
BANDUNG, cimutnews.co.id – Suasana halaman kantor DPD Partai Golkar Jawa Barat di Jalan Maskumambang, Kota Bandung, mendadak ramai bukan karena agenda politik, melainkan aksi beberapa hewan kurban yang sempat lepas dan mencoba kabur menjelang penyembelihan, Rabu (27/5/2026).
Insiden itu langsung menyita perhatian warga yang sejak siang sudah mengantre pembagian daging kurban. Sejumlah panitia terlihat panik dan berlarian mengejar hewan kurban yang memberontak di tengah kerumunan warga.
Alih-alih ricuh, suasana justru berubah penuh gelak tawa. Teriakan panitia yang kewalahan bercampur reaksi spontan warga menciptakan momen tak terduga yang menghibur banyak orang di lokasi.
Beberapa warga bahkan terlihat mengabadikan kejadian tersebut menggunakan telepon genggam mereka. Situasi yang awalnya tegang perlahan mencair menjadi suasana akrab dan penuh canda.
Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Daniel Mutaqin, turut memantau langsung proses penyembelihan hewan kurban tersebut. Ia mengakui panitia sempat kewalahan menghadapi hewan yang sulit dikendalikan.
Namun, Kang Daniel memilih menanggapi situasi itu dengan santai. Di hadapan warga yang mengantre, ia bahkan melempar candaan yang langsung disambut tawa.
“Sudah lama menunggu di sini ya? Saya juga capek ibu-ibu, bapak-bapak, ngurus hewan kurban. Jadi kita sama-sama capek,” ujar Daniel.
Candaan spontan itu membuat suasana kembali cair. Warga yang sebelumnya hanya menunggu pembagian daging tampak lebih akrab berbincang dengan panitia maupun pengurus partai.
Hasil pantauan di lokasi menunjukkan, momentum kurban kali ini bukan hanya menjadi agenda pembagian daging semata, tetapi juga ruang interaksi sosial antara pengurus partai dan masyarakat sekitar.
Meski sempat diwarnai insiden kecil, proses penyembelihan hingga distribusi daging kurban tetap berjalan lancar. Panitia akhirnya berhasil mengendalikan hewan kurban yang sempat terlepas tanpa menimbulkan kerusakan maupun korban.
Di sela kegiatan, Daniel Mutaqin menegaskan bahwa Iduladha tidak seharusnya dimaknai sekadar seremoni tahunan atau panggung pencitraan politik.
Menurutnya, esensi kurban justru terletak pada nilai kepedulian sosial dan kebersamaan dengan masyarakat.
“Iduladha ini momentum berbagi dan mendekatkan diri kepada masyarakat. Bukan sekadar acara formal,” katanya. (Ujang)

















