Beranda OKI Mandira Akhlak Jadi Sorotan, Mampukah Kafilah OKI Pertahankan Prestasi MTQ Sumsel?

Akhlak Jadi Sorotan, Mampukah Kafilah OKI Pertahankan Prestasi MTQ Sumsel?

12
0
Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki melepas 90 anggota Kafilah Kabupaten OKI menuju MTQ Tingkat Provinsi Sumatera Selatan di Pendopo Kabupaten. (Foto: Diskominfo OKI/CimutNews).

OKI, cimutnews.co.id — di balik semarak ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), ada pertanyaan yang tak kalah penting: apakah pembinaan yang dilakukan benar-benar mampu melahirkan generasi Qurani yang menjadi teladan di tengah masyarakat?

Pertanyaan itulah yang mengemuka saat Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melepas 90 anggota kafilah menuju Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Sumatera Selatan di Kabupaten Lahat yang berlangsung pada 23 Juni hingga 2 Juli 2026.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki mengingatkan bahwa keberhasilan peserta tidak boleh hanya diukur dari jumlah medali maupun gelar juara yang berhasil dibawa pulang. Menurutnya, nilai utama MTQ justru terletak pada bagaimana peserta mampu mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Keberhasilan tidak hanya diukur dari gelar juara, tetapi dari semangat, kedisiplinan, kerja keras, dan akhlak yang ditunjukkan selama mengikuti perlombaan,” ujar Muchendi saat pelepasan kafilah di Pendopo Kabupaten OKI.

Ia juga menekankan bahwa ilmu Al-Qur’an yang dipelajari selama proses pembinaan seharusnya tidak berhenti di arena lomba.

“Prestasi tentu penting, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis menjadi bekal dalam menjalani kehidupan serta menjadi teladan di tengah masyarakat,” katanya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa MTQ bukan sekadar kompetisi membaca maupun menghafal Al-Qur’an, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter generasi muda.

Pembinaan Semakin Lengkap

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda OKI, M. Danni Oktaviano, menjelaskan sebanyak 90 orang diberangkatkan sebagai bagian dari kafilah Kabupaten OKI. Mereka terdiri dari 55 peserta, 15 pendamping dan official, serta 20 panitia.

Menariknya, tahun ini OKI mengikuti seluruh delapan cabang yang diperlombakan, mulai dari Tilawah Al-Qur’an, Tahfidz, Tafsir, Fahmil Qur’an, Syarhil Qur’an, Kaligrafi, Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ), hingga Musabaqah Hadits Nabi.

Baca juga  Pemkab OKI Dukung Polda Sumsel Wujudkan Swasembada Pangan Lewat Gerakan Tanam Jagung Serentak

Peserta pun berasal dari berbagai latar belakang. Tidak hanya pelajar, tetapi juga anggota Polri, aparatur sipil negara, hingga peserta penyandang disabilitas netra.

Menurut Danni, seluruh peserta telah menjalani pemusatan latihan dan pembinaan intensif bersama pelatih, akademisi, imam masjid, serta para pembina sesuai bidang masing-masing.

Hal tersebut menunjukkan adanya upaya memperkuat kualitas pembinaan agar prestasi Kabupaten OKI tetap mampu bersaing di tingkat provinsi.

Di balik semakin lengkapnya pembinaan, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah perlombaan usai.

Namun fakta di lapangan menunjukkan pembinaan karakter berbasis Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan besar, tidak hanya di Kabupaten OKI tetapi juga di berbagai daerah. Sejumlah pemerhati pendidikan Islam menilai bahwa semangat mengikuti MTQ sering kali lebih menonjol dibanding proses pendampingan berkelanjutan setelah peserta kembali ke lingkungan masyarakat.

Di sisi lain, sejumlah pelaku pendidikan keagamaan mengaku pembinaan membutuhkan kesinambungan, bukan hanya menjelang kompetisi. Ketersediaan pembina, dukungan keluarga, lingkungan sosial, hingga ruang aktualisasi bagi para alumni MTQ dinilai ikut menentukan keberhasilan membentuk generasi Qurani.

Belum ada penjelasan rinci mengenai pola pembinaan lanjutan pasca-MTQ yang akan diterapkan secara berkelanjutan kepada seluruh peserta.

Lebih dari Sekadar Mencari Juara

Bagi masyarakat, MTQ selama ini identik dengan perebutan gelar juara umum. Padahal substansi yang jauh lebih besar adalah lahirnya generasi yang mampu menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sosial.

Jika pembinaan mampu berjalan konsisten, MTQ bukan hanya melahirkan qari, hafiz, maupun penulis karya ilmiah Al-Qur’an, tetapi juga figur-figur muda yang berintegritas di tengah masyarakat.

Sebaliknya, apabila pembinaan hanya berorientasi pada capaian perlombaan, dikhawatirkan nilai-nilai yang dibangun selama proses latihan tidak berkembang secara maksimal setelah kompetisi selesai.

Baca juga  THR Guru PAI OKI Rp6,9 Miliar Tuntas Dibayar, Apresiasi Mengalir dari AGPAII

Hal ini menimbulkan pertanyaan, sejauh mana keberhasilan MTQ nantinya akan diukur? Apakah cukup melalui jumlah piala yang dibawa pulang, atau justru dari lahirnya generasi Qurani yang benar-benar menjadi teladan bagi masyarakat?

Hingga kini, harapan besar itu masih menjadi pekerjaan bersama. Prestasi tentu membanggakan, namun menjaga agar nilai-nilai Al-Qur’an terus hidup dalam keseharian peserta akan menjadi tantangan yang jauh lebih panjang dibanding memenangkan sebuah perlombaan.

Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir melalui Diskominfo serta hasil penelusuran lapangan CimutNews.

(Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here