Beranda Nusantara Terungkap, Tradisi Hajat Bumi di Purwakarta Masih Jadi Perekat Warga Desa

Terungkap, Tradisi Hajat Bumi di Purwakarta Masih Jadi Perekat Warga Desa

23
0
Warga Desa Linggamukti mengarak dongdang berisi hasil bumi saat Tradisi Hajat Lembur di Purwakarta. (foto: Ujang/cimutnews.co.id)

PURWAKARTA, cimutnews.co.id —Tradisi tahunan kembali digelar meriah di Desa Linggamukti, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.
Warga tumpah ruah memadati jalan desa sambil memikul dongdang berisi hasil bumi.

Namun di tengah derasnya modernisasi desa dan perubahan gaya hidup masyarakat, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan: apakah tradisi gotong royong seperti ini masih benar-benar bertahan kuat di kehidupan warga sehari-hari?

Sejak pagi, suasana Desa Linggamukti tampak berbeda.
Pundak-pundak warga memikul hasil tani, sementara iring-iringan gunungan hasil bumi bergerak perlahan di sepanjang jalan desa dalam rangka Milangkala Desa Linggamukti ke-45, Selasa (19/5/2026).

Tradisi Hajat Lembur atau Hajat Bumi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan keberkahan alam yang mereka rasakan selama setahun terakhir.

Kepala Desa Linggamukti, Toto Iskandar, mengatakan kegiatan itu merupakan agenda rutin tahunan yang terus dipertahankan oleh masyarakat desa.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya seremoni budaya, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.

“Ini bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan hasil bumi sekaligus menjaga kebersamaan warga,” ujarnya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, tradisi semacam ini kini mulai menghadapi tantangan baru.
Sejumlah warga mengaku budaya gotong royong perlahan mulai berkurang dalam aktivitas harian, terutama di kalangan generasi muda yang lebih banyak beraktivitas di luar desa.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan saat acara tradisi berlangsung.
Kebersamaan yang biasanya jarang terlihat justru kembali muncul ketika warga berkumpul membawa hasil tani, memasak bersama, hingga mengarak dongdang keliling desa.

“Kalau acara seperti ini, warga jadi kompak lagi. Anak-anak muda juga ikut turun,” kata Rahmat (46), salah seorang warga setempat.

Berdasarkan temuan di lapangan, suasana kekeluargaan memang masih terasa kuat selama pelaksanaan Hajat Lembur berlangsung.
Warga tampak bahu membahu menyiapkan acara tanpa sekat usia maupun latar belakang ekonomi.

Baca juga  Mahasiswa Soroti Ketidakhadiran Ketua DPRD Lubuklinggau Saat Demo Pendidikan, Dinilai Abaikan Aspirasi Rakyat

Aroma makanan khas desa menyeruak di sepanjang jalan.
Tawa warga bersahutan di sela arak-arakan hasil bumi yang menjadi pusat perhatian masyarakat.

Namun sejumlah warga juga mengaku khawatir tradisi semacam ini hanya ramai saat perayaan tahunan saja.
Sementara dalam kehidupan sehari-hari, interaksi sosial antarwarga disebut mulai berubah akibat perkembangan teknologi dan kesibukan ekonomi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah tradisi budaya lokal masih mampu menjadi benteng sosial masyarakat desa di tengah perubahan zaman yang semakin cepat?

Pengamat sosial budaya lokal menilai, tradisi seperti Hajat Bumi memiliki fungsi lebih dari sekadar acara adat.
Selain menjaga identitas budaya, kegiatan tersebut dinilai mampu memperkuat solidaritas sosial masyarakat pedesaan yang mulai tergerus modernisasi.

Hingga kini, tradisi Hajat Lembur di Desa Linggamukti masih terus dipertahankan secara turun-temurun.
Namun apakah semangat gotong royong itu akan tetap hidup dalam keseharian warga, atau perlahan hanya menjadi agenda seremonial tahunan, masih menjadi perhatian banyak pihak. (Ujang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here