
PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota Pagar Alam mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) Periode 103 yang akan berlangsung selama sekitar 40 hari, mulai 25 Juni hingga 5 Agustus 2026.
Sebanyak 540 mahasiswa akan diterjunkan dan disebar ke lima kecamatan di Kota Pagar Alam. Program ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di tingkat kelurahan maupun desa.
Audiensi persiapan KKN tersebut digelar di Ruang Rapat Besemah Tige (III) Kantor Wali Kota Pagar Alam, Selasa (9/6/2026), dan dipimpin oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdako Pagar Alam, Cholmin Heriyadi.
Dalam pertemuan itu, Pemkot Pagar Alam menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pelaksanaan KKN Unsri sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
“Ini bukan pertama kalinya Unsri KKN di Kota Pagar Alam. Tentunya kami menyambut hangat kedatangan adik-adik mahasiswa dari Universitas Sriwijaya. Pemerintah kota bersama unsur kecamatan dan kelurahan siap membantu menyukseskan program ini agar berjalan aman dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Pagar Alam,” ujar Cholmin Heriyadi.
Kehadiran ratusan mahasiswa tersebut diharapkan membawa berbagai inovasi dan gagasan baru yang dapat membantu masyarakat dalam bidang pendidikan, ekonomi, lingkungan maupun pengembangan potensi lokal.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan program KKN tidak selalu diukur dari jumlah mahasiswa yang diterjunkan.
Di sejumlah wilayah, program serupa kerap menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu pelaksanaan, minimnya kesinambungan program setelah mahasiswa kembali ke kampus, hingga belum optimalnya pemanfaatan potensi yang telah dipetakan selama kegiatan berlangsung.
Di sisi lain, sejumlah warga yang pernah menerima program KKN mengaku kehadiran mahasiswa memang membantu berbagai aktivitas masyarakat, terutama dalam kegiatan sosial dan edukasi. Meski demikian, manfaat jangka panjang dari program yang dijalankan sering kali masih menjadi bahan evaluasi.
Berdasarkan temuan di lapangan pada pelaksanaan KKN di berbagai daerah sebelumnya, keberhasilan program biasanya sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat setempat serta dukungan pemerintah tingkat kecamatan dan kelurahan.
Dengan jumlah peserta mencapai 540 mahasiswa, distribusi program kerja yang merata menjadi tantangan tersendiri. Apalagi setiap wilayah di Pagar Alam memiliki karakteristik kebutuhan yang berbeda, mulai dari sektor pertanian, pariwisata, UMKM hingga pengembangan sumber daya manusia.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana program-program yang nantinya dibawa mahasiswa mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat di masing-masing wilayah penempatan.
Belum ada penjelasan rinci mengenai fokus utama program kerja yang akan dijalankan oleh para mahasiswa selama 40 hari berada di tengah masyarakat. Padahal, aspek tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur dampak nyata dari kegiatan KKN.
Pemerintah daerah sendiri berharap keberadaan mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan akademik semata, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Hingga kini, belum semua gambaran mengenai program yang akan dijalankan dipublikasikan secara detail kepada masyarakat.
Apakah kehadiran ratusan mahasiswa Unsri kali ini akan mampu melahirkan program yang benar-benar berkelanjutan dan berdampak nyata bagi warga Pagar Alam, atau justru kembali menjadi kegiatan rutin tahunan yang manfaatnya hanya dirasakan sementara waktu? Pertanyaan tersebut masih menunggu jawaban setelah program KKN resmi berjalan akhir Juni mendatang. (Hafis)

















