
KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id — Palembang kembali menunjukkan semangat gotong royong melalui aksi donor darah massal. Kali ini, ratusan guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Palembang turun langsung membantu memenuhi kebutuhan stok darah di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palembang.
Namun di balik keberhasilan memenuhi target 100 kantong darah dalam kegiatan tersebut, masih tersimpan persoalan yang belum sepenuhnya teratasi.
Sebab hingga kini, kebutuhan darah bagi pasien di berbagai rumah sakit di Palembang masih jauh lebih besar dibandingkan stok yang tersedia. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana kegiatan donor darah massal mampu menjadi solusi jangka panjang?
Kegiatan donor darah yang digelar Jumat (19/6/2026) merupakan hasil kolaborasi antara PMI Kota Palembang dan PGRI Kota Palembang. Pada pelaksanaan perdana ini, panitia menargetkan sedikitnya 100 kantong darah dan target tersebut berhasil dipenuhi.
Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani, mengatakan kerja sama dengan organisasi masyarakat maupun profesi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketersediaan darah.
Menurutnya, kegiatan donor darah bersama PGRI tidak berhenti pada satu momentum, tetapi direncanakan menjadi agenda rutin setiap tiga bulan.
“Kami berharap sosialisasi ini menjangkau seluruh pengurus dan anggota PGRI Kota Palembang sehingga semakin banyak guru yang bersedia menjadi pendonor,” ujar Dewi.
Ia mengungkapkan, stok darah PMI Kota Palembang saat ini berada di kisaran 5.000 kantong.
Sementara kebutuhan nyata untuk memenuhi permintaan rumah sakit mencapai sekitar 7.000 kantong darah setiap bulan.
Artinya, masih terdapat kekurangan sekitar 2.000 kantong darah yang harus dipenuhi melalui berbagai kegiatan donor darah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, kebutuhan transfusi darah terus bergerak mengikuti jumlah pasien yang menjalani operasi, melahirkan, kecelakaan, hingga penderita penyakit tertentu yang membutuhkan transfusi rutin. Kondisi tersebut membuat upaya menjaga ketersediaan darah menjadi pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, PMI terus menggandeng berbagai komunitas, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, hingga organisasi kemasyarakatan agar jumlah pendonor sukarela terus meningkat.
Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam donor darah masih menghadapi sejumlah tantangan. Sejumlah warga mengaku belum rutin mendonorkan darah karena kesibukan bekerja, minimnya informasi mengenai jadwal donor, hingga masih adanya rasa khawatir terhadap proses donor darah meski secara medis dinyatakan aman bagi pendonor yang memenuhi syarat kesehatan.
Ketua PGRI Kota Palembang, Ahmad Zulinto, mengatakan pihaknya tergerak setelah memperoleh informasi mengenai kondisi stok darah PMI yang masih mengalami kekurangan.
Menurutnya, guru memiliki peran tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga memberi contoh dalam aksi kemanusiaan.
“Kami mendapat informasi bahwa kebutuhan darah masih kurang sekitar 2.000 kantong. Karena itu kami ingin ikut membantu mengurangi kekurangan tersebut,” katanya.
Zulinto menjelaskan, kegiatan donor darah akan dijadikan agenda rutin setiap tiga bulan.
Jika pada pelaksanaan pertama berhasil mengumpulkan sekitar 100 kantong darah, maka pada kegiatan berikutnya PGRI menargetkan sedikitnya 200 kantong darah melalui sosialisasi yang lebih luas ke sekolah-sekolah.
“Kami akan terus mengajak seluruh anggota agar ikut berpartisipasi. Semakin banyak yang mendonor, semakin besar manfaatnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain membantu pasien yang membutuhkan transfusi, donor darah juga dinilai memberi manfaat kesehatan bagi pendonor apabila dilakukan sesuai ketentuan medis.
Meski demikian, tantangan menjaga stok darah tidak bisa hanya dibebankan kepada satu organisasi atau kegiatan donor tertentu.
Berdasarkan temuan di lapangan, kebutuhan darah bersifat dinamis dan dapat meningkat sewaktu-waktu, terutama ketika terjadi lonjakan pasien di rumah sakit atau kondisi darurat lainnya. Hal ini membuat keberlanjutan program donor sukarela menjadi faktor yang sangat menentukan.
Kolaborasi antara PMI dan PGRI menjadi langkah positif dalam memperkuat budaya donor darah di Kota Palembang.
Namun hingga kini, belum semua lapisan masyarakat memiliki kesadaran untuk menjadi pendonor rutin. Edukasi yang berkelanjutan, kemudahan akses kegiatan donor, serta keterlibatan lebih banyak komunitas diperkirakan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Apakah target peningkatan donor darah yang dicanangkan setiap tiga bulan mampu memperkecil defisit stok darah di Kota Palembang? Jawaban atas pertanyaan itu akan sangat bergantung pada konsistensi partisipasi masyarakat dalam aksi kemanusiaan tersebut. (Poerba)

















