Beranda Nusantara Ketergantungan Bandung pada TPA Sarimukti Masih Jadi Persoalan Besar

Ketergantungan Bandung pada TPA Sarimukti Masih Jadi Persoalan Besar

11
0
Tumpukan sampah di salah satu sudut Kota Bandung yang dikhawatirkan meningkat selama penghentian pengangkutan tiga hari. (foto: Siti/cimutnews.co.id)

BANDUNG, cimutnews.co.id — Layanan pengangkutan sampah di Kota Bandung resmi dihentikan sementara selama tiga hari.

Namun di balik kebijakan darurat itu, muncul kekhawatiran baru: bagaimana jika ribuan ton sampah benar-benar menumpuk di tengah kota?

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan sistem pengelolaan sampah Bandung yang selama ini disebut terus diperbaiki.

Pengangkutan Sampah Dihentikan

Pemerintah Kota Bandung menutup seluruh Tempat Penampungan Sementara (TPS) mulai Jumat (1/5/2026) hingga Minggu (3/5/2026).

Keputusan itu diambil setelah kuota mingguan pengiriman sampah ke TPA Sarimukti dinyatakan habis lebih cepat.

Akibatnya, armada pengangkut sampah tidak lagi memiliki akses pembuangan hingga awal pekan berikutnya.

Wali Kota Muhammad Farhan menyebut langkah tersebut sebagai kondisi yang tidak bisa dihindari.

“Kuota pengangkutan sampah kita untuk hari Kamis ini sudah habis. Jumat, Sabtu, Minggu kita tidak bisa melakukan pengangkutan lagi,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung.

Potensi 5.000 Ton Sampah Mengintai

Sebagai langkah antisipasi, seluruh gerbang TPS di Kota Bandung disebut telah digembok sejak Kamis malam.

Pemerintah berupaya mencegah sampah menumpuk liar di lokasi transit sebelum pengiriman ke TPA kembali dibuka pada Senin mendatang.

Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan sampah di Bandung masih sangat bergantung pada TPA Sarimukti.

Pemkot Bandung sendiri memperkirakan potensi tumpukan sampah selama tiga hari bisa mencapai sekitar 5.000 ton.

Angka tersebut muncul dari akumulasi sampah harian yang biasanya dikirim keluar kota.

Di Sisi Lain, Warga Mulai Khawatir

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian warga yang mengaku khawatir penutupan TPS justru memicu penumpukan sampah di lingkungan permukiman.

Sejumlah warga mengaku belum semua kawasan memiliki fasilitas pengolahan mandiri yang memadai.

Baca juga  Polres Blitar Tingkatkan Pelayanan Prima Melalui Mal Pelayanan Publik

“Kalau warga disiplin mungkin bisa tertahan, tapi biasanya ada saja yang buang sembarangan,” ujar seorang warga Kecamatan Coblong.

Berdasarkan temuan di lapangan, persoalan sampah liar di pinggir jalan masih kerap muncul saat pengangkutan mengalami keterlambatan.

Situasi itu diduga berpotensi kembali terjadi apabila pengawasan di tingkat lingkungan tidak berjalan optimal.

Program Pengolahan Mandiri Belum Maksimal

Pemkot Bandung sebenarnya terus mendorong program pengolahan mandiri seperti Kang Pisman dan budidaya maggot.

Namun kontribusi pengolahan rumah tangga saat ini disebut baru mampu menangani sekitar 22 persen dari total sampah harian.

Sementara itu, ketergantungan terhadap TPA Sarimukti masih mencapai sekitar 980 ton per hari.

Adapun kapasitas insinerator lokal disebut baru mampu menyerap sekitar 150 ton per hari.

Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah infrastruktur pengolahan sampah lokal benar-benar siap menghadapi kondisi darurat seperti sekarang.

Antara Imbauan dan Realita Kota Besar

Pemerintah meminta lurah, RT, dan RW bergerak lebih aktif untuk mendorong pengolahan sampah di tingkat lingkungan.

Warga juga diimbau menahan diri agar tidak membuang sampah ke pinggir jalan maupun area publik.

Namun fakta di lapangan menunjukkan pengelolaan sampah di kota besar tidak hanya bergantung pada imbauan, tetapi juga kesiapan fasilitas dan kedisiplinan kolektif.

Hingga kini, belum semua wilayah memiliki sistem pengolahan sampah mandiri yang efektif.

Apakah penghentian sementara ini akan menjadi momentum perubahan pengelolaan sampah Bandung, atau justru kembali memperlihatkan rapuhnya ketergantungan kota terhadap satu TPA utama? (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here