Beranda Banyuasin Program Pangan Polisi Digencarkan, Namun Dampaknya Masih Dipertanyakan

Program Pangan Polisi Digencarkan, Namun Dampaknya Masih Dipertanyakan

6
0
Bhabinkamtibmas Polsek Makarti Jaya bersama warga menanam cabai keriting di Desa Salek Mukti, Banyuasin.(Foto:Noto/cimutnews.co.id)

BANYUASIN, cimutnews.co.id — Program ketahanan pangan kembali digelorakan hingga tingkat desa. Kali ini, jajaran Bhabinkamtibmas Polsek Makarti Jaya turun langsung mengajak warga menanam cabai keriting di Banyuasin.

Langkah tersebut disebut sebagai bentuk nyata dukungan terhadap program swasembada pangan nasional Presiden RI.

Namun di balik semangat penanaman bersama itu, muncul pertanyaan lain di tengah masyarakat: apakah gerakan seperti ini mampu memberi dampak jangka panjang bagi kesejahteraan warga dan petani kecil?

Personel Bhabinkamtibmas Polsek Makarti Jaya, Bripka Ahmad Supri Sukoco, melaksanakan kegiatan Program P2B (Program Pangan Bhabinkamtibmas) di Desa Salek Mukti, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Kamis (14/5/2026).

Kegiatan itu dilakukan di lahan milik warga bernama Wasis dengan luas sekitar 70 meter persegi yang dimanfaatkan untuk penanaman cabai keriting.

Program tersebut merupakan bagian dari dukungan Polri terhadap agenda swasembada pangan nasional yang terus digaungkan pemerintah pusat.

Dalam kegiatan itu, warga bersama aparat kepolisian terlihat bergotong royong mengolah tanah, menanam bibit, hingga melakukan penyiraman awal tanaman.

Bripka Ahmad Supri Sukoco mengatakan keterlibatan Polri dalam sektor pangan bukan hanya sebatas imbauan kepada masyarakat.

“Hari ini kami turun langsung ke sawah dan kebun warga. Bukan hanya sekadar imbauan, tapi kami bergerak bersama masyarakat,” ujarnya dalam laporan kegiatan.

Menurutnya, tanaman cabai keriting dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan dinilai dapat membantu ketahanan pangan masyarakat desa.

Kapolsek Makarti Jaya juga menegaskan program tersebut akan terus dilanjutkan di desa binaan lainnya di wilayah Banyuasin.

Program P2B disebut diharapkan menjadi gerakan masif yang tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.

Baca juga  Pemkab Banyuasin Siapkan THR ASN 2026, Tinggal Tunggu Juknis Kemenkeu Sebelum Dicairkan

Namun fakta di lapangan menunjukkan, program ketahanan pangan skala kecil di sejumlah desa sering menghadapi tantangan keberlanjutan.

Berdasarkan temuan di lapangan, sebagian warga mengaku program penanaman seperti ini memang membantu memotivasi masyarakat. Namun hasilnya dinilai belum tentu maksimal jika tidak dibarengi pendampingan jangka panjang, akses pupuk, hingga kepastian pasar hasil panen.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah petani kecil yang masih menghadapi persoalan harga komoditas yang fluktuatif dan biaya produksi yang terus meningkat.

Beberapa warga juga menilai luas lahan yang digunakan dalam kegiatan simbolis seperti ini masih relatif kecil dibanding kebutuhan nyata ketahanan pangan desa secara keseluruhan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah program pangan berbasis seremonial mampu berkembang menjadi gerakan ekonomi desa yang benar-benar berkelanjutan?

Wasis, pemilik lahan yang digunakan dalam kegiatan tersebut, mengaku senang karena ada perhatian langsung dari aparat kepolisian terhadap sektor pertanian warga.

“Kalau ada yang mendampingi begini, masyarakat jadi lebih semangat,” ujarnya.

Namun ia berharap dukungan tidak berhenti hanya pada penanaman awal saja.

“Yang penting nanti pendampingannya terus ada. Kadang masyarakat semangat di awal, tapi setelah itu terkendala modal dan perawatan,” katanya.

Warga lainnya juga berharap program seperti ini dapat diperluas dengan bantuan bibit, pupuk, hingga akses penjualan hasil panen.

Program pangan berbasis komunitas sebenarnya bukan hal baru di berbagai daerah Indonesia.

Namun keberhasilan program seperti ini sangat bergantung pada kesinambungan pendampingan dan dukungan nyata setelah kegiatan awal selesai.

Tanpa pengawasan rutin dan dukungan distribusi hasil panen, sejumlah program ketahanan pangan desa diduga hanya ramai pada tahap penanaman, tetapi perlahan berhenti di tengah jalan.

Di sisi lain, keterlibatan aparat keamanan dalam program sosial memang dinilai mampu meningkatkan kedekatan dengan masyarakat.

Baca juga  HIPMI Banyuasin Bidik Peluang Pelabuhan, Peran Nyata Dipertanyakan

Akan tetapi, hingga kini belum semua program ketahanan pangan berbasis desa mampu berkembang menjadi sumber ekonomi yang stabil bagi warga.

Program P2B yang digerakkan Polsek Makarti Jaya menjadi salah satu upaya membangun semangat swasembada pangan dari tingkat desa.

Namun di tengah optimisme tersebut, masyarakat masih menunggu sejauh mana program seperti ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan ketahanan pangan warga secara nyata.

Apakah gerakan pangan berbasis desa ini akan berkembang menjadi solusi jangka panjang, atau justru hanya menjadi kegiatan simbolis yang perlahan dilupakan? (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here