
PEDAMARAN TIMUR, cimutnews.co.id — Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin di Desa Gading Raja, Kecamatan Pedamaran Timur, resmi dimulai melalui prosesi peletakan batu pertama yang dihadiri Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) H. Muchendi Mahzareki, Kamis (4/6).
Momentum tersebut menjadi kabar menggembirakan bagi masyarakat yang selama beberapa tahun terakhir berupaya mewujudkan rumah ibadah yang lebih representatif.
Namun di balik dimulainya pembangunan tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi agar masjid tidak hanya berdiri megah secara fisik, tetapi juga benar-benar hidup dan bermanfaat bagi masyarakat.
Hal inilah yang menjadi sorotan dalam sambutan Bupati Muchendi saat menghadiri kegiatan tersebut.
Menurutnya, semangat membangun masjid harus berjalan beriringan dengan komitmen untuk memakmurkannya setelah pembangunan selesai.
“Semangat membangun masjid harus sejalan dengan semangat memakmurkannya. Setelah berdiri nanti, masjid harus hidup dengan salat berjamaah, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya,” kata Muchendi.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan.
Di berbagai daerah, tidak sedikit rumah ibadah yang berhasil dibangun melalui gotong royong masyarakat, tetapi aktivitas keagamaannya belum berjalan optimal setelah bangunan selesai digunakan.
Karena itu, Bupati OKI menegaskan bahwa fungsi masjid harus lebih luas daripada sekadar tempat salat.
Masjid juga diharapkan menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan keagamaan, hingga ruang penguatan nilai sosial di tengah masyarakat.
Swadaya Warga Jadi Modal Utama
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin, Ahmad Jailani, mengungkapkan bahwa perjuangan membangun masjid tersebut tidak berlangsung singkat.
Selama tiga tahun terakhir, masyarakat secara bertahap menghimpun dana melalui infak dan sumbangan sukarela.
Hasilnya, hingga saat ini dana yang berhasil terkumpul mencapai sekitar Rp300 juta.
Selain uang tunai, sejumlah warga juga memberikan bantuan material berupa pasir, semen, dan besi untuk mendukung proses pembangunan.
“Alhamdulillah, hari ini pembangunan bisa dimulai setelah tiga tahun kami menghimpun dana dari masyarakat,” ujar Ahmad.
Meski demikian, kebutuhan pembangunan masih cukup besar.
Panitia memperkirakan dana yang dibutuhkan hanya untuk tahap awal pembangunan, mulai dari pondasi hingga berdirinya tiang utama masjid, mencapai sekitar Rp550 juta.
Artinya, masih terdapat kekurangan dana yang harus dipenuhi agar pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.
Antusiasme masyarakat dalam mendukung pembangunan rumah ibadah masih menjadi kekuatan utama di Desa Gading Raja.
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan fasilitas keagamaan yang memadai terus meningkat seiring bertambahnya jumlah jamaah.
Menurut panitia, bangunan masjid lama sudah tidak lagi mampu menampung jamaah saat momentum keagamaan besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, maupun kegiatan Ramadhan.
Kondisi tersebut mendorong masyarakat mengambil langkah swadaya meskipun kemampuan ekonomi warga tidak sepenuhnya merata.
Di sisi lain, keterbatasan pendanaan masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terjawab.
Hingga kini, belum semua kebutuhan pembangunan dapat dipenuhi dari dana yang telah terkumpul.
Karena itu, panitia masih membuka kesempatan bagi masyarakat, perusahaan, dan para dermawan untuk berpartisipasi.
Harapan pada Dunia Usaha
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Muchendi juga menyoroti pentingnya keterlibatan sektor swasta.
Ia berharap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Pedamaran Timur dapat ikut berkontribusi membantu percepatan pembangunan masjid.
Menurutnya, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha akan mempercepat terwujudnya fasilitas ibadah yang layak bagi warga.
“Kami berharap perusahaan yang berada di sekitar wilayah ini dapat ikut membantu. Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, pembangunan akan lebih cepat terwujud,” ujarnya.
Meski demikian, belum ada penjelasan rinci mengenai perusahaan mana saja yang akan dilibatkan maupun bentuk dukungan yang nantinya diberikan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana kontribusi sektor swasta dapat terealisasi dalam mendukung pembangunan fasilitas sosial dan keagamaan di wilayah tersebut.
Aspirasi Jalan Ikut Mengemuka
Menariknya, agenda pembangunan masjid juga menjadi ruang bagi warga menyampaikan persoalan lain yang mereka hadapi.
Dalam kesempatan itu, masyarakat turut menyampaikan aspirasi terkait kondisi infrastruktur jalan di Desa Gading Raja.
Bupati Muchendi memastikan pembangunan jalan akan dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masyarakat tidak hanya berkaitan dengan sarana ibadah, tetapi juga infrastruktur yang menunjang aktivitas ekonomi dan sosial sehari-hari.
Sejumlah warga yang ditemui mengaku berharap pembangunan masjid dan perbaikan jalan dapat berjalan beriringan sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas.
Menanti Masjid yang Benar-Benar Hidup
Kepala Desa Gading Raja, Budiyanto, mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung pembangunan melalui sumbangan dana maupun tenaga gotong royong.
Ajakan tersebut mendapat respons positif dari warga yang selama ini menjadi motor utama pembangunan.
Namun tantangan sesungguhnya mungkin baru akan dimulai ketika bangunan masjid selesai berdiri.
Apakah Masjid Baitul Muttaqin nantinya mampu menjadi pusat aktivitas keagamaan, pendidikan umat, dan pembinaan generasi muda seperti yang diharapkan?
Ataukah masih ada pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan agar semangat kebersamaan yang terlihat saat pembangunan tetap terjaga dalam jangka panjang?
Hingga kini, pertanyaan itu masih menjadi perhatian masyarakat yang menantikan hadirnya masjid baru sebagai simbol kebersamaan sekaligus pusat kehidupan keagamaan di Desa Gading Raja. (Asep)

















