancaman lingkungan yang terus berkembang, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan menanam pohon.

Baca juga  Mudik Gratis Sumsel 2026: 941 Pemudik Diberangkatkan dengan 27 Bus, Utamakan Keselamatan dan Kurangi Kepadatan

Hingga kini, belum semua persoalan kehutanan terselesaikan secara merata. Tantangan pengawasan, rehabilitasi lahan, hingga perubahan perilaku masyarakat masih menjadi pekerjaan besar yang harus dihadapi.

Apakah gerakan yang dimulai hari ini mampu menjaga hutan Sumsel untuk puluhan tahun ke depan, atau hanya menjadi bagian dari agenda tahunan yang perlahan dilupakan?

Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kehutanan Sumsel, serta hasil penelusuran lapangan dan berbagai isu lingkungan yang berkembang di masyarakat. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here