Beranda Nusantara Banjir Bandung Menurun, Tapi Ancaman Baru Mulai Terungkap

Banjir Bandung Menurun, Tapi Ancaman Baru Mulai Terungkap

4
0
Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menyebut luas wilayah terdampak banjir di kawasan Cekungan Bandung menurun dari sekitar 4.000 hektare menjadi 1.500 hektare setelah intervensi program Citarum Harum. (foto: Holil/cimutnews.co.id)

Fakta di Lapangan: Genangan Berkurang, Sedimentasi Sungai Justru Mengkhawatirkan

BANDUNG, cimutnews.co.id — Program penanganan banjir di kawasan Cekungan Bandung disebut mulai menunjukkan hasil. Luas wilayah terdampak banjir bahkan diklaim turun drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Namun di balik capaian itu, persoalan lain justru mulai muncul di lapangan. Sedimentasi sungai disebut meningkat dan diduga berpotensi memicu banjir kembali.

Lalu, apakah persoalan banjir Bandung benar-benar sudah teratasi?

Pemerintah Kabupaten Bandung mencatat luas genangan banjir di kawasan Cekungan Bandung kini menyusut dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menyebut program nasional Citarum Harum memberi dampak signifikan terhadap pengendalian banjir.

“Setelah ada intervensi dari pemerintah pusat melalui program Citarum Harum, yang tadinya 4.000 hektare, saat ini tinggal sekitar 1.500 hektare,” ujar Dadang, Senin (20/4/2026).

Penurunan itu dinilai menjadi salah satu indikator keberhasilan normalisasi sungai dan penataan kawasan aliran air di wilayah Bandung Raya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan persoalan belum sepenuhnya selesai.

Di sejumlah titik aliran sungai, sedimentasi atau pendangkalan disebut semakin meningkat. Kondisi tersebut diduga terjadi akibat minimnya pemeliharaan rutin di beberapa jalur sungai.

“Karena sedimentasi ini meningkat, tidak ada maintenance atau pemeliharaan, sehingga banjir terjadi kembali,” kata Dadang.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru. Jika luas genangan berhasil ditekan, mengapa ancaman banjir masih terus muncul setiap musim hujan?

Berdasarkan temuan di lapangan dan keterangan sejumlah warga, banjir memang tidak lagi berlangsung selama berminggu-minggu seperti sebelumnya. Namun genangan masih kerap terjadi ketika hujan deras turun dalam durasi panjang.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian warga di kawasan langganan banjir. Mereka mengaku debit air masih cepat meluap ketika aliran sungai tersumbat sampah dan lumpur.

Baca juga  Wapres Gibran Tinjau INACRAFT 2026, Dorong UMKM Kriya Naik Kelas hingga Pasar Global

“Sekarang memang lebih cepat surut, tapi kalau hujan besar tetap khawatir. Sungainya banyak endapan,” ungkap seorang warga kawasan Baleendah yang enggan disebutkan namanya.

Curah hujan tinggi juga disebut menjadi faktor yang memperberat kondisi di lapangan. Pemerintah daerah mengakui intensitas hujan ekstrem masih berpotensi membuat debit air meningkat secara tiba-tiba.

Meski demikian, durasi banjir diklaim mulai berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Memang waktunya yang dulu bisa satu bulan bahkan dua minggu, sekarang bisa satu minggu, bahkan tahun kemarin bisa dua hari. Tapi saat curah hujan tinggi, bisa melonjak lagi,” ujar Dadang.

Persoalan lain yang masih menjadi perhatian adalah sampah rumah tangga di aliran sungai. Pemerintah menilai penanganan banjir tidak cukup hanya mengandalkan proyek normalisasi, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat.

Sejumlah pihak menilai, tanpa pemeliharaan berkala dan pengawasan sedimentasi, efektivitas program pengendalian banjir bisa kembali melemah dalam beberapa tahun ke depan.

Hingga kini, belum semua persoalan di kawasan Cekungan Bandung benar-benar terselesaikan. Meski genangan disebut menurun, ancaman sedimentasi dan cuaca ekstrem masih menjadi bayang-bayang baru.

Apakah perbaikan ini akan bertahan dalam jangka panjang, atau justru kembali memunculkan siklus banjir yang sama? (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here