
OKI, cimutnews.co.id — Tepuk tangan dan penghargaan menjadi penutup perjalanan Paskibraka Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia 2026.
Namun, tugas mengibarkan hingga menurunkan Sang Merah Putih bukan sekadar seremoni yang selesai ketika upacara berakhir.
Di balik barisan yang tampak rapi, terdapat proses panjang berupa latihan, kedisiplinan, kelelahan, ketekunan, hingga tanggung jawab yang harus dijalankan para pelajar terpilih.
Pertanyaannya, setelah bendera diturunkan dan rangkaian peringatan kemerdekaan berakhir, apa yang akan dibawa para anggota Paskibraka dari pengalaman tersebut?
Apresiasi Setelah Tugas Dituntaskan
Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki memberikan apresiasi kepada anggota Paskibraka dalam Malam Ramah Tamah Kenegaraan HUT ke-81 RI Kabupaten OKI.
Penghargaan juga diberikan kepada para penari massal, pelatih, pembina, koreografer, guru, TNI-Polri, panitia, serta berbagai pihak yang terlibat dalam rangkaian peringatan kemerdekaan.
Muchendi menilai keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut tidak terjadi secara instan.
“Secara khusus penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada adik-adik Paskibraka, para penari massal, panitia dan seluruh petugas yang telah memberikan yang terbaik dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Muchendi.
Menurut dia, penampilan yang terlihat dalam upacara merupakan hasil dari proses panjang.
Ada latihan yang harus dijalani, disiplin yang harus dijaga, rasa lelah yang harus ditahan, hingga pengorbanan waktu yang tidak sedikit.
“Di balik penampilan yang sudah dilakukan tadi, kami semua tahu bahwa ada proses yang panjang. Ada latihan, ada kedisiplinan, sudah pasti lelah. Untuk semua pengorbanan itu kami menaruh rasa bangga dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujarnya.
Bukan Sekadar Seremoni
Pesan yang disampaikan Muchendi sebenarnya tidak berhenti pada penghargaan.
Ia mendorong pengalaman menjadi Paskibraka agar tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sebuah upacara kenegaraan.
Para pelajar diharapkan menjadikan pengalaman tersebut sebagai bekal untuk membangun karakter, menjaga integritas, berprestasi, dan menghasilkan karya nyata.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan dalam konteks yang lebih luas. Pengalaman menjadi Paskibraka hanya berlangsung dalam periode tertentu, sementara tantangan generasi muda untuk menunjukkan prestasi dan integritas berlangsung jauh lebih panjang.
Karena itu, nilai penting dari kegiatan tersebut justru berada setelah seremoni selesai.
Apakah kedisiplinan yang dibentuk selama latihan akan terus terbawa ke sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat, hingga kehidupan mereka setelah lulus?
Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana pengalaman seremonial dapat diterjemahkan menjadi pembentukan karakter yang berkelanjutan.
Guru dan Orang Tua Juga Punya Peran
Muchendi juga menyampaikan apresiasi kepada para guru yang mendukung keterlibatan siswa dalam berbagai rangkaian peringatan kemerdekaan.
Dukungan sekolah menjadi bagian penting karena para anggota Paskibraka dan peserta kegiatan lainnya harus membagi waktu antara pendidikan dan tugas dalam agenda kenegaraan.
Para penari massal pun mendapat penghargaan karena ikut menghadirkan semarak dalam perayaan HUT RI di OKI.
Menurut pemerintah daerah, keterlibatan generasi muda tersebut bukan hanya memperindah rangkaian acara, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap daerah dan bangsa.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa semangat tersebut membutuhkan kesinambungan agar tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai bentuk program lanjutan yang secara khusus akan menghubungkan pengalaman Paskibraka dengan pembinaan prestasi, kepemimpinan, atau pengembangan kapasitas para pelajar setelah rangkaian HUT RI berakhir.
Dari Pengalaman Menjadi Prestasi
Bagi Muchendi, momentum peringatan kemerdekaan harus menjadi pengingat bagi generasi muda tentang perjuangan para pahlawan.
Ia berharap para pelajar tidak hanya menghormati sejarah, tetapi mampu meneruskan perjuangan tersebut dalam bentuk yang relevan dengan zaman.
“Kita ingin generasi ke depan menjadi generasi yang mampu menghormati para pejuang, menghormati para pahlawan, tetapi juga siap meneruskan perjuangan yang sudah dilakukan. Terus berprestasi, menjaga integritas dan menghasilkan karya nyata di masa yang akan datang,” ujarnya.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan Paskibraka seharusnya tidak hanya dilihat dari sempurna atau tidaknya pelaksanaan upacara.
Ada ukuran lain yang jauh lebih panjang: apa yang dilakukan para pelajar setelah mereka kembali ke sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Jika pengalaman tersebut mampu membentuk pribadi yang disiplin, bertanggung jawab dan berprestasi, maka seremoni kemerdekaan memiliki dampak yang lebih jauh dari sekadar satu hari upacara.
Sebaliknya, jika pengalaman itu hanya berhenti pada seragam, barisan dan penghormatan bendera, maka sebagian besar nilai pembelajarannya berpotensi ikut berakhir ketika rangkaian acara selesai.
Pesan untuk Generasi Muda OKI
Muchendi berharap pengalaman para anggota Paskibraka dalam peringatan HUT ke-81 RI menjadi kenangan yang melekat sepanjang perjalanan mereka.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada anak-anakku Paskibraka. Mudah-mudahan di masa yang akan datang menjadi generasi penerus yang bisa membanggakan keluarga, daerah dan bangsa negara Indonesia,” kata Muchendi.
Malam Ramah Tamah Kenegaraan kemudian menjadi ruang untuk menutup rangkaian kegiatan sekaligus mempererat hubungan antara pemerintah, pelajar, sekolah, TNI-Polri, panitia dan masyarakat.
Tetapi pekerjaan membentuk generasi muda jelas belum selesai.
Pertanyaan berikutnya justru muncul setelah seluruh rangkaian perayaan kemerdekaan berakhir: apakah semangat, disiplin dan integritas yang dibangun selama menjadi Paskibraka akan benar-benar menjadi kebiasaan dalam kehidupan mereka, atau hanya menjadi kenangan dari satu momentum peringatan kemerdekaan?
Jawabannya tentu tidak ditentukan oleh satu malam ramah tamah.
Waktu dan karya para pelajar OKI setelahnya yang akan menunjukkan seberapa jauh pesan kemerdekaan itu benar-benar hidup. (Asep)

















