
PALEMBANG, cimutnews.co.id —Prestasi membanggakan datang dari tim muda Palembang Soccer Skills U9 yang sukses meraih posisi runner-up dalam ajang Piala Ajendam U-9 2026.
Turnamen yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Ajendam II Sriwijaya itu menjadi pengalaman perdana bagi skuad muda berjuluk Laskar Menyala tampil di kompetisi resmi.
Namun di balik pencapaian tersebut, muncul pertanyaan yang mulai ramai dibicarakan para pemerhati sepak bola usia dini di Palembang.
Apakah prestasi satu tim sudah cukup menggambarkan kondisi pembinaan sepak bola anak di daerah?
Dalam turnamen dengan sistem kompetisi penuh itu, SSB PSS U-9 berhasil mengoleksi empat poin dan finis di posisi kedua.
Pencapaian tersebut dinilai cukup mengejutkan mengingat sebagian besar pemain baru pertama kali merasakan atmosfer pertandingan kompetitif.
Tak hanya sukses secara tim, salah satu pemain muda mereka, Alim, juga tampil mencuri perhatian.
Pemain bernomor punggung 10 itu berhasil mencetak empat gol dari empat pertandingan sekaligus keluar sebagai top skor turnamen.
Keberhasilan ini membuat nama SSB PSS mulai diperbincangkan di kalangan pecinta sepak bola lokal.
Pelatih sekaligus pembina tim, Syaiful, menilai capaian runner-up menjadi modal penting bagi perkembangan mental pemain usia dini.
Menurutnya, target utama dalam pembinaan bukan sekadar mengejar trofi.
“Yang paling penting adalah anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding, jam terbang, dan menikmati sepak bola,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa turnamen usia dini memiliki peran besar dalam membentuk karakter, disiplin, dan kemampuan dasar pemain muda.
SSB PSS sendiri diketahui telah terafiliasi dengan PSSI dan menjalankan program latihan terstruktur di Lapangan Sepak Bola Komplek Auri Talang Betutu, Palembang.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, pembinaan sepak bola usia dini di sejumlah daerah masih menghadapi berbagai tantangan.
Sejumlah orang tua pemain mengaku kompetisi usia muda di Palembang belum berlangsung secara rutin dan merata.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan beberapa sekolah sepak bola kecil yang disebut masih terkendala fasilitas latihan hingga biaya operasional.
“Anak-anak semangat latihan, tapi kadang turnamen masih terbatas. Jadi kesempatan tampil belum terlalu banyak,” ujar salah satu wali pemain.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah pembinaan sepak bola usia dini di Sumatera Selatan sudah mendapat dukungan yang cukup untuk berkembang lebih luas?
Berdasarkan temuan di lapangan, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola anak sebenarnya cukup tinggi.
Saat turnamen berlangsung, ratusan orang tua dan warga terlihat memadati area pertandingan untuk memberikan dukungan langsung.
Namun sejumlah pelatih lokal mengaku masih berharap adanya kompetisi berjenjang yang lebih konsisten agar perkembangan pemain muda bisa terpantau.
“Kalau turnamen rutin, anak-anak lebih cepat berkembang karena mental tanding mereka terbentuk,” kata seorang pelatih sepak bola usia dini di Palembang.
Prestasi runner-up yang diraih SSB PSS U-9 memperlihatkan potensi besar sepak bola usia dini di Palembang.
Namun di sisi lain, keberhasilan satu tim juga memperlihatkan adanya kesenjangan pembinaan antar sekolah sepak bola.
Beberapa klub disebut sudah memiliki pelatih berlisensi dan program latihan terstruktur, sementara lainnya masih bertahan dengan fasilitas terbatas.
Situasi ini diduga membuat perkembangan talenta muda belum sepenuhnya merata.
Hingga kini, belum semua sekolah sepak bola usia dini memiliki akses kompetisi dan dukungan pembinaan yang sama.
Jika pembinaan dilakukan lebih serius dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin Palembang kembali melahirkan talenta sepak bola yang mampu bersaing di level nasional.
Namun pertanyaannya, apakah perhatian terhadap sepak bola usia dini akan terus berlanjut setelah euforia turnamen usai? (Poerba)

















