Beranda Palembang Car Free Day Dinilai Jadi Simbol Kota Modern Tapi Tantangan Lapangan Belum...

Car Free Day Dinilai Jadi Simbol Kota Modern Tapi Tantangan Lapangan Belum Hilang

2
0
Wakil Sekretaris PW GP Ansor Sumsel, Dodi Hari Utama, saat menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan CFD di Palembang.(Foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Car Free Day (CFD) di Kota Palembang kembali mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Agenda mingguan yang menghadirkan ribuan warga di ruang publik itu disebut mulai membentuk wajah baru kota yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Namun di tengah pujian tersebut, sejumlah persoalan di lapangan dinilai masih menjadi pekerjaan rumah. Mulai dari kedisiplinan pengunjung, kebersihan area CFD, hingga kesadaran sebagian masyarakat terhadap fungsi utama kegiatan itu.

Lalu, apakah CFD Palembang benar-benar telah menjadi simbol kota modern seperti yang digaungkan?

Wakil Sekretaris PW GP Ansor Sumatera Selatan, Dodi Hari Utama, S.E., M.M., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan CFD di Kota Palembang.

Menurutnya, CFD bukan lagi sekadar kegiatan olahraga mingguan, tetapi telah berkembang menjadi ruang sosial dan simbol transformasi perkotaan.

Ia menilai kualitas sebuah kota saat ini tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur maupun kepadatan aktivitas ekonomi, tetapi juga dari kualitas ruang hidup masyarakat.

“Masayarakat kini mampu menikmati udara bersih, ruang publik yang nyaman, serta interaksi sosial yang hangat dan inklusif. Inilah indikator kemajuan yang sesungguhnya,” ujar Dodi, Minggu (17/5/2026).

Dodi menyebut langkah masyarakat memenuhi jalanan tanpa kendaraan menjadi tanda meningkatnya kesadaran publik terhadap gaya hidup sehat dan lingkungan berkelanjutan.

Ia juga menilai CFD dapat menjadi identitas baru Kota Palembang sebagai kota modern yang lebih manusiawi dan berorientasi masa depan.

“Mendukung CFD berarti mengambil bagian dalam visi besar membangun Palembang sebagai kota berdaya saing dan berwawasan lingkungan,” katanya.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya antusiasme masyarakat menghadiri CFD hampir setiap pekan.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, pelaksanaan CFD di Palembang belum sepenuhnya lepas dari berbagai catatan.

Baca juga  Dukungan untuk ABK Mengalir Tapi Kebutuhan Sekolah Khusus Belum Sepenuhnya Terjawab

Berdasarkan pantauan di sejumlah titik CFD, masih ditemukan pengunjung yang diduga membuang sampah sembarangan usai beraktivitas. Di sisi lain, sebagian pedagang kaki lima juga mulai memenuhi area yang semestinya menjadi jalur nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Tak hanya itu, sejumlah warga mengaku kemacetan di ruas jalan sekitar lokasi CFD masih kerap terjadi, terutama pada jam-jam awal kegiatan berlangsung.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah konsep ruang publik sehat tersebut sudah benar-benar dibarengi kesiapan tata kelola yang matang

Rina, salah satu warga Palembang yang rutin mengikuti CFD, mengaku merasakan manfaat positif dari kegiatan tersebut.

“Kalau untuk olahraga dan kumpul keluarga memang bagus. Anak-anak juga senang,” ujarnya.

Namun ia berharap pengawasan terhadap kebersihan dan ketertiban lebih diperhatikan.

“Kadang selesai acara masih ada sampah berserakan. Kalau mau jadi ikon kota, harus lebih tertib lagi,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan pengunjung lain yang menilai CFD mulai menjadi ruang ekonomi baru, tetapi perlu pengaturan agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.

Fenomena CFD di berbagai kota besar memang kerap menghadirkan dua sisi berbeda.

Di satu sisi, kegiatan ini berhasil menciptakan ruang interaksi sosial yang sehat dan inklusif. Namun di sisi lain, meningkatnya keramaian juga memunculkan tantangan baru, mulai dari pengelolaan sampah hingga pengawasan aktivitas perdagangan liar.

Palembang dinilai sedang berada pada fase transisi menuju kota modern berbasis ruang publik. Akan tetapi, keberhasilan CFD bukan hanya ditentukan oleh tingginya jumlah pengunjung.

Kesadaran kolektif masyarakat dan konsistensi pengelolaan dinilai menjadi faktor penting agar program tersebut tidak hanya ramai secara simbolik, tetapi juga berdampak nyata bagi kualitas hidup warga.

Hingga kini, CFD Palembang masih menjadi salah satu ruang publik favorit masyarakat setiap akhir pekan.

Baca juga  Sumsel Jadi Tuan Rumah Kongres Nasional IKKI 2025: Herman Deru Dorong Kolaborasi Kesehatan dan Ketahanan Pangan

Namun di balik semangat menuju kota sehat dan modern, sejumlah tantangan di lapangan masih terus menjadi sorotan.

Apakah ke depan CFD Palembang mampu berkembang menjadi wajah baru kota yang tertib dan berkelanjutan, atau justru hanya menjadi keramaian rutin tanpa perubahan nyata? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here