
Palembang, cimutnews.co.id — Peringatan HUT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan ke-107, HUT Satpol PP ke-76, serta HUT Satlinmas ke-64 di Palembang berlangsung meriah dan penuh seremoni.
Namun di balik pujian terhadap tingginya kepercayaan publik kepada petugas pemadam dan aparat ketertiban, muncul pertanyaan lain yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab: apakah kondisi kerja dan dukungan di lapangan sudah benar-benar memadai?
Upacara gabungan yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Kamis (30/04/2026), dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri RI Akhmad Wiyagus, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, kepala daerah se-Sumsel, hingga jajaran Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas dari berbagai daerah di Indonesia.
Wali Kota Pagar Alam Ludi Oliansyah turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD).
Dalam amanatnya, Wakil Menteri Dalam Negeri menegaskan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan.
Menurutnya, Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas memiliki peran vital dalam menjaga ketertiban serta memberikan perlindungan langsung kepada masyarakat.
“Tingkat kepercayaan publik terhadap pemadam kebakaran dan penyelamatan bahkan telah mencapai lebih dari 90 persen,” ujar Akhmad Wiyagus.
Ia juga menyebut, sepanjang 2025 tercatat hampir 20 ribu penanganan kebakaran dan sekitar 122 ribu operasi penyelamatan kemanusiaan dilakukan petugas Damkar di berbagai daerah.
Data itu menunjukkan bahwa tugas petugas pemadam kini tidak lagi hanya memadamkan api, tetapi juga menangani evakuasi, penyelamatan korban, hingga situasi darurat lainnya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tingginya ekspektasi masyarakat terhadap Damkar dan aparat ketertiban belum selalu sejalan dengan kondisi fasilitas maupun beban kerja yang mereka hadapi.
Berdasarkan temuan di lapangan dan sejumlah keluhan yang kerap muncul di berbagai daerah, masih ada persoalan klasik seperti keterbatasan armada, minimnya personel, hingga peralatan yang diduga belum sepenuhnya memadai untuk menjangkau seluruh wilayah secara cepat.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian petugas yang mengaku harus bekerja dalam tekanan tinggi, terutama saat menghadapi kebakaran permukiman padat maupun bencana non-kebakaran.
“Kalau masyarakat lihatnya kami datang padamkan api. Tapi sebenarnya banyak risiko lain yang dihadapi di lapangan,” ujar salah satu petugas Damkar yang ditemui usai kegiatan dan meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah apresiasi dan tingginya kepercayaan publik juga sudah diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan, perlindungan kerja, dan fasilitas operasional bagi petugas di daerah.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Dalam Negeri yang telah menunjuk Palembang sebagai tuan rumah peringatan tiga institusi yang dinilai paling dekat dengan masyarakat tersebut.
Menurutnya, kehadiran Damkar, Satpol PP, dan Satlinmas memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas daerah dan keamanan masyarakat sehari-hari.
Namun hingga kini, belum semua daerah memiliki kesiapan sarana dan dukungan anggaran yang merata untuk menunjang tugas tiga institusi tersebut.
Kondisi ini diduga menjadi salah satu tantangan besar di tengah meningkatnya tuntutan pelayanan publik yang cepat dan responsif.
Peringatan besar di Jakabaring memang berlangsung khidmat dan penuh penghormatan bagi para petugas.
Tetapi di balik seremoni itu, masih ada pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai: bagaimana memastikan para petugas yang menjadi garda terdepan keselamatan masyarakat juga mendapatkan perlindungan dan dukungan yang layak?

















