
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Musibah kebakaran yang menghanguskan permukiman warga di kawasan Jalan Sultan Agung, RT 13 RW 03, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, masih menyisakan duka mendalam bagi para korban.
Pemerintah Kota Palembang memang telah turun langsung memberikan bantuan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sejumlah warga hingga kini masih harus bertahan di tempat pengungsian sementara setelah rumah mereka ludes dilalap api.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan, seberapa cepat proses pemulihan benar-benar bisa dirasakan warga terdampak?
Peristiwa kebakaran itu terjadi pada Minggu malam (10/5/2026) sekitar pukul 19.10 WIB. Api diduga cepat membesar dan merambat di kawasan permukiman padat penduduk hingga menghanguskan sedikitnya sembilan rumah warga.
Akibat kejadian tersebut, sebanyak 13 kepala keluarga terdampak dan kehilangan tempat tinggal.
Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, turun langsung meninjau lokasi kebakaran pada Selasa (12/5/2026).
Dalam kunjungannya, ia menyerahkan bantuan logistik darurat kepada warga terdampak sekaligus memastikan penanganan pascakebakaran berjalan.
“Kami memahami musibah ini bukan hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga meninggalkan trauma dan kesedihan bagi warga. Pemerintah Kota Palembang akan terus berupaya memberikan bantuan dan pendampingan agar masyarakat bisa bangkit kembali,” ujarnya.
Prima juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak mulai dari TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, BPBD hingga relawan yang dinilai bergerak cepat saat proses pemadaman berlangsung.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak kebakaran di kawasan padat penduduk.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan warga tidak berhenti setelah api padam.
Di lokasi kejadian, puing-puing bangunan yang terbakar masih terlihat berserakan. Sejumlah warga tampak mencoba menyelamatkan sisa barang yang masih bisa digunakan.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan para korban yang kini harus menumpang di rumah keluarga maupun kerabat karena belum memiliki tempat tinggal tetap.
Ketua RT setempat, Farizal, mengatakan sebagian besar warga terdampak masih berupaya menata ulang kehidupan mereka pascakejadian.
“Alhamdulillah bantuan ini sangat membantu warga kami. Terima kasih kepada Bapak Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan seluruh jajaran Pemkot Palembang yang sudah turun langsung membantu masyarakat,” katanya.
Meski bantuan darurat mulai disalurkan, sejumlah warga mengaku kebutuhan jangka panjang masih menjadi persoalan utama.
Selain kehilangan rumah, beberapa korban juga diduga kehilangan dokumen penting serta peralatan rumah tangga yang tidak sempat diselamatkan saat api membesar.
Kondisi ini kembali menyoroti persoalan kerentanan permukiman padat di kawasan perkotaan.
Diduga, faktor instalasi listrik dan jarak rumah yang berhimpitan menjadi salah satu penyebab api cepat menyebar. Namun hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait penyebab pasti kebakaran tersebut.
Pemerintah Kota Palembang sendiri mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap potensi kebakaran rumah tangga, khususnya akibat korsleting listrik maupun kelalaian penggunaan api.
“Kami mengimbau warga untuk rutin memeriksa instalasi listrik di rumah dan memastikan tidak ada sumber api yang ditinggalkan tanpa pengawasan,” tegas Prima.
Hingga kini, belum semua warga terdampak dapat memastikan kapan mereka bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Musibah ini bukan hanya soal rumah yang terbakar, tetapi juga tentang bagaimana korban harus memulai hidup dari awal.
Apakah proses pemulihan akan berjalan cepat, atau justru para korban harus menghadapi masa sulit lebih panjang, masih menjadi perhatian banyak pihak. (Poerba)

















