Beranda Utama Songket Bidak Cukit OKI Tampil di Kriyanusa 2026, Ike Meilina Usung Wastra...

Songket Bidak Cukit OKI Tampil di Kriyanusa 2026, Ike Meilina Usung Wastra Tradisional Bergaya Kasual

13
0
Ketua Dekranasda OKI, Hj. Ike Meilina Muchendi, mengenakan kreasi Songket Bidak Cukit dalam peragaan busana Kriyanusa 2026 di Jakarta Convention Center, Minggu (27/9/2026). (Foto: Dokumentasi Dekranasda OKI/CN)

JAKARTA, cimutnews.co.id — Songket Bidak Cukit khas Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, tampil dengan sentuhan busana kasual dalam ajang Kriyanusa 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (27/9/2026). Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) OKI, Hj. Ike Meilina Muchendi, mengenakan langsung busana berbahan wastra tradisional tersebut dalam peragaan busana yang menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan kerajinan daerah di tingkat nasional.

Penampilan ini memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat dikembangkan menjadi busana yang lebih fleksibel untuk mengikuti perubahan gaya hidup, tanpa menghilangkan identitas budaya dan karakter khas daerah asalnya.

Songket Bidak Cukit OKI Hadir dengan Sentuhan Modern

Selama ini, songket identik dengan pakaian adat, acara resmi, serta berbagai kegiatan seremonial. Namun, melalui peragaan busana di Kriyanusa 2026, Dekranasda OKI memperkenalkan pendekatan berbeda dengan menghadirkan Songket Bidak Cukit dalam rancangan busana kasual.

Inovasi tersebut menjadi bagian dari strategi pengembangan wastra daerah agar tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki ruang pemanfaatan lebih luas dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Ketua Dekranasda OKI, Ike Meilina Muchendi, mengatakan pelestarian tradisi harus berjalan seiring dengan kreativitas dan inovasi. Menurutnya, warisan budaya perlu terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perubahan zaman dan kebutuhan pasar.

“Kita berharap agar tradisi tetap hidup, tetapi pada saat yang sama terus berkembang melalui kreativitas, inovasi, teknologi, serta kemampuan membaca kebutuhan pasar,” ujar Ike seusai mengikuti peragaan busana.

Ia menegaskan, pengembangan produk tradisional tetap harus berangkat dari identitas budaya dan keterampilan para perajin. Dengan demikian, pembaruan desain tidak menghilangkan nilai historis maupun karakter yang menjadi ciri khas Songket Bidak Cukit.

Baca juga  Strategi “Keamanan Inklusif” Pemerintah Mulai Dibaca sebagai Langkah Bertahan

“Yang kita ingin tunjukkan, kain tradisional bisa tetap memiliki identitas, tetapi cara kita mengemasnya dapat mengikuti perkembangan zaman. Harapannya, generasi muda juga semakin dekat dengan wastra daerah,” katanya.

Dekranasda OKI Perkenalkan Kerajinan Purun

Selain Songket Bidak Cukit, Dekranasda OKI juga memperkenalkan sejumlah produk kerajinan khas daerah melalui stan pameran Kriyanusa 2026. Salah satu produk yang ditampilkan adalah kerajinan berbahan purun, tanaman yang banyak tumbuh di kawasan rawa dan telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat.

Pedamaran, salah satu wilayah di Kabupaten OKI, dikenal dengan tradisi kerajinan anyaman purun yang diwariskan secara turun-temurun. Bahan lokal tersebut diolah menjadi beragam produk, mulai dari tikar, tas hingga cenderamata.

Pengembangan desain menjadi salah satu cara untuk memperluas pemanfaatan kerajinan purun. Produk yang sebelumnya banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga kini juga berpotensi menjangkau pasar cenderamata, aksesori dan kebutuhan gaya hidup.

Kehadiran songket dan purun dalam satu ajang pameran memperlihatkan keragaman potensi ekonomi kreatif OKI. Keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama bertumpu pada keterampilan masyarakat, pemanfaatan sumber daya lokal dan kekayaan budaya daerah.

Kriyanusa 2026 Hadirkan 410 Stan dari Berbagai Daerah

Kriyanusa 2026 berlangsung pada 26–30 September 2026 di Jakarta Convention Center, Jakarta, dengan mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”.

Pameran ini menghadirkan 410 stan dengan 257 peserta dari berbagai unsur, antara lain Dekranas dan Dekranasda, kementerian dan lembaga, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta perajin dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan tersebut dibuka pada Sabtu (26/9/2026) oleh Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional, Ny. Selvi Gibran Rakabuming. Selain pameran produk kerajinan, agenda Kriyanusa juga mencakup peragaan busana, parade wastra, diskusi, lokakarya dan berbagai pengalaman digital.

Baca juga  Dugaan Pelanggaran Netralitas di OKI, Mantan Pejabat dan Perangkat Desa Dilaporkan ke Bawaslu

Dengan 410 stan dan 257 peserta, Kriyanusa memberikan ruang promosi bagi produk kerajinan daerah dalam satu kegiatan berskala nasional. Skala tersebut menjadi konteks penting bagi keikutsertaan OKI, meskipun data perbandingan jumlah transaksi, pengunjung maupun nilai penjualan antardaerah belum tersedia dalam bahan informasi kegiatan ini.

Inovasi Wastra dan Peluang Ekonomi Perajin OKI

Partisipasi Dekranasda OKI dalam Kriyanusa 2026 tidak hanya menjadi kesempatan memperkenalkan produk unggulan daerah, tetapi juga membuka ruang untuk memperluas jejaring promosi dan mengenalkan potensi perajin kepada konsumen di luar Sumatera Selatan.

Pengembangan Songket Bidak Cukit menjadi busana kasual memiliki relevansi dengan upaya memperluas segmen pengguna. Apabila desainnya dapat menyesuaikan kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan kualitas dan nilai budaya, wastra tradisional berpeluang memiliki fungsi yang lebih beragam, tidak terbatas pada kegiatan adat dan acara formal.

Dari sisi keberlanjutan, pengembangan kerajinan purun juga memiliki dimensi ekonomi masyarakat. Pemanfaatan bahan lokal dan keterampilan turun-temurun dapat menjadi modal bagi penguatan usaha kerajinan, sepanjang didukung inovasi produk, kualitas produksi, pemasaran dan akses pasar yang memadai.

Namun, keikutsertaan dalam pameran belum dengan sendirinya menunjukkan peningkatan penjualan atau kesejahteraan perajin. Dampak jangka panjang perlu dilihat dari tindak lanjut promosi, kemitraan usaha, permintaan pasar serta keberlanjutan produksi setelah kegiatan berakhir.

Satu hal yang menjadi perhatian adalah bagaimana warisan budaya dapat terus hidup melalui penggunaan nyata, bukan sekadar dipamerkan. Ketika generasi muda mulai mengenakan kain tradisional dalam aktivitas sehari-hari, peluang regenerasi pasar dan keberlanjutan keterampilan perajin juga dapat terbuka lebih luas.

Melalui Kriyanusa 2026, Dekranasda OKI memperkenalkan Songket Bidak Cukit dan kerajinan purun sebagai bagian dari kekayaan kriya daerah. Ke depan, kesinambungan inovasi, penguatan kualitas produk dan perluasan pemasaran menjadi aspek penting agar pengenalan di panggung nasional dapat berlanjut menjadi peluang ekonomi bagi para perajin di Kabupaten Ogan Komering Ilir. (Timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here