Beranda Palembang Lomba Empat Pilar Digelar Meriah, Namun Tantangan Nasionalisme Masih Mengintai

Lomba Empat Pilar Digelar Meriah, Namun Tantangan Nasionalisme Masih Mengintai

5
0
Wakil Gubernur Sumsel menghadiri pembukaan Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Hotel Aryaduta Palembang. (foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program penguatan wawasan kebangsaan kembali digaungkan di Sumatera Selatan.
Namun di tengah derasnya arus media sosial dan perubahan pola pikir generasi muda, muncul pertanyaan: apakah pemahaman Empat Pilar benar-benar sudah tertanam kuat di kalangan pelajar?

Sabtu (2/5/2026), Ballroom Hotel Aryaduta Palembang dipenuhi ratusan pelajar SMA, SMK, dan MA dari berbagai kabupaten/kota di Sumatera Selatan. Mereka mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI yang digelar sebagai bagian dari penguatan nilai kebangsaan di kalangan generasi muda.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dan turut dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang.

Dalam sambutannya, Cik Ujang menegaskan pentingnya pemahaman Empat Pilar MPR RI sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah perkembangan zaman.

“Kegiatan ini memiliki peran penting dalam menanamkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.

Empat Pilar yang dimaksud meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah berharap nilai tersebut tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun fakta di lapangan menunjukkan tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini tidaklah sederhana.

Berdasarkan penelusuran CimutNews.co.id dan hasil klarifikasi sejumlah peserta, sebagian pelajar mengaku lebih akrab dengan tren media sosial dibandingkan diskusi mengenai wawasan kebangsaan. Kondisi ini dinilai menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan dan pemerintah.

“Sekarang informasi sangat cepat. Kadang anak muda lebih fokus ke konten hiburan dibanding memahami sejarah atau nilai kebangsaan,” ungkap salah seorang peserta yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah guru pendamping. Mereka menilai kegiatan seperti LCC Empat Pilar masih relevan, tetapi membutuhkan pendekatan baru agar lebih dekat dengan pola pikir generasi digital.

Baca juga  Kurang dari 24 Jam, Polisi Ungkap Kasus Dugaan Pembunuhan di Tulung Selapan OKI

Menurut mereka, metode ceramah formal dinilai mulai kurang efektif jika tidak dibarengi inovasi yang lebih interaktif dan kontekstual.

“Kalau hanya hafalan, mungkin anak cepat lupa. Tapi kalau dikaitkan dengan realita yang mereka hadapi sehari-hari, biasanya lebih mudah dipahami,” ujar salah satu guru pendamping kepada CimutNews.co.id.

Situasi tersebut memunculkan kontras menarik.
Di satu sisi, pemerintah terus mendorong penguatan nasionalisme melalui berbagai program seremonial dan kompetisi edukatif. Namun di sisi lain, derasnya arus digital dan perubahan budaya komunikasi anak muda disebut perlahan menggeser perhatian generasi pelajar terhadap isu kebangsaan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana kegiatan serupa mampu benar-benar membentuk karakter generasi muda, bukan sekadar menjadi agenda tahunan?

Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa LCC Empat Pilar dirancang bukan hanya untuk kompetisi semata, tetapi juga menjadi sarana memperkuat wawasan kebangsaan pelajar melalui sesi tematik hingga rebutan cepat tepat.

Menurutnya, generasi muda harus memahami nilai dasar negara agar mampu menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin cepat.

Namun sejumlah pengamat pendidikan menilai penguatan karakter kebangsaan tidak cukup hanya dilakukan melalui lomba formal. Dibutuhkan kesinambungan pembelajaran di sekolah, lingkungan keluarga, hingga ruang digital yang kini menjadi konsumsi utama anak muda.

Hingga kini, isu penguatan nasionalisme di kalangan generasi muda masih menjadi perhatian banyak pihak.
Apakah kegiatan seperti LCC Empat Pilar mampu menjadi solusi jangka panjang, atau justru hanya menjadi seremoni tahunan yang perlahan kehilangan gaung di tengah era digital? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here