PALEMBANG, cimutnews.co.id —Perjalanan hidup sering dimulai dari titik paling sederhana. Namun tidak semua kisah sederhana berakhir tanpa tanda tanya.
Nama Cik Ujang kini dikenal sebagai sosok yang berhasil menapaki dunia usaha dari nol. Lahir pada 2 Mei 1968 di Desa Lebak Budi, Merapi Barat, Kabupaten Lahat, ia tumbuh dalam keluarga sederhana dengan delapan bersaudara.
Sejak kecil, kehidupan di tepian Sungai Lematang dan kebun kopi membentuk karakter kerasnya. Pendidikan formal ia tempuh di SDN 12 Ulak Pandan, SMPN Lahat, hingga SMAN 2 Lahat sebelum memutuskan merantau ke Jakarta.
FAKTA UTAMA
Di ibu kota, kehidupan tidak berjalan mudah. Berdasarkan penelusuran informasi, ia sempat bekerja sebagai buruh gudang di pusat perbelanjaan hingga menjadi pekerja bengkel.
Pengalaman tersebut menjadi titik awal pembentukan mental kerja kerasnya.
PERNYATAAN & KLAIM PERJALANAN
Dalam berbagai kisah yang beredar, perjalanan ini disebut sebagai fase pembelajaran penting. Ia disebut belajar tentang ketekunan, disiplin, hingga manajemen sederhana dari pekerjaan kasar yang dijalaninya.
Tahun 1993, ia kembali ke Lahat. Alih-alih melanjutkan usaha keluarga di sektor kebun kopi dan karet, ia memilih jalur berbeda.
KONTRAS REALITA
Namun fakta di lapangan menunjukkan, keputusan beralih ke bisnis kayu bukan tanpa risiko besar.
Di sisi lain, sektor kayu pada era 1990-an dikenal penuh tantangan, mulai dari fluktuasi harga hingga akses distribusi yang tidak mudah bagi pelaku usaha baru.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana seorang pemuda desa dengan modal terbatas bisa menembus rantai bisnis tersebut?
Sejumlah pelaku usaha lokal yang enggan disebutkan namanya mengaku, bisnis kayu pada masa itu bukan sektor yang mudah dimasuki.
“Biasanya butuh jaringan kuat, bukan sekadar modal nekat,” ujar salah satu sumber.
Namun, pada 1997, satu truk kayu milik Cik Ujang berhasil menembus pasar Jakarta. Momen ini disebut-sebut sebagai titik balik penting dalam perjalanan usahanya.
Keberhasilan tersebut diduga tidak hanya ditopang oleh kerja keras, tetapi juga momentum pasar yang tepat serta kemampuan membaca peluang.
Usahanya kemudian berkembang melalui entitas Ayik Batu Gung. Pada periode 2009 hingga 2018, ia tercatat menjabat sebagai Komisaris di PT Ayik Batu Gung dan CV Ayik Batu Gung.
Peran ini menjadi fase penting dalam membangun kapasitas kepemimpinan dan jaringan bisnisnya.
Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana ekspansi usaha tersebut berkembang secara detail di tengah kompetisi sektor kayu yang ketat.
Kisah ini menunjukkan bahwa perjalanan dari nol memang mungkin terjadi.
Namun di balik cerita sukses tersebut, masih tersisa ruang yang belum sepenuhnya terjawab.
Hingga kini, publik mungkin masih bertanya: apakah keberhasilan itu murni hasil kerja keras semata, atau ada faktor lain yang turut berperan di balik layar? (Timred/CN)


















