Beranda Ogan Ilir Dipuji Berkembang, Namun Fakta Lapangan UMKM Burai Masih Menyimpan PR

Dipuji Berkembang, Namun Fakta Lapangan UMKM Burai Masih Menyimpan PR

4
0
Ketua TP PKK Sumsel Feby Deru saat meninjau produk kerajinan tenun di Desa Burai. (foto: Sandi/cimutnews.co.id)

OGAN ILIR, cimutnews.co.id — Program pengembangan ekonomi kreatif desa kembali digaungkan.
Kunjungan pejabat dilakukan, produk dipuji, harapan dibangun.

Namun, benarkah semuanya sudah berjalan sesuai harapan?

Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Sumatera Selatan, Feby Deru, melakukan kunjungan ke Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (23/4/2026).

Kunjungan ini difokuskan pada pembinaan dan evaluasi produk ekonomi kreatif berbasis desa, khususnya sektor UMKM dan kerajinan lokal.

Berbagai produk ditinjau langsung, mulai dari kain tenun khas Burai, anyaman purun, hingga olahan makanan dari kelompok UP2K.

Dalam kunjungannya, Feby Deru menyampaikan apresiasi terhadap perkembangan para pelaku UMKM di Desa Burai.

Ia menilai produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi menembus pasar lebih luas, jika didukung peningkatan kualitas dan inovasi.

“Kemasan adalah wajah produk. Harus bersih, rapi, dan informatif. Proses produksi juga harus higienis,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pencantuman tanggal kedaluwarsa sebagai standar dasar untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebagian pelaku UMKM masih menghadapi tantangan mendasar.

Beberapa produk makanan olahan, misalnya, masih ditemukan dengan kemasan sederhana tanpa informasi lengkap seperti tanggal produksi maupun kedaluwarsa.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan oleh sebagian pengrajin yang mengaku masih kesulitan dalam pemasaran produk di luar desa.

Keterbatasan akses pasar dan minimnya pelatihan lanjutan menjadi kendala yang belum sepenuhnya teratasi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pembinaan yang dilakukan selama ini sudah menyentuh kebutuhan utama pelaku usaha?

Sejumlah pelaku UMKM mengaku senang dengan perhatian pemerintah, namun berharap ada tindak lanjut yang lebih konkret.

“Kalau ada pembinaan rutin atau bantuan pemasaran, mungkin produk kami bisa lebih dikenal,” ujar salah satu pengrajin yang enggan disebutkan namanya.

Baca juga  Bantuan Korban Kebakaran Ogan Ilir Disalurkan Polres dan Baznas, 500 Kg Beras Digelontorkan

Pengrajin lainnya menyebut, produksi berjalan, tetapi penjualan masih bergantung pada kunjungan wisata atau acara tertentu.

Kondisi ini menunjukkan adanya gap antara potensi dan realisasi.

Di satu sisi, Desa Burai telah dikenal sebagai desa wisata berbasis ekonomi kreatif. Namun di sisi lain, penguatan kapasitas pelaku UMKM tampaknya masih belum merata.

Dalam jangka pendek, keterbatasan kemasan dan standar produksi dapat menghambat daya saing produk di pasar modern.

Sementara dalam jangka panjang, tanpa dukungan distribusi dan branding yang kuat, produk lokal berisiko stagnan di pasar terbatas.

Fenomena di Desa Burai mencerminkan pola umum pengembangan UMKM di banyak daerah: kuat di produksi, lemah di hilirisasi.

Artinya, produk sudah ada, bahkan berkualitas, tetapi belum sepenuhnya didukung sistem pemasaran, branding, dan standar industri.

Jika tidak ditangani secara menyeluruh, program pengembangan ekonomi kreatif berpotensi hanya berhenti di tahap seremonial.

Kunjungan ini memang membawa semangat baru bagi pelaku UMKM di Desa Burai.

Namun hingga kini, belum semua tantangan terjawab secara konkret.

Apakah pembinaan ke depan akan lebih menyentuh kebutuhan riil pelaku usaha, atau justru kembali menjadi agenda rutin tanpa dampak signifikan?

(Sandi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here