Beranda Olahraga Laga Kandang Terakhir Sumsel United Tak Digelar di Jakabaring

Laga Kandang Terakhir Sumsel United Tak Digelar di Jakabaring

4
0
Aktivitas di Stadion Bumi Sriwijaya jelang laga Sumsel United kontra Persekat Tegal. (foto: Poerba/cimtnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — aga kandang terakhir Sumsel United pada pekan ke-27 Pegadaian Championship 2025/2026 mendadak mengalami perubahan lokasi.

Pertandingan melawan Persekat Tegal yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring dipastikan dipindahkan ke Stadion Bumi Sriwijaya.

Keputusan tersebut langsung memunculkan pertanyaan di kalangan suporter. Pasalnya, laga kandang penutup musim biasanya menjadi momentum penting bagi tim maupun pendukung setia.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi?

Berdasarkan informasi yang diterima manajemen klub dan Local Organizing Committee (LOC), operator kompetisi resmi mengeluarkan surat perubahan venue pada Kamis (23/4/2026).

Alasan utama pemindahan disebut berkaitan dengan faktor keamanan serta padatnya agenda di kawasan Jakabaring Sport City pada hari yang sama.

Ketua LOC Sumsel United, Muhammad Fathony, menyebut terdapat sejumlah kegiatan berskala besar yang diprediksi menyedot ribuan pengunjung.

“Keputusan pemindahan venue ini merupakan hasil koordinasi dengan pihak kepolisian. Pada hari yang sama, ada beberapa agenda besar di kawasan Jakabaring yang berpotensi menimbulkan kepadatan massa,” ujarnya.

Pihak penyelenggara memastikan stadion pengganti telah melalui proses penilaian kelayakan.

Selain itu, Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Sumatera Selatan juga disebut telah melakukan assessment terhadap Stadion Bumi Sriwijaya.

Hasil penilaian menunjukkan stadion memperoleh nilai 84 dan dinyatakan memenuhi standar untuk menggelar pertandingan dengan kehadiran penonton.

Di sisi lain, agenda konser grup musik Ungu yang sebelumnya direncanakan berlangsung di Stadion Bumi Sriwijaya juga disebut ikut mempengaruhi perubahan skema penggunaan venue.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, perubahan venue mendadak seperti ini bukan pertama kali memunculkan kebingungan di kalangan penonton sepak bola daerah.

Sejumlah suporter mengaku baru mengetahui perpindahan stadion setelah informasi beredar di media sosial dan grup komunitas.

Baca juga  Liga Arena Palembang 2025 Resmi Bergulir, Momentum Kebangkitan Sepak Bola Usia Dini di Bumi Sriwijaya

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian pendukung yang sebelumnya telah menyiapkan perjalanan menuju kawasan Jakabaring.

“Kalau pindah mendadak begini, banyak yang harus atur ulang jadwal. Apalagi ini laga terakhir kandang,” ujar salah satu suporter yang enggan disebutkan namanya.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan kalender kegiatan di kawasan olahraga terbesar di Sumatera Selatan itu.

Sebab, dalam waktu bersamaan, kawasan JSC disebut menjadi pusat berbagai agenda besar yang diprediksi menghadirkan ribuan massa.

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian pedagang sekitar stadion juga mengaku terdampak perubahan lokasi pertandingan.

Beberapa pelaku usaha kecil yang biasa berjualan di area Jakabaring menyebut potensi keramaian pertandingan menjadi berkurang karena perpindahan venue.

“Biasanya kalau pertandingan di GSJ ramai. Sekarang pindah, otomatis kami ikut menyesuaikan,” kata seorang pedagang.

Meski begitu, sebagian warga menilai keputusan pemindahan venue tetap lebih aman dibanding memaksakan pertandingan di tengah kepadatan agenda besar.

Pemindahan venue ini memperlihatkan tantangan pengelolaan kawasan olahraga multifungsi seperti Jakabaring Sport City.

Di satu sisi, kawasan tersebut menjadi pusat event olahraga dan hiburan berskala besar.

Namun di sisi lain, padatnya agenda diduga membuat manajemen lalu lintas, keamanan, dan distribusi massa menjadi semakin kompleks.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah koordinasi jadwal antar-event selama ini sudah berjalan maksimal, atau justru masih menyisakan celah yang membuat perubahan mendadak sulit dihindari?

Hingga kini, belum semua suporter memahami detail alasan teknis perpindahan tersebut.

Meski pertandingan tetap berlangsung sesuai jadwal pada Sabtu (2/5/2026) pukul 15.30 WIB, perhatian publik kini tertuju pada bagaimana pengelolaan event besar di kawasan olahraga strategis Palembang ke depan.

Apakah kejadian serupa akan kembali terulang, atau justru menjadi evaluasi penting bagi penyelenggara? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here