Beranda Nusantara Terungkap, Festival Internasional Digelar di Bandung, Namun Tantangan Pelestarian Budaya Masih Menjadi...

Terungkap, Festival Internasional Digelar di Bandung, Namun Tantangan Pelestarian Budaya Masih Menjadi Pertanyaan

8
0
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menerima delegasi peserta West Java International Fun Folk Festival 2026 di Pendopo Kota Bandung sebagai simbol persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya. (Foto: Holil/CimutNews).

BANDUNG, cimutnews.co.id — Bandung kembali menjadi panggung diplomasi budaya internasional. Delegasi dari empat negara hadir dalam West Java International Fun Folk Festival 2026, sebuah ajang yang digadang-gadang menjadi ruang mempererat persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya.

Namun di balik semarak pertunjukan budaya tersebut, muncul pertanyaan yang menarik untuk dicermati. Sejauh mana festival berskala internasional seperti ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya para pelaku seni lokal dan generasi muda yang menjadi sasaran utama pelestarian budaya?

Festival yang berlangsung di Pendopo Kota Bandung pada 19 Juli 2026 itu dihadiri delegasi dari Rusia, India, Malaysia, dan Filipina. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya sekaligus memperkuat jejaring kerja sama lintas negara.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan Kota Bandung memiliki sejarah panjang sebagai kota diplomasi dunia sejak Konferensi Asia Afrika. Menurutnya, nilai persaudaraan tersebut perlu terus diwariskan melalui seni dan budaya.

“Selamat datang di Kota Bandung. Kita berada di sebuah bangunan bersejarah yang menjadi simbol solidaritas Asia Afrika. Semangat persaudaraan yang lahir dari Bandung harus terus kita jaga melalui seni dan budaya,” ujar Farhan.

Ia menilai seni merupakan bahasa universal yang mampu menyatukan berbagai bangsa tanpa dibatasi perbedaan bahasa, suku maupun agama.

Farhan juga menyebut hubungan Indonesia dengan negara-negara peserta festival memiliki ikatan sejarah yang terus berkembang sehingga kolaborasi budaya dinilai penting untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat.

“Semua yang hadir di sini adalah satu keluarga besar. Kita dipersatukan oleh solidaritas Asia Afrika dan persahabatan antarbangsa. Inilah yang harus terus diwariskan kepada generasi muda,” katanya.

Pemerintah Kota Bandung berharap West Java International Fun Folk Festival dapat menjadi agenda rutin setiap tahun dengan cakupan peserta yang semakin luas.

Baca juga  Jelang Idulfitri, Pasar Simpang Balik Bener Meriah Ramai Pembeli, Pakaian Rp35 Ribu Diserbu Warga

Selain memperkuat diplomasi budaya, festival tersebut diharapkan mampu menjadi magnet wisata sekaligus meningkatkan eksistensi Kota Bandung sebagai salah satu pusat kegiatan seni dan budaya di Indonesia.

Meski festival budaya internasional terus bermunculan, sejumlah pelaku seni tradisional di berbagai daerah masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Berdasarkan temuan di lapangan dalam berbagai kegiatan budaya di Jawa Barat, keberlangsungan sanggar seni masih sangat bergantung pada dukungan komunitas dan kegiatan insidental. Tidak sedikit kelompok seni yang mengaku kesulitan melakukan regenerasi karena minat generasi muda belum sepenuhnya stabil.

Di sisi lain, festival internasional memang mampu menghadirkan perhatian publik dalam waktu singkat. Namun manfaat jangka panjang terhadap pelestarian budaya lokal masih menjadi pekerjaan bersama yang membutuhkan program berkelanjutan.

Hingga kini, belum semua komunitas seni memiliki akses yang sama untuk tampil dalam panggung berskala internasional. Kondisi tersebut memunculkan harapan agar penyelenggaraan festival berikutnya dapat melibatkan lebih banyak pelaku budaya dari berbagai daerah.

Suara dari Lapangan

Sejumlah pengunjung yang mengikuti rangkaian festival mengaku kegiatan seperti ini memberikan pengalaman baru karena dapat melihat langsung pertunjukan budaya dari berbagai negara.

Di sisi lain, beberapa pelaku seni berharap kegiatan internasional tidak hanya menjadi pertunjukan seremonial, tetapi juga membuka peluang kolaborasi, pembinaan, hingga promosi karya budaya lokal secara berkelanjutan.

Harapan tersebut dinilai penting agar manfaat festival tidak berhenti pada penyelenggaraan acara semata, melainkan mampu memberikan dampak ekonomi maupun sosial bagi komunitas seni.

Kolaborasi Lintas Komunitas

Founder Color of Indonesia, Vivi Sandra Putri mengatakan festival ini menjadi bukti bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat dari berbagai negara.

“Kami membuktikan bahwa melalui budaya kita bisa menjadi satu. Tahun ini hadir delegasi dari Rusia, Malaysia, India, dan Filipina. Mudah-mudahan tahun depan lebih banyak negara yang bergabung,” ujarnya.

Baca juga  Sosialisasi Gempur Rokok Ilegal,Satpol PP Kota Blitar Beri Edukasi Pada Tokoh Masyarakat Berantas Rokok Ilegal

Festival ini terselenggara melalui kolaborasi Color of Indonesia, Lions Club District 307 B2, PP-LIPI Jawa Barat, berbagai komunitas seni budaya, serta dukungan Pemerintah Kota Bandung dan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat.

Farhan juga memberikan apresiasi kepada Lions Club atas kontribusinya dalam mendukung kegiatan kemanusiaan sekaligus pelestarian budaya.

Masih Menyisakan Pertanyaan

Bandung kembali menunjukkan posisinya sebagai kota yang memiliki sejarah kuat dalam diplomasi internasional melalui jalur budaya.

Namun demikian, hal ini juga menimbulkan pertanyaan yang layak menjadi perhatian bersama. Apakah festival budaya internasional yang terus berkembang ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi pelestarian budaya lokal, peningkatan kesejahteraan pelaku seni, serta regenerasi seniman muda, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab? (Holili)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here