
OKI, cimutnews.co.id – Apel siaga karhutla OKI digelar Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pada Rabu (22/4/2026), melibatkan 1.051 personel lintas sektor sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang 2026.

Kegiatan yang dipimpin Kapolda Sumatera Selatan ini menjadi sinyal penguatan kesiapsiagaan dini, terutama di wilayah rawan kebakaran lahan gambut yang berpotensi menimbulkan bencana asap lintas daerah.
Kesiapsiagaan Diperkuat Sejak Awal Kemarau
1.051 Personel Lintas Sektor Dikerahkan
Sebanyak 1.051 personel terlibat dalam apel siaga karhutla OKI. Mereka terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga masyarakat peduli api.
Seluruh peralatan dilaporkan dalam kondisi siap pakai, termasuk dukungan dari sektor swasta. Pemeriksaan ini mencakup kendaraan pemadam, pompa air, hingga sistem komunikasi lapangan.
Penekanan pada Pencegahan dan Deteksi Dini
Kapolda Sumatera Selatan, Sandi Nugroho, menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada seremoni.
Menurutnya, patroli terpadu dan percepatan verifikasi titik panas (hotspot) menjadi kunci utama dalam mengendalikan potensi kebakaran sejak dini.
“Apel ini bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk kesungguhan menyatukan langkah menghadapi karhutla,” ujarnya.
Karakteristik Gambut Jadi Tantangan Utama
Api Bawah Permukaan Sulit Dipadamkan
Wilayah OKI dikenal memiliki lahan gambut yang luas. Kondisi ini membuat api dapat menyebar di bawah permukaan tanah tanpa terdeteksi secara kasat mata.
Akibatnya, pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan memerlukan waktu serta biaya besar.
Pencegahan Lebih Efektif dari Penanganan
Kapolda menekankan bahwa pendekatan pencegahan jauh lebih efisien dibandingkan penanganan saat kebakaran sudah meluas.
Beberapa langkah yang ditekankan antara lain:
- Patroli rutin di wilayah rawan
- Edukasi masyarakat terkait larangan membakar lahan
- Monitoring hotspot berbasis teknologi
Status Siaga Darurat dan Langkah Pemda
Status Siaga Ditetapkan Sejak 14 April 2026
Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 14 April 2026.
Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, menyebut kebijakan ini sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi kemarau panjang.
Dukungan Anggaran dan Peralatan
Pemkab OKI juga menerima bantuan peralatan senilai Rp1,5 miliar dari Kementerian Lingkungan Hidup.
Selain itu, koordinasi dengan Kementerian Pertanian diperkuat, termasuk penyediaan pompa air untuk petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Simulasi dan Respons Cepat Diuji
Latihan Penanganan Karhutla
Sebagai bagian dari kegiatan, dilakukan simulasi penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Simulasi ini mencakup:
- Evakuasi dan pemadaman awal
- Koordinasi lintas sektor
- Penggunaan alat pemadam
Langkah ini bertujuan memastikan respons cepat dan terpadu ketika terjadi kebakaran nyata.
Ancaman Berulang Setiap Tahun
Berdasarkan tren nasional dalam beberapa tahun terakhir, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia cenderung meningkat saat musim kemarau panjang, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Pada periode sebelumnya, luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai puluhan ribu hektare dalam satu musim, dengan dampak kabut asap hingga lintas provinsi bahkan negara.
Hal ini menempatkan OKI sebagai salah satu wilayah prioritas dalam pengendalian karhutla nasional.
Ujian Nyata Ada di Lapangan
Kesiapsiagaan yang ditunjukkan dalam apel siaga karhutla OKI mencerminkan pembelajaran dari kejadian sebelumnya, di mana keterlambatan respons sering memperparah dampak kebakaran.
Namun, tantangan utama bukan hanya pada kesiapan personel dan peralatan, melainkan konsistensi patroli serta kepatuhan masyarakat terhadap larangan membakar lahan.
Dalam jangka pendek, langkah preventif seperti patroli dan edukasi dapat menekan jumlah titik api. Tetapi dalam jangka panjang, diperlukan perubahan pola pengelolaan lahan, terutama di sektor pertanian.
Karhutla di wilayah gambut seperti OKI bukan sekadar persoalan kebakaran biasa, melainkan krisis ekologis berulang yang membutuhkan pendekatan sistemik—menggabungkan teknologi, kebijakan, dan perubahan perilaku masyarakat.
Apel siaga karhutla OKI menjadi langkah awal menghadapi musim kemarau 2026 dengan kesiapan lintas sektor yang lebih terintegrasi. Namun, efektivitasnya akan sangat bergantung pada implementasi di lapangan serta kesadaran kolektif masyarakat dalam mencegah kebakaran sejak dini. (Asep)

















