
OKI, cimutnews.co.id — Musim kemarau belum mencapai puncaknya. Namun langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dipercepat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Di tengah ancaman El Niño yang diperkirakan memicu kemarau lebih panjang, pemerintah memperkuat sistem pengendalian karhutla berbasis teknologi melalui kerja sama Indonesia dan Republik Korea. Pertanyaannya, apakah kecanggihan teknologi benar-benar mampu mengurangi ancaman kebakaran di kawasan gambut yang selama ini menjadi titik rawan?

Penguatan tersebut dipusatkan di Forest and Land Fire Management Center yang berada di Markas Daops Manggala Agni OKI, Sepucuk, Kayuagung. Pusat kendali ini dirancang menjadi “otak” pengendalian karhutla dengan memanfaatkan sistem pemantauan digital secara real time.
Saat meninjau lokasi, Bupati Ogan Komering Ilir, Muchendi Mahzareki, menegaskan bahwa perubahan iklim menuntut cara kerja yang lebih adaptif dibandingkan pola penanganan konvensional selama ini.
Menurutnya, pengendalian karhutla bukan hanya soal pemadaman ketika api muncul, tetapi bagaimana potensi kebakaran dapat dideteksi lebih awal melalui dukungan teknologi, kesiapan personel, dan kolaborasi lintas sektor.
“Kerja sama ini menjadi momentum untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan pemanfaatan teknologi agar pengendalian karhutla lebih efektif,” ujarnya.
Namun, Bupati juga mengingatkan bahwa teknologi tidak akan berarti apabila sumber daya manusia di lapangan tidak siap mengoperasikannya.
Karena itu, peningkatan kapasitas petugas, perusahaan pemegang konsesi, hingga masyarakat dinilai menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari strategi pencegahan.
“Kesadaran masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar tetap menjadi faktor penting,” katanya.
Teknologi Bisa Membaca Gambut Sebelum Terbakar
Kepala Daops Manggala Agni OKI, Edi Satriawan, menjelaskan pusat pengendalian tersebut dilengkapi sistem pemantauan kelembapan lahan gambut secara real time.
Apabila tingkat kelembapan turun di bawah ambang batas 40 persen, sistem akan memberikan indikator meningkatnya potensi kebakaran sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.
Selain itu, teknologi tersebut mampu mendeteksi titik panas (hotspot), memantau pergerakan personel di lapangan, hingga menyajikan data pendukung bagi pengambilan keputusan secara cepat.
Pengembangan pusat kendali ini juga disertai pembangunan asrama petugas Manggala Agni sebagai bagian dari proyek Development of Forest and Land Fire Management System in South Sumatra hasil kerja sama Indonesia-Korea.
Gedung tersebut bahkan telah dimanfaatkan sebagai lokasi pelatihan internasasional penanggulangan karhutla gambut yang diikuti peserta dari enam negara pada April 2026.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…
Secanggih apa pun sistem yang dibangun, tantangan karhutla di Sumatera Selatan selama ini bukan semata persoalan teknologi.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran justru dipengaruhi kombinasi cuaca ekstrem, kondisi gambut yang mudah terbakar, akses menuju lokasi yang sulit, hingga aktivitas manusia yang masih membuka lahan dengan cara dibakar.
Di sejumlah wilayah rawan, proses pemadaman kerap menghadapi kendala karena titik api berada jauh dari sumber air maupun akses kendaraan pemadam.
Di sisi lain, kesiapan setiap kawasan juga belum sepenuhnya merata. Berdasarkan temuan lapangan pada sejumlah musim karhutla sebelumnya, diduga masih terdapat daerah yang membutuhkan penguatan sarana pendukung maupun peningkatan kapasitas masyarakat dalam deteksi dini.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah sistem teknologi yang kini dibangun mampu menjangkau seluruh wilayah rawan secara efektif ketika kebakaran terjadi secara bersamaan?
Pencegahan Dinilai Lebih Murah daripada Pemadaman
Sejumlah pelaku penanggulangan bencana menilai investasi pada sistem deteksi dini memang menjadi langkah yang lebih efisien dibandingkan biaya pemadaman ketika kebakaran sudah meluas.
Selain mengurangi kerusakan lingkungan, deteksi lebih awal juga dapat menekan potensi kabut asap yang selama ini berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, hingga transportasi.
Namun keberhasilan pendekatan tersebut tetap bergantung pada kecepatan respons petugas, koordinasi antarinstansi, serta kepatuhan seluruh pihak dalam menjalankan upaya pencegahan.
Tantangan Besar Masih Menanti
Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan salah satu wilayah yang memiliki hamparan lahan gambut cukup luas sehingga setiap musim kemarau selalu menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla.
Penguatan teknologi menjadi kabar positif, tetapi bukan akhir dari persoalan.
Hingga kini, belum semua tantangan pengendalian karhutla dapat dijawab hanya dengan perangkat digital. Faktor cuaca, kondisi geografis, kesiapan personel, pengawasan kawasan, hingga kesadaran masyarakat tetap menjadi mata rantai yang menentukan keberhasilan.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, efektivitas sistem baru ini akan benar-benar diuji ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Apakah kolaborasi teknologi, sumber daya manusia, dan kesadaran masyarakat mampu mencegah kebakaran besar sebelum terjadi, atau tantangan lama masih akan kembali terulang?
Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Manggala Agni, Diskominfo OKI serta hasil penelusuran lapangan CimutNews.
(Asep)

















