Beranda Palembang Terungkap, Semangat Kebangsaan Pelajar Diuji di Tengah Gempuran Era Digital

Terungkap, Semangat Kebangsaan Pelajar Diuji di Tengah Gempuran Era Digital

12
0
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menghadiri pembukaan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI di Hotel Arya Duta Palembang. (foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI digelar meriah di Palembang dengan melibatkan pelajar dari berbagai daerah di Sumatera Selatan.

Namun di tengah semarak kompetisi tersebut, muncul pertanyaan yang mulai banyak dibicarakan: apakah pemahaman nilai kebangsaan generasi muda benar-benar sudah mengakar, atau masih sebatas seremoni tahunan?

Kondisi itu mencuat dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Arya Duta Palembang, Sabtu (2/5/2026), saat para peserta bersaing menunjukkan pemahaman mereka tentang Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Lomba Digelar Besar, Peserta Antusias

Ajang yang digagas MPR RI itu diikuti pelajar SMA/SMK/MA se-Sumatera Selatan. Kompetisi berlangsung kompetitif hingga menghasilkan sembilan sekolah terbaik yang lolos ke tahap berikutnya tingkat provinsi.

Beberapa sekolah yang berhasil melaju di antaranya SMAN Sumsel, SMA IGS Palembang, SMAN 1 Tanah Abang, SMAN 4 OKU, hingga SMKN 1 Prabumulih.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program nasional yang digelar serentak di 38 provinsi di Indonesia.

Pernyataan Resmi: Nasionalisme Disebut Jadi Benteng Generasi Muda

Wali Kota Ratu Dewa mengapresiasi pelaksanaan lomba tersebut. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar adu kecerdasan, tetapi menjadi investasi jangka panjang dalam menjaga persatuan bangsa.

Ia menyoroti derasnya arus informasi digital yang dinilai dapat memengaruhi cara berpikir generasi muda.

“Nilai kebangsaan harus tercermin dalam sikap dan perilaku, seperti toleransi, gotong royong, serta saling menghargai perbedaan,” ujarnya.

Ketua Ahmad Muzani juga menegaskan pentingnya generasi muda menjaga identitas bangsa di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Menurutnya, pelajar tidak cukup hanya cerdas secara akademik, tetapi juga harus memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…

Di balik semangat lomba yang berlangsung meriah, sejumlah pengamat pendidikan menilai tantangan terbesar justru berada di luar ruang kompetisi.

Baca juga  Herman Deru Resmikan 5.990 PPPK Paruh Waktu Pemprov Sumsel: “Kalian Sudah Bermetamorfosis Menjadi ASN”

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian pelajar saat ini lebih akrab dengan tren media sosial dibanding diskusi kebangsaan. Tidak sedikit yang memahami istilah viral digital lebih cepat dibanding substansi nilai Pancasila.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, pembentukan karakter kebangsaan masih menghadapi tantangan serius, terutama di era konsumsi informasi instan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah guru pendamping. Mereka mengaku kegiatan seperti ini memang penting, tetapi belum cukup jika tidak dibarengi pembinaan berkelanjutan di sekolah maupun lingkungan sosial.

“Kalau hanya lomba setahun sekali, dampaknya kadang cepat hilang. Tantangannya sekarang bagaimana nilai itu hidup dalam keseharian anak-anak,” ungkap salah satu guru peserta yang meminta namanya tidak dipublikasikan.

Pelajar Mengaku Tantangan Datang dari Media Sosial

Beberapa peserta mengaku materi 4 Pilar sebenarnya sudah dikenal sejak sekolah dasar. Namun implementasinya dinilai tidak mudah di tengah derasnya pengaruh media sosial.

Seorang peserta dari Palembang menyebut generasi muda saat ini lebih sering berdebat di media sosial dibanding berdiskusi secara langsung.

“Kadang toleransi itu gampang diucapkan, tapi praktiknya sulit ketika beda pendapat di internet,” ujarnya.

Hal ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah pendidikan kebangsaan saat ini sudah mengikuti pola komunikasi generasi digital, atau masih terjebak pendekatan formal semata?

Antara Seremoni dan Tantangan Nyata

Program penguatan 4 Pilar sejatinya menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjaga semangat persatuan nasional.

Namun tantangan generasi muda hari ini jauh berbeda dibanding satu dekade lalu. Paparan konten digital, polarisasi opini, hingga budaya instan dinilai membuat pendekatan pendidikan kebangsaan harus lebih adaptif.

Jika tidak, program yang dirancang besar-besaran berpotensi hanya menjadi agenda seremonial tanpa dampak jangka panjang.

Baca juga  MagangHub 2026 Didorong Merata ke Seluruh Provinsi, Kemnaker Targetkan Peluang Kerja Lulusan Muda Lebih Luas

Hingga kini, belum semua pihak melihat ukuran pasti sejauh mana kegiatan seperti lomba kebangsaan mampu memengaruhi perilaku generasi muda di kehidupan nyata.

Padahal, ancaman intoleransi dan polarisasi sosial masih menjadi isu yang terus muncul di ruang digital maupun lingkungan sosial.

Apakah kegiatan seperti ini mampu menjadi solusi jangka panjang, atau justru hanya menjadi simbol formal penguatan nasionalisme?

Pertanyaan itu tampaknya masih akan terus mengemuka. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here